TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Dampak kemarau panjang akibat El Nino kian nyata mengganggu pasokan air bersih di Kota Samarinda, Kalimantan Timur.
Surutnya debit Sungai Mahakam memicu intrusi air laut yang merangsek makin jauh ke hulu, hingga memengaruhi proses pengolahan air baku milik Perumda Tirta Kencana.
Sungai Mahakam merupakan sungai terbesar di Provinsi Kalimantan Timur sekaligus sungai terpanjang kedua di Indonesia setelah Sungai Kapuas. Membentang sepanjang kurang lebih 920 kilometer
Kondisi tersebut membuat jumlah Instalasi Pengolahan Air (IPA) yang terpaksa dibatasi jam operasionalnya kini bertambah menjadi lima titik.
Penyesuaian ini harus diambil lantaran kadar klorida pada air baku telah menembus ambang batas aman pengolahan, yaitu 250 ppm.
Baca juga: Daftar Wilayah Samarinda Terdampak Mati Lampu 27 Agustus 2026 Mulai Pukul 12.00 WITA
Asisten Manager Humas Perumda Tirta Kencana, Cevi Wahyudi mengungkapkan bahwa pergerakan air asin yang makin masuk ke dalam sungai membuat cakupan IPA terdampak bertambah.
"Kemarin, pengurangan jam operasional kita kan di Pulau Atas, Palaran, sama IPA kalhol. Nah, untuk hari ini sudah masuk di IPA Selili sama Sungai Kapih," terang Cevi.
Ia memaparkan, skema penyetopan sementara operasional IPA ini bekerja secara dinamis melalui pemantauan rutin.
Setiap satu jam sekali, petugas menguji kadar klorida di sungai. Ketika angka klorida melonjak di atas 250 ppm, mesin pengolahan seketika dihentikan.
Namun, begitu hasil tes menunjukkan penurunan di bawah batas toleransi, proses pengolahan air bersih langsung dijalankan kembali.
Guna membantu warga di wilayah terdampak yang alirannya terhenti, Perumda Tirta Kencana sudah menyiapkan langkah antisipasi bersama BPBD Kota Samarinda.
Bantuan air disalurkan melalui terminal air bersih di IPA terdekat, terminal umum di tingkat kelurahan, serta terminal mandiri dari sumur bor warga.
Penyaluran air melalui titik-titik terminal tersebut sepenuhnya disesuaikan dengan skema dan pendataan resmi dari pihak kebencanaan.
"Iya, tapi atas dasar dari BPBD nanti datanya di sana, kami dari data BPBD," jelasnya.
Mengenai kepastian jadwal penyesuaian, Cevi menyebutkan jam operasional tidak bisa dipastikan secara kaku karena sangat bergantung pada fluktuasi air laut.
Penghentian biasanya berlangsung sekitar tiga jam saat kadar klorida naik, dan produksi akan langsung kembali berjalan begitu kualitas air membaik.
Karena itu, ia menegaskan agar masyarakat tidak salah paham dan mengira pengolahan air mati total seharian penuh.
"Masyarakat jangan panik, untuk bisa segera tampung air terlebih dahulu, dan jangan lupa menghemat air dalam kondisi saat ini Perumda Tirta Kencana Samarinda," imbaunya. (*)
Potret Instalasi Pengolahan Air (IPA) Sungai Kapih Sambutan.
Perumda Tirta Kencana menghimbau masyarakat untuk tidak panik menghadapi pembatasan jam operasional sebab tidak diberlakukan selama 24 jam. (*)