TRIBUNJOGJA.COM - Setiap orang punya cara sendiri dalam menjalani kehidupan.
Ada yang mudah menyerah ketika menghadapi pekerjaan berat, ada pula yang justru semakin tertantang ketika tanggung jawab datang.
Dalam tradisi Jawa, karakter seseorang kerap dikaitkan dengan hari kelahirannya.
Salah satunya melalui perhitungan weton dan wuku dalam Pawukon.
Bagi yang lahir pada Kamis Pon dengan Wuku Kuranthil, terdapat sejumlah gambaran watak yang menarik dalam Primbon Jawa.
Mengacu pada buku Primbon Pawukon Bayi Lahir terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara, Jakarta, 1988.
Orang yang lahir pada Wuku Kuranthil digambarkan sebagai sosok yang memiliki peluang menjadi orang kaya, tetapi perlu disertai kerja keras.
Lantas, seperti apa karakter lengkapnya?
Dalam buku tersebut, Wuku Kuranthil menggambarkan seseorang yang sebenarnya memiliki peluang untuk mencapai kehidupan yang berkecukupan.
Namun, kekayaan itu tidak datang begitu saja.
Orang yang berada di bawah Wuku Kuranthil dipercaya perlu bekerja keras untuk mendapatkan hasil yang diinginkan.
Gambaran tersebut sejalan dengan sejumlah simbol yang melekat pada Wuku Kuranthil.
Salah satunya adalah Dewa Betara Tantra, yang dalam catatan Primbon dimaknai sebagai sosok yang cerdas dan terampil dalam bekerja.
Jadi, bukan hanya rajin, tetapi juga mampu menggunakan kecerdasan dan keterampilannya ketika menyelesaikan pekerjaan.
Wuku Kuranthil juga memiliki lambang burung emprit gantil.
Dalam Primbon Pawukon Bayi Lahir, burung tersebut dikaitkan dengan pribadi yang rajin bekerja dan tidak suka bermalas-malasan.
Namun, ada sisi lain yang cukup menarik.
Orang dengan lambang emprit gantil disebut tidak suka apabila hatinya tersakiti oleh perkataan orang lain.
Jika sudah merasa tertusuk oleh ucapan seseorang, ia digambarkan membutuhkan waktu untuk kembali seperti semula.
Ia juga memiliki pendirian yang kuat.
Dalam berbicara, pendapatnya cenderung ingin didengar dan dianut oleh orang lain.
Selain burung emprit gantil, Wuku Kuranthil memiliki lambang pohon Dewandaru.
Berdasarkan catatan dalam buku Primbon Pawukon Bayi Lahir, pohon tersebut menggambarkan pribadi yang rajin bekerja dan memiliki “panjang akal”.
Istilah tersebut dalam konteks Primbon menggambarkan orang yang mampu mencari jalan keluar ketika menghadapi persoalan.
Ia juga disebut dapat dimintai pertimbangan dan ringan memberikan bantuan.
Menariknya, perkataan orang dengan lambang Dewandaru juga dipercaya dapat dipegang karena dianggap memiliki kebenaran.
Tak heran jika sosok ini dalam kehidupan sehari-hari digambarkan sebagai orang yang cukup bisa diandalkan ketika orang lain membutuhkan bantuan atau pertimbangan.
Baca juga: Weton Sabtu Pon dalam Wuku Dhukut, Seperti Apa Wataknya?
Ada satu lagi simbol yang melekat pada Wuku Kuranthil, yaitu gedung bertingkat tiga dengan pintu tertutup.
Dalam Primbon, simbol tersebut menggambarkan seseorang yang tidak mudah mengeluh ketika mendapatkan tugas berat.
Ia dipercaya memiliki kepatuhan dan pengabdian yang kuat dalam menjalankan tanggung jawab.
Ada pula kecenderungan untuk menjaga sikap agar tidak membuat orang lain marah.
Dengan kata lain, sosok Wuku Kuranthil digambarkan sebagai pekerja yang lebih memilih menyelesaikan tugas daripada banyak mengeluh.
Wuku Kuranthil juga memiliki kedudukan sebagai aksara yang dimaknai sebagai penyimpan petuah.
Sementara itu, terdapat istilah Ringkel Peksi yang dalam catatan Primbon dimaknai sebagai sikap selalu merendahkan hati.
Orang dengan karakter tersebut disebut tidak terlalu menaruh perhatian terhadap pemberian yang diterimanya.
Namun, dalam menghadapi keadaan yang dianggap sebagai malapetaka, catatan Primbon menggambarkan adanya kecenderungan kurang sabar.
Karena itu, berbagai simbol dalam Wuku Kuranthil seolah menunjukkan dua sisi karakter. Seperti pribadi yang rajin, rendah hati, dan dapat diandalkan, tetapi tetap perlu belajar mengelola perasaan ketika menghadapi perkataan atau keadaan yang tidak menyenangkan.
Soal pekerjaan dan usaha, buku Primbon Pawukon Bayi Lahir juga mencatat bidang yang dianggap sesuai bagi orang Wuku Kuranthil.
Dua di antaranya adalah berdagang beras dan barang-barang yang terbuat dari besi.
Sementara untuk perlengkapan tradisional, catatan Primbon menyebut adanya ajimat berupa tanduk kerbau yang ditulisi rajah dengan baja.
Ada pula tata cara penangkal yang disebut dalam buku tersebut, termasuk mandi suci sebanyak tujuh kali ketika matahari terbenam dengan menggunakan kain dasar berwarna putih serta sejumlah perlengkapan sesaji.
Hal-hal tersebut merupakan bagian dari tradisi dan kepercayaan masyarakat Jawa yang tercatat dalam Primbon
Bukan ketentuan yang harus dilakukan oleh setiap orang yang lahir pada Wuku Kuranthil.
Dalam catatan Primbon yang sama, bagian tubuh yang disebut perlu diperhatikan bagi Wuku Kuranthil adalah kaki kanan.
Buku tersebut juga mencantumkan penggunaan merica dan cabai sebagai bagian dari cara penyembuhan tradisional.
Namun, catatan tersebut merupakan bagian dari pengetahuan pengobatan tradisional dalam Primbon dan tidak dapat menggantikan diagnosis maupun pengobatan medis.
Jika mengalami keluhan kesehatan, pemeriksaan kepada tenaga medis tetap menjadi pilihan yang tepat.
Jika ada satu pesan yang cukup kuat dari gambaran Wuku Kuranthil, mungkin itu adalah tentang kerja keras.
Sebab dalam catatan Primbon, jalan menuju kehidupan yang berkecukupan bukan hanya soal keberuntungan, tetapi juga tentang kemauan untuk terus berusaha.
Tribunners, begitulah gambaran dari Wuku Kuranthil.
Bagi Tribunners yang lahir pada Kamis Pon, kira- kira bagian mana yang relate?
Tulis di kolom komentar ya!
(MG Natasya Aulia)