Pesan Ahok di Depan Tokoh Tionghoa: Beda Bukan Alasan Merasa Rendah
Dodi Hasanuddin August 27, 2026 03:19 PM

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mengingatkan masyarakat agar tidak merasa rendah diri karena perbedaan suku maupun agama.

Menurutnya, setiap warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama sehingga keberagaman semestinya menjadi kekuatan untuk menjaga persatuan Indonesia.

Pesan tersebut disampaikan Ahok dalam Dialog Kebangsaan bertajuk “Mengenang Jejak Perjuangan Tokoh-Tokoh Tionghoa dalam Sejarah Kemerdekaan Indonesia” yang digelar di Museum Hakka, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Rabu (26/8/2026).

Baca juga: Profil Ahmad Ramzy, Pengacara Artis hingga Ahok yang Teguh Pegang Prinsip Everyone Deserves Justice

Ahok mengungkapkan, pemahaman mengenai kesetaraan telah ditanamkan oleh ayahnya sejak ia masih kecil. 

Dia diajarkan untuk tidak menjadikan latar belakang suku maupun agama sebagai alasan untuk merasa lebih rendah dibandingkan orang lain.

Dalam pandangan Ahok, setiap warga memiliki posisi yang sama dalam menjalankan kehidupan sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Kesadaran tersebut juga perlu dibarengi keberanian untuk memiliki cita-cita dan menentukan arah kehidupan.

"Jadi dengan cara sesuatu ini saya pikir ya itu yang harus anda miliki ya atau main cita-cita aja mau jadi apa," ujar Ahok dalam dialog tersebut.

Ahok kemudian mengingat kembali pesan ayahnya yang menekankan kesetaraan antara hak dan kewajiban setiap warga negara.

"Selalu kau pada hak, pada kewajiban yang sama," kata Ahok.

Baca juga: Ahok Bicara Kericuhan Penambang di Babel: Harga Timah Rakyat Harus Transparan

Bagi Ahok, prinsip tersebut penting untuk menghadapi berbagai perbedaan yang masih muncul di tengah masyarakat. 

Dia menilai kebencian tidak seharusnya dijawab dengan kebencian karena setiap warga memiliki tanggung jawab yang sama terhadap negara.

Alih-alih larut dalam konflik akibat perbedaan identitas, Ahok mendorong masyarakat menunjukkan kontribusi dan kecintaan terhadap Indonesia melalui tindakan nyata.

"Papa saya selalu bilang kita punya hak yang sama, kita punya kewajiban yang sama atas negeri ini. Kita lebih berguna daripada dia yang ngomong seperti itu, tunjukkan kita lebih cinta negara, cinta rakyat," tuturnya.

Setelah Ahok menyampaikan pandangannya mengenai kesetaraan dan keberagaman, dialog dilanjutkan dengan pembahasan mengenai sejarah dari mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan.

Dahlan menekankan pentingnya masyarakat memahami sejarah melalui lebih dari satu sudut pandang.

Menurutnya, pembacaan sejarah tidak cukup hanya mengandalkan satu versi karena penulisan sejarah dapat dipengaruhi oleh pihak yang memiliki kekuasaan.

Pandangan tersebut menjadi relevan dalam dialog yang secara khusus membahas jejak perjuangan tokoh-tokoh Tionghoa dalam perjalanan sejarah Indonesia.

Baca juga: Kesaksian Ahok Dinilai Ungkap Penyimpangan Tata Kelola Migas Pertamina

Sementara itu, pendiri Museum Pustaka Peranakan Tionghoa Azmi Abubakar menyoroti gotong royong sebagai salah satu kekuatan yang membentuk bangsa Indonesia.

Menurut Azmi, keberadaan Indonesia merupakan hasil kontribusi berbagai kelompok masyarakat. Karena itu, kepentingan pribadi, golongan, agama, maupun suku tidak semestinya menjadi dasar utama dalam melihat perjalanan bangsa.

"Bangsa ini tercipta karena gotong royong semua. Hanya saja pada hari ini kita perlu mengevaluasi ulang perjalanan bangsa dan negara," kata Azmi.

Rangkaian dialog kemudian dilanjutkan dengan diskusi bersama para peserta, termasuk pelajar yang hadir. 

Pembahasan diarahkan untuk memperluas pemahaman mengenai sejarah sekaligus menanamkan perspektif bahwa keberagaman merupakan bagian dari perjalanan Indonesia.

Melalui forum tersebut, peserta diajak melihat kontribusi berbagai kelompok dalam perjalanan bangsa sekaligus memahami pentingnya menjaga persatuan di tengah perbedaan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.