Makna di Balik Logo Festival Danau Tempe 2026, Angkat Budaya Wajo hingga Semangat Warga
Ansar August 27, 2026 03:22 PM

TRIBUN-TIMUR.COM, WAJO — Logo Festival Danau Tempe (FDT) 2026 bukan sekadar identitas visual.

Setiap elemennya membawa pesan tentang Danau Tempe, budaya Bugis, kehidupan masyarakat Wajo hingga potensi ekonomi daerah.

Festival Danau Tempe 2026 dijadwalkan pada September 2026.

Hingga kini, panitia masih mematangkan sejumlah persiapan, termasuk lokasi pelaksanaan festival.

Ketua Panitia FDT 2026, Haji Syarif, mengatakan logo festival dipilih melalui sayembara yang diikuti 74 peserta dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan (Sulsel).

Para peserta diberi waktu empat hari untuk membuat karya. Setelah melalui proses penilaian, karya Muhammad Asrul Hariadi asal Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) ditetapkan sebagai pemenang.

"Betul, kemarin sayembara logo FDT 2026, ada 74 peserta yang ikut dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan. Selama empat hari peserta membuat karyanya dan akhirnya panitia memilih satu karya terbaik," ujar Syarif kepada Tribun-Timur.com melalui WhatsApp, Kamis (27/8/2026).

Logo tersebut mengusung tema "Falisu Sumangena Tanah Wajo", yang juga menjadi tema utama FDT 2026.

Syarif mengatakan karya Asrul dipilih karena tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga mampu menerjemahkan identitas dan filosofi Festival Danau Tempe.

"Dalam karyanya, Asrul mengusung konsep dan filosofi yang sarat makna akan FDT itu sendiri," katanya.

Salah satu panitia, Boim, mengatakan penilaian sayembara tidak semata-mata berdasarkan tampilan logo.

Panitia mempertimbangkan sejumlah aspek, mulai dari orisinalitas, makna, filosofi, hingga kemampuan peserta merepresentasikan identitas dan semangat Festival Danau Tempe.

"Kami nilai itu komponen originalitas, makna dan filosofi apa yang dibuat peserta. Bagaimana mereka merepresentasikan identitas serta semangat dari kegiatan ini," jelasnya.

Rumah Terapung hingga Motif Sarung Sutera

Secara keseluruhan, bentuk logo menyerupai rumah terapung atau kalampang yang lazim ditemukan di kawasan Danau Tempe.

Bentuk tersebut dipadukan dengan lekukan menyerupai motif sarung sutera.

Perpaduan ini menggambarkan kehidupan masyarakat Wajo yang lekat dengan budaya, tradisi dan lingkungan Danau Tempe.

Elemen tersebut sekaligus menunjukkan, festival tidak hanya berbicara tentang danau sebagai lokasi kegiatan, tetapi juga tentang kehidupan masyarakat dan kebudayaan yang tumbuh di sekitarnya.

Pada bagian lain logo terdapat elemen air yang membentuk huruf W. Elemen ini merepresentasikan Wajo sekaligus Danau Tempe sebagai ruang utama pelaksanaan festival.

Warna biru yang digunakan menggambarkan ketenangan serta keceriaan masyarakat dalam menyambut FDT 2026.

Sementara arah panah ke atas berwarna emas melambangkan kekayaan alam, kemakmuran serta semangat masyarakat Wajo untuk terus berkembang.

Ada pula figur manusia yang menaiki perahu. Elemen ini merepresentasikan berbagai perlombaan dan aktivitas yang menjadi bagian dari rangkaian Festival Danau Tempe.

Warna merah dan ungu pada bagian tersebut menggambarkan semangat, kesan spiritual dan kreativitas.

Elemen lainnya adalah Sulapa Eppa/Appa, konsep dalam budaya Bugis yang menggambarkan empat penjuru atau arah mata angin.

Dalam logo FDT 2026, Sulapa Eppa/Appa dimaknai sebagai simbol kesyukuran dan kesempurnaan kehidupan.

Elemen tersebut juga menggambarkan Festival Danau Tempe sebagai bentuk rasa syukur masyarakat Wajo atas potensi dan hasil yang diberikan Danau Tempe.

Di sisi lain, festival diharapkan menjadi ruang untuk memperkenalkan kebudayaan sekaligus mempromosikan kreativitas dan produk pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) Wajo.

"Falisu Sumangena Tanah Wajo"

Tema "Falisu Sumangena Tanah Wajo" memiliki keterkaitan erat dengan filosofi festival tahun ini.

Dalam bahasa dan konteks budaya Bugis, Falisu berarti kembali atau pulang. Sementara sumangena bermakna semangat, jiwa, roh atau spirit.

Sedangkan Tanah Wajo merujuk pada kampung halaman Wajo.

Syarif mengatakan tema tersebut dapat dimaknai sebagai "Kembalinya Semangat ke Tanah Wajo".

"Atau dibuat lebih emosional, 'Pulang Membawa Semangat, Kembali Menghidupkan Tanah Wajo'," jelasnya.

Makna tersebut menjadi pesan bahwa FDT 2026 tidak hanya ditujukan sebagai agenda hiburan, tetapi juga momentum untuk menghidupkan kembali semangat masyarakat, budaya dan potensi ekonomi daerah.

Sejumlah agenda telah disiapkan panitia, mulai dari festival UMKM, pameran pusaka, perahu hias, Wajo Bersalawat hingga pemilihan Anadara Kallolono Wajo.

Kegiatan tersebut diinisiasi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Wajo, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Wajo dan Karang Taruna Wajo.

Lokasi Festival Masih Dimatangkan

Selain rangkaian kegiatan, panitia masih mematangkan lokasi utama pelaksanaan FDT 2026.

Boim mengatakan terdapat dua lokasi yang menjadi opsi, yakni Ruang Terbuka Hijau (RTH) Calaccu dan Lapangan Merdeka Sengkang.

"Ada dua rencana lokasinya, tapi belum kami tentukan, masih dikoordinasikan dulu," katanya.

Dukungan terhadap festival juga datang dari Ketua Kadin Wajo, Darmawan Sanusi.

Menurutnya, kolaborasi antara organisasi, pelaku usaha, pemerintah dan masyarakat menjadi salah satu kunci agar festival tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial.

"Semoga festival ini tidak hanya sekadar hiburan, melainkan wadah memperkenalkan budaya dan sejarah Wajo kepada masyarakat secara luas," ungkapnya.

Bupati Wajo Andi Rosman juga menyatakan dukungannya terhadap pelaksanaan FDT 2026.

Menurutnya, Festival Danau Tempe dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan potensi, budaya dan kekayaan daerah kepada masyarakat lebih luas.

"Kita ketahui Festival Danau Tempe menjadi salah satu ajang memperkenalkan potensi, budaya dan apa yang dimiliki daerah. Kami siap mendukung dan tentunya sinergi semua pihak yang kami inginkan," tandasnya.

Dengan rangkaian agenda budaya, ekonomi dan hiburan yang disiapkan, FDT 2026 diharapkan tidak hanya menarik pengunjung, tetapi juga memberi ruang bagi UMKM, pelaku seni, komunitas serta masyarakat lokal untuk ikut mendapatkan manfaat dari festival.

Bagi Wajo, Danau Tempe bukan hanya bentang perairan.

Danau ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, budaya, mata pencaharian dan identitas daerah. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.