Wamendagri Bima Arya: Generasi Muda Hadapi Era AI dengan Tiga Kompetensi
Mochammad Dipa August 27, 2026 03:44 PM

TRIBUNBEKASI.COM, CIPUTAT – Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menyebut generasi muda perlu menguasai tiga kompetensi utama untuk menghadapi perkembangan teknologi dan kecerdasan artifisial (AI).

Ketiga kompetensi tersebut yakni digital skills, thinking skills, dan human skills. Bima menilai ketiganya menjadi bekal penting agar generasi muda tidak hanya mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir dan membangun relasi.

Hal itu disampaikan Bima saat menjadi narasumber Talk Show Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2026 di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten, Kamis (27/8/2026).

Menurut Bima, digital skills dibutuhkan untuk memahami dan memanfaatkan teknologi digital. Sementara thinking skills mencakup kemampuan berpikir analitis dan menyelesaikan masalah.

Adapun human skills berkaitan dengan kemampuan membangun hubungan dengan orang lain dan memperluas jaringan.

“Sejalan dengan perkembangan tersebut, Bima menyebut setidaknya ada tiga kompetensi yang perlu dipersiapkan generasi muda, yaitu digital skills (kemampuan mendalami dunia digital), thinking skills (kemampuan berpikir analitis serta problem solving), dan human skills (kemampuan berhubungan secara baik dengan orang lain),” kata Bima.

Ia mengatakan penguasaan teknologi harus dibarengi kemampuan berinteraksi dan membangun karakter. Menurutnya, jaringan menjadi salah satu modal penting bagi generasi muda dalam menghadapi perubahan.

“Hidup ini adalah seni bergaul, memperbanyak teman, memperkuat jaringan. Dan pada saatnya kalian akan percaya bahwa hidup yang kalian dapatkan enggak ada artinya tanpa diimbangi oleh karakter,” terangnya.

Bima juga meminta mahasiswa tidak khawatir berlebihan terhadap perkembangan AI. Menurutnya, AI merupakan bagian dari perubahan zaman yang harus dipahami dan dikuasai.

“AI itu keniscayaan, AI itu adalah tanda-tanda zaman. Tapi yakinilah, AI memudahkan dan menghubungkan, tapi tidak semua tergantikan oleh AI,” ungkapnya.

Ia menilai manusia tetap memiliki keunggulan yang tidak dimiliki teknologi, terutama dalam hal hati, nurani, nilai, dan kebijaksanaan.

“AI tidak punya hati. AI tidak punya nurani. AI tidak akan menghasilkan wisdom dan value. Selamanya manusia akan jadi pemenang, karena manusia memiliki nilai, memiliki value,” sambung Bima.

Lebih lanjut, Bima mengingatkan mahasiswa bahwa perubahan akibat perkembangan teknologi berlangsung semakin cepat. Kondisi tersebut membuat generasi muda harus mampu membaca perubahan sekaligus belajar dari sejarah.

“Kultur dan teknologi berubah dengan sangat cepat. Sekarang bayangkan, revolusi itu digerakkan bukan lewat buku, bukan lewat pamflet, tapi lewat TikTok, lewat Threads, lewat platform di sosial media, lewat komersial media. Pergerakan sosial di dunia nyata didorong oleh fenomena di dunia maya,” tuturnya.

Karena itu, Bima mendorong mahasiswa untuk tidak hanya mengandalkan pembelajaran di ruang kuliah. Pengalaman berorganisasi, berdiskusi dan berinteraksi dengan masyarakat dinilai penting untuk membentuk karakter.

Ia juga mengajak generasi muda berani mengambil peran di lingkungan masing-masing, sekecil apa pun kontribusinya.

“Sekecil apa pun, ambil peran. Mau di RT, mau di komunitas, mau di kota, mau di kampus, ambil peran,” katanya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.