Diaspora Sulsel Terbang ke Jombang Dukung KH Nasaruddin Umar Jadi Ketua Umum PBNU: Beliau NU Banget
AS Kambie August 27, 2026 03:22 PM

TRIBUN-TIMUR.COM - Dukungan dari diaspora dan sebagian tokoh NU Sulsel menguat untuk Prof Dr KH Nasaruddin Umar, tetapi peta suara Sulsel belum tunggal menjelang Muktamar ke-35 NU.

Kiai Nasaruddin didukung menjadi Ketua Umjum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) .

Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan membuka Muktamar Ke-35 NU di Pondok Pesantren (PP) Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Kamis sore, 27 Agustus 2026. 

Hingga Kamis siang, pukul 14.30 wita, Pondok Pesantren Bahrul Ulum sudah disterilkan. Siap menyambut kehadiran presiden.

Seorang diaspora Sulsel di Jakarta terbang ke Jombang untuk mendukung putra Bone menjadi Ketum PBNU, sementara suara NU Sulsel sendiri belum sepenuhnya satu dan Muktamar sedang menentukan masa depan organisasi.

“Sebagai alumni pesantren dan aktivis pemuda Muslim, saya sangat mendukung dan mendoakan Ayahanda Anregurutta Prof Dr Nasaruddin Umar menjadi Ketua Umum PBNU,” tegas diaspora Sulsel di Jakarta, Andi Yuslim Patawari (AYP).

Saat menghubungi Tribun-Timur.com via telepon, AYP sedang berada di Bandara untuk penerbangan ke Surabaya.

Meski tidak termasuk pemilik suara, AYP juga ke Pondok Pesantren Bahrul Ulum mengikuti muktamar.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia yang juga Wakil Sekretaris Jenderal Himpunan  Dewan Pimpinan Nasional Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (DPN HKTI) itu menilai sosok Kiai Nasaruddin Umar NU banget.

“Gambaran ideal dalam benak saya tentang NU itu ada pada sosok Anregurutta Kiai Nasaruddin. Iya, sangat alim dan tawadhu. Sangat cerdas dan bijaksana. Dan, tak kalah penting beliau akrab dengan semua kalangan. Ini kan NU banget,” kata AYP.
 
Pria asal Bone itu juga siap membantu, sesuai dengan kapasitasnya. Termasuk melalui jalur istana.

Posisinya sebagai DPN HKTI membuat AYP punya jalur khusus dengan presiden. Beberapa kali anak muda ini terlihat di Istana atau terpantau menghadiri acara yang dihadiri Prabowo.

“Kapan lagi orang luar Jawa pimpin NU,” tegas AYP.

“Tidak perlu lagi kita ingatkan orangtua kita, senior-senior kita dari Sulsel yang menjadi peserta muktamar. Beliau-beliau sudah lebih paham apa yang harus dilakukan. Dan beliau-beliau pasti sudah lebih mengharapkan Anregurutta Kiai Nasaruddin jadi Ketua Umum PBNU,” jelas AYP menambahkan.

Kiai Nasaruddin Umar mewakili Presiden Prabowo Subianto membuka Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) VIII Korpri di Makassar, Senin (24/8/2026).

Menag menegaskan bahwa tujuan fundamental dari MTQ Korpri adalah menghadirkan Al-Qur'an sebagai kekuatan pembentuk watak aparatur negara. Menurutnya, perjalanan spiritual ASN harus bergerak secara berkesinambungan dari tilawah menuju pemahaman, dari pemahaman menuju penghayatan, dan puncaknya adalah pengabdian nyata dalam menjalankan tugas negara.

Dukungan warga NU Sulsel semakin mengkristal ke Prof Nasaruddin Umar. 

Wakil Ketua Tanfidziyah PWNU Sulsel, Prof Dr KH Firdaus Muhammad, menyampaikan aspirasi serta kecenderungan warga Nahdliyin di Sulsel secara alamiah mengarah pada sosok Imam Besar Masjid Istiqlal tersebut.

"Tentu warga NU di Sulsel cenderung mengarah ke Prof Nasaruddin Umar. Beliau adalah tokoh agama, dan putra daerah, jadi sangat wajar jika dukungan mengalir ke sana," kata Prof Firdaus, Rabu (26/8/2026).

Terkait spekulasi dan isu regulasi organisasi yang menyebutkan apakah Prof Nasaruddin harus mengundurkan diri dari kursi Menteri Agama jika resmi mencalonkan diri, Prof Firdaus menilai hal tersebut masih dalam tahap dinamika pembahasan di internal NU.

"Apakah Prof Nasaruddin benar-benar maju atau tidak, itu kan nanti kita lihat. Mengenai mekanisme organisasi NU, apakah harus mundur dari jabatan Menteri Agama baru maju, ini kan masih ada pembicaraan di Komisi Organisasi," jelasnya.

Lebih lanjut, akademisi UIN Alauddin Makassar tersebut mengingatkan seluruh kader untuk merawat jati diri NU menjelang Muktamar. 

Menurutnya, independensi organisasi harus tetap dijaga di tengah kuatnya pusaran politik dan godaan kekuasaan.

"Di era modern ini, kita ingin NU tetap punya harga diri dan jati diri. NU boleh dan diharapkan senantiasa bersinergi dengan pemerintah, tetapi tidak boleh dikendalikan oleh pemerintah. Yang kita hindari adalah adanya mobilisasi atas nama negara yang masuk ke Muktamar sehingga memicu friksi," tegasnya.

Ia pun berharap, momentum Muktamar ke-35 NU yang menandai awal perjalanan abad kedua jam'iyyah ini dapat melahirkan kepemimpinan yang membawa NU semakin mandiri serta murni dari aspirasi warga Nahdliyin.

Jika Prof Nasaruddin Umar terpilih menjadi Ketua Umum PBNU, maka dia menjadi yang kedua dari Sulsel setelah Anregurutta Prof Dr KH Ali Yafie di pucuk pimpina NU.

Hanya saja, posisinya sebagai menteri agama bisa harus ditanggalkan karena aturan organisasi. Kecuali jika peserta muktamar menyepakati ketua umum boleh rangkap jabatan.

Selain itu, jalur menuju RI 2 atau Wakil Presiden semakin terbuka lebar jika menjadi Ketua Umum PBNU.

Jejak Sulsel di Panggung NU

Jika Nasaruddin terpilih, Sulsel kembali memiliki tokoh yang menempati posisi puncak dalam struktur kepemimpinan NU.

Namun, penyebutan sejarahnya perlu tepat.

KH Ali Yafie, ulama yang memiliki akar kuat di Sulawesi Selatan, pernah menjadi Rais Aam PBNU 1991–1992, bukan Ketua Umum Tanfidziyah. Ia sebelumnya merupakan Wakil Rais Aam dan kemudian menjadi Penjabat Rais Aam setelah wafatnya KH Ahmad Siddiq.

Jejak Ali Yafie menunjukkan bahwa hubungan Sulsel dengan kepemimpinan NU di tingkat nasional bukan sesuatu yang baru.

Nasaruddin kini berada dalam fase berbeda. Ia bukan hanya ulama dan akademisi, tetapi juga pejabat pemerintah yang masih menjabat Menteri Agama dan masuk dalam bursa Ketua Umum PBNU.

Jika terpilih, persoalannya bukan hanya apakah seorang putra Sulsel berhasil mencapai pucuk kepemimpinan PBNU.

Pertanyaan yang lebih besar adalah arah hubungan NU dengan pemerintah, posisi organisasi di tengah kekuasaan, dan bagaimana suara warga Nahdliyin dari berbagai daerah diterjemahkan menjadi kepemimpinan nasional.

Muktamar 27–31 Agustus 2026 menjadi arena untuk menentukan arah tersebut.

Bagi Sulsel, perjalanan AYP dari Jakarta menuju Tambakberas juga memperlihatkan satu hal: dukungan terhadap Nasaruddin tidak hanya bergerak di dalam struktur formal NU.

Ia juga tumbuh melalui jaringan diaspora, alumni pesantren, tokoh masyarakat dan warga Sulsel yang melihat kontestasi PBNU sebagai bagian dari perjalanan seorang putra daerah ke panggung nasional.

Tetapi keputusan akhirnya tetap berada di arena Muktamar dan di tangan mereka yang memiliki mandat sebagai muktamirin.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.