Laporan Wartawan TribunLombok.com, Rozi Anwar
TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK TIMUR - Peristiwa terbakarnya Rumah Adat Sade di Lombok Tengah menjadi alarm kewaspadaan bagi kawasan budaya lain di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Salah satu yang kini memperketat pengawasan adalah Kampung Adat Limbungan di Desa Perigi, Kecamatan Suela, Lombok Timur, yang memiliki kearifan lokal unik dalam mencegah kebakaran.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pariwisata Lombok Timur, Mirayang, mengungkapkan bahwa berdasarkan peninjauan langsung, masyarakat Limbungan telah lama menerapkan aturan ketat untuk melindungi rumah-rumah adat.
"Di Limbungan, kami melarang keras adanya kabel listrik yang melintas di atas bangunan adat. Semua instalasi listrik ditanam di bawah tanah," katanya pada Kamis (27/8/2026).
Langkah ini diambil sebagai bentuk kearifan lokal untuk meminimalkan risiko kebakaran.
Baca juga: Dewan Soroti Warga Sade Mulai Tinggal di Tenda Pascakebakaran
Meskipun listrik sudah masuk ke kawasan tersebut, pemanfaatannya dibatasi secara ketat. Penerangan hanya diizinkan di dalam ruangan. Tidak ada satu pun lampu yang dipasang di bagian luar bangunan.
"Lampu hanya boleh menyala di dalam rumah. Di luar, gelap," ujarnya.
Jumlah rumah adat di Limbungan bahkan melampaui Sade. Di lingkungan Barat terdapat sekitar 120 unit, sementara di lingkungan Timur mencapai 125 unit.
"Setiap rumah juga dilengkapi lumbung padi sebagai bagian dari kompleks tradisional yang utuh," jelasnya.
Namun, kekayaan budaya yang melimpah ini belum sebanding dengan tingkat kunjungan wisatawan. Limbungan masih jauh lebih sepi dibandingkan Sade yang sudah mendunia.
Mirayang menyebut sejumlah kendala menghambat pengembangan kawasan ini, seperti akses jalan yang sempit meski sudah beraspal hotmix, minimnya tempat parkir, dan sulitnya akses air bersih.
"Jalannya memang sudah hotmix, tapi kecil. Kalau ada bus, pasti kesulitan. Belum lagi persoalan air bersih yang harus diambil dari lokasi cukup jauh," tutur Mirayang.
Kendala lainnya adalah renovasi atap dari alang-alang yang hanya bertahan 3-4 tahun dan ketersediaannya yang semakin langka.
Selain itu, sekitar 40 persen warga telah memilih tinggal di rumah modern, meninggalkan rumah adat yang berpotensi rusak jika tak terawat.
Meski begitu, semangat gotong royong masih kuat. Warga bergiliran menjaga kawasan setiap siang dan malam. Kawasan juga dilengkapi pintu masuk dan ruang pertemuan untuk musyawarah adat.
Pemerintah pun pernah mengalokasikan anggaran penataan sekitar Rp2 miliar yang kini perlu diperbarui sesuai kebutuhan.
Mirayang menekankan, pengembangan Limbungan tidak boleh mengorbankan nilai-nilai adat.
"Pengunjung datang untuk melihat budaya dan sejarah. Kami ingin pariwisata berjalan selaras dengan pelestarian," pungkasnya.
(*)