BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Pawai karnaval dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kota Pangkalpinang tak hanya menjadi ajang unjuk kreativitas peserta.
Pesan tentang kepedulian terhadap lingkungan turut disuarakan melalui berbagai kreasi yang ditampilkan di sepanjang rute pawai, Kamis (27/8/2026).
Salah satunya datang dari Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Pangkalpinang.
Para siswa bersama guru membawa sebuah miniatur yang mengangkat isu kerusakan lingkungan di Bangka Belitung, khususnya dampak aktivitas tambang inkonvensional (TI) ilegal terhadap alam.
Miniatur tersebut dilengkapi aktivitas pertambangan dan gambaran kondisi ekosistem laut. Tidak hanya itu, mereka juga membuat miniatur gurita dengan detail yang menjadi bagian dari konsep yang ditampilkan.
Pesan yang ingin disampaikan cukup jelas, yakni mengajak masyarakat bersama-sama menjaga kekayaan alam Bangka Belitung yang tidak hanya berasal dari daratan, tetapi juga laut.
Ketua Pelaksana Karnaval SLB Negeri Pangkalpinang, Syukur, mengatakan konsep tersebut disusun dengan menyesuaikan tema kemerdekaan, yakni Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur.
Menurutnya, kondisi Bangka Belitung sebagai daerah kepulauan dengan masyarakat yang banyak menggantungkan hidup dari laut menjadi alasan pihaknya memilih isu lingkungan sebagai pesan dalam karnaval.
"Bangka Belitung itu terdiri dari kepulauan, lebih banyak nelayan, dan Bangka Belitung juga terkenal dengan timah," kata Syukur kepada Bangkapos.com, Kamis (27/8/2026).
Ia mengatakan, belakangan ini persoalan pertambangan timah dan kerusakan alam menjadi perhatian. Karena itu, pihaknya ingin memanfaatkan momentum karnaval untuk mengajak masyarakat menjaga lingkungan, terutama ekosistem bawah laut.
"Dari kereta ini menyampaikan pesan bahwa ayo kita sama-sama melindungi Bangka Belitung dari kerusakan alam, dari TI ilegal dan lain sebagainya," ujarnya.
Menurut Syukur, kekayaan alam Bangka Belitung yang menjadi sumber kehidupan masyarakat harus dijaga bersama.
Sebab, kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini tidak hanya berdampak pada generasi sekarang, tetapi juga dapat mengancam kehidupan anak cucu di masa mendatang.
"Kalau tanpa kita lindungi, nanti masa depan anak-anak cucu kita bakalan suram. Karena Bangka Belitung itu terkenal kekayaan alamnya dari laut," katanya.
Pesan lingkungan tersebut tidak hanya diwujudkan melalui kereta hias.
Sekitar 30 siswa SLB Negeri Pangkalpinang turut ambil bagian dalam pawai. Mereka didampingi para guru selama mengikuti rangkaian kegiatan.
Syukur mengatakan, para siswa juga mengenakan berbagai kostum, termasuk kostum yang menggambarkan hewan.
"Nanti selain mereka mendorong yang utama, ada anak-anak pakai kostum hewan dan lain sebagainya," katanya.
Kehadiran para siswa SLB Negeri Pangkalpinang menjadi bagian dari semarak pawai karnaval HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Pangkalpinang.
Namun, di balik warna-warni kostum dan kemeriahan kendaraan hias, mereka membawa pesan yang lebih serius, kemerdekaan juga dapat dimaknai sebagai upaya menjaga lingkungan dan kekayaan alam daerah agar tetap lestari.
Melalui kreativitas anak-anak, isu tambang ilegal, kerusakan alam dan pentingnya menjaga habitat laut pun disampaikan kepada masyarakat yang menyaksikan pawai. (Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)