Lambertus: Kami Tidak Bisa Tinggal di Rumah Karena Roboh, Relawan UMI Bawa Bantuan dan Layanan Medis
Hilarius Ninu August 27, 2026 03:45 PM

 

TRIBUNFLORES.COM,RUTENG-Warga Kampung Nggori masih bertahan di tenda pengungsian dengan suhu malam yang dingin. Tim Relawan Medis UMI bersama AMDA, AR7 Team, TBM Fakultas Kedokteran UMI, dan KAHMI Manggarai hadir memberikan layanan kesehatan, obat-obatan, tenda, perlengkapan bayi dan kebutuhan dasar.

Tokoh adat Kampung Nggori, Lambertus (53), menyampaikan rasa terima kasihnya atas kehadiran Tim Relawan Medis Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar di posko pengungsian penyintas gempa Nusa Tenggara Timur.

Kampung Nggori atau Gendang Gori berada di Desa Bangka Jong, Kecamatan Wae Ri’i, Kabupaten Manggarai, NTT. Wilayah ini berada di dataran tinggi, sekitar 5 kilometer dari pusat kecamatan dan 8 kilometer dari Ruteng.

Sejak gempa mengguncang pada 15 Agustus 2026, Lambertus bersama warga lainnya masih bertahan di tenda pengungsian.

 • Di Tengah Luka Gempa Lengko Cepang, Mgr. Maksimus Regus Ulurkan Tangan Kasih

 

 

Bukan karena mereka memilih meninggalkan rumah.Tetapi karena sebagian rumah sudah tidak dapat ditempati.

“Kami tidak bisa tinggal di rumah. Kami tidak bisa tinggalkan begitu saja karena sudah roboh,” ujar Lambertus saat berbincang dengan Wakil Rektor II UMI, Prof. Dr. Ir. H. Zakir Sabara HW., S.T., M.T., IPM., ASEAN Eng., APEC Eng., Rabu, 26 Agustus 2026.

Malam Dingin, Warga Bertahan dengan Selimut Seadanya

Tinggal di tenda bukan perkara mudah. Pada malam hari, suhu di wilayah tersebut dapat turun hingga sekitar 13–14 derajat Celsius. Lambertus mengatakan warga menggunakan selimut dan perlengkapan seadanya untuk menahan dingin.

“Masih tinggal di tenda, termasuk kami semua. Padahal dingin sekali kalau malam,” katanya.

Bagi warga yang rumahnya rusak, kembali bukan pilihan aman.Mereka harus bertahan di pengungsian sambil menunggu keadaan membaik. Lambertus juga mengingat kembali saat gempa terjadi.

Menurutnya, salah satu hal yang masih disyukuri warga adalah waktu gempa terjadi pada pagi hari, ketika sebagian besar masyarakat sudah terbangun.

“Syukurnya karena waktu itu pagi, jadi orang sudah bangun. Kalau malam, Pak, tidak tahu seperti apa,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Relawan UMI Datang Menemui Warga

Melihat kondisi tersebut, Tim Relawan Medis UMI datang ke Kampung Nggori untuk memberikan dukungan kepada warga yang masih bertahan di pengungsian.

Prof. Zakir menghampiri warga satu per satu.
Tidak hanya menanyakan kondisi kesehatan mereka, tetapi juga mendengarkan cerita tentang rumah yang rusak, kehidupan selama di tenda, dan pengalaman saat gempa terjadi.

Percakapan berlangsung sederhana.Tanpa seremoni panjang.Warga bercerita.Relawan mendengar.
Dan kebutuhan masyarakat dicatat langsung dari lapangan.

Bagi Prof. Zakir, kehadiran relawan merupakan bentuk solidaritas kepada masyarakat Nusa Tenggara Timur.

“Kami datang karena merasa ini saudara-saudara kita juga. Kita semua bersaudara. Yang bisa kita lakukan, kita lakukan bersama,” ujarnya.

Layanan Kesehatan dan Bantuan Dasar

Tim Relawan Medis UMI menjalankan misi kemanusiaan bersama Association of Medical Doctors of Asia (AMDA), AR7 Team, Tim Bantuan Medis Fakultas Kedokteran UMI, dan KAHMI Manggarai.

Tim medis diketuai dr. Berry Erida Hasbi, Sp.B., dokter spesialis bedah yang memimpin pelayanan kesehatan di lapangan.

Selama misi di Kabupaten Manggarai, tim memberikan pemeriksaan kesehatan dan pengobatan kepada warga terdampak gempa.

Selain layanan medis, bantuan yang disalurkan meliputi obat-obatan,tenda,perlengkapan bayi,
serta berbagai kebutuhan pokok.

Bantuan tersebut diarahkan sesuai kebutuhan masyarakat di lokasi pengungsian.Karena bagi relawan, bantuan yang paling berarti bukan yang paling banyak.Tetapi yang paling dibutuhkan.

Tokoh Adat Nggori Sampaikan Terima Kasih

Lambertus, mewakili warga Kampung Nggori, menyampaikan apresiasi kepada para relawan yang telah datang langsung melihat kondisi mereka.

“Atas nama seluruh warga masyarakat Dusun Nggori, Desa Bangka Jong, Kecamatan Wae Ri’i, Kabupaten Manggarai, kami menyampaikan terima kasih kepada bapak dan ibu relawan yang sudah mengunjungi kami,” ujarnya.

Ia berharap misi kemanusiaan tersebut juga dapat menjangkau wilayah lain yang mengalami kondisi serupa.

“Doa kami menyertai bapak dan ibu dalam mengunjungi tempat-tempat lain yang situasinya seperti kami alami di Kampung Nggori ini,” lanjutnya.

Ucapan tersebut menjadi pengingat bahwa masih ada banyak masyarakat yang membutuhkan perhatian.

Bukan hanya di satu titik.Bukan hanya satu kampung.Tetapi di berbagai wilayah terdampak.

UMI Hadir Bersama Jejaring Kemanusiaan

Tim Relawan Medis UMI diberangkatkan dari Makassar pada 20 Agustus 2026.
Keberangkatan tim dilepas langsung Rektor UMI Prof. Dr. H. Hambali Thalib, S.H., M.H., didampingi Dekan Fakultas Kedokteran UMI Dr. dr. Nasrudin Andi Mappaware dan jajaran pimpinan universitas.
Sejak tiba di NTT, tim bergerak ke sejumlah titik terdampak gempa untuk memberikan layanan kesehatan dan bantuan kemanusiaan.

Misi tersebut memperlihatkan bahwa penanganan bencana membutuhkan kerja bersama.
Perguruan tinggi membawa tenaga ahli.

Tenaga medis membawa pelayanan.Komunitas membawa jaringan.Relawan membawa waktu dan tenaga.Dan masyarakat menjadi pusat dari seluruh upaya tersebut.

Mereka Masih Membutuhkan Bantuan

Kondisi Kampung Nggori menunjukkan bahwa kebutuhan penyintas belum selesai.Warga masih tinggal di tenda.

Rumah masih rusak.Malam masih dingin.Kebutuhan kesehatan tetap ada.

Perguruan tinggi.Organisasi profesi.Dunia usaha.Komunitas.Alumni.Dan masyarakat luas.
Semua dapat mengambil bagian sesuai kemampuan.

Sebab bagi penyintas bencana, bantuan bukan hanya soal barang yang diterima.Kehadiran juga berarti mereka tahu ada orang lain yang masih memikirkan keadaan mereka.

Kampus Peduli dan Berbagi

Bagi UMI, misi kemanusiaan di Manggarai merupakan bagian dari semangat Kampus Perjuangan dan Pengabdian serta Kampus Peduli dan Berbagi.

Pengabdian kepada masyarakat merupakan bagian dari Catur Dharma UMI, yaitu Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, serta Komitmen Ke-UMI-an dan Pendidikan Karakter.

Ilmu tidak cukup hanya diajarkan di ruang kelas.Kompetensi tidak cukup hanya dibuktikan dengan ijazah.Dan karakter tidak cukup hanya dibicarakan.

Semuanya memperoleh makna ketika digunakan untuk membantu manusia yang sedang membutuhkan.

Di Kampung Nggori, pesan itu hadir sangat sederhana.Warga masih tinggal di tenda karena rumah mereka rusak.Relawan datang membawa apa yang mereka mampu.

Dan di tengah keadaan yang belum sepenuhnya pulih, Lambertus hanya menitipkan satu hal kepada mereka yang dating,terima kasih, dan jangan lupakan warga lain yang juga masih membutuhkan bantuan.

Sumber : Humas UMI Makassar

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.