Laporan Wartawan Magang, Samuel
BANGKAPOS.COM, BANGKA - Di bawah terik sinar matahari di halaman Kelenteng Setia Budi, Dusun Cengel, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka terdapat gerbang bertuliskan "Perjalanan ke 10 Tingkat Neraka" yang berdiri gagah bersama deretan kotak kayu bercat merah yang menampilkan adegan yang membuat tubuh berkeringat dingin.
Salah satu kotaknya menampilkan sesosok tubuh terbaring di atas meja pemotong, dua sosok bertanduk memegangi alat penjepit, sementara seorang raja berjubah kuning mengawasi dari singgasananya.
Di bawahnya tertulis "Istana Neraka Kelima, Raja Yanluo Tianzi", lengkap dengan daftar dosa dan hukuman yang digambarkan sedetail mungkin.
Beberapa meter dari situ, terdapat kuda putih tunggangan Dewa Rezeki, kapal naga raksasa berlayar kuning dan yang paling mencolok patung Thai Se Ja setinggi 12 meter yang menjadi pusat perhatian ribuan orang setiap tahun.
Semua pernak-pernik yang mengerikan, megah dan detail tersebut, tentu tidak lahir dengan sendirinya.
Mereka diciptakan dari sentuhan tangan satu orang.
Ia datang dengan kulit sawo matang, bekas bertahun-tahun bekerja di bawah terik matahari. Rambutnya sudah memutih semua. Tapi tatapannya masih tajam, tubuhnya masih tampak bugar, tidak seperti kebanyakan orang berusia 67 tahun.
Ia dikenal dekat dengan warga Dusun Cengel melalui nama panggungnya, Martador disapa Akhiw oleh pemuda sekitar, sebutan hormat untuk paman dalam tradisi Tionghoa-Bangka.
Kariernya sudah hampir menyentuh dua dekade. Ia memulai pada tahun 2007.
Ia menolak disebut autodidak.
"Bukan autodidak, memang bakatnya di situ," katanya
Sejak itu, karyanya menyebar ke Pemali, Gambir, Pangkul, Pangkalpinang hingga Lumut.
Gerbang naga, tiang pembakaran uang kertas, patung dewa-dewi, semua adalah hasil karya dari tangannya.
Total, ia memperkirakan sudah membuat 30-40 patung besar sepanjang kariernya.
Satu set replika patung ritual menurut Martador, memakan waktu 3-4 bulan pengerjaan.
Memakai bambu sebagai rangka, kayu sebagai tulang struktur, kertas sebagai pelapis dan lem sagu tradisional sebagai perekat.
Bagian tersulit bukan patung raksasa yang jadi pusat perhatian, melainkan diorama-diorama kecil seperti adegan di Istana Neraka. Ukurannya yang mini membuat proses penyambungan detail jauh lebih rumit.
Ia mengerjakan semuanya secara borongan dengan nilai proyek sekitar Rp60 juta, sudah mencakup bahan, transportasi dan upah dua hingga tiga pembantu.
Sebuah proyek baru bahkan tengah menantinya pada sebuah taman di Bogor.
Namun di balik proyek besar itu, ada risiko yang tak kalah besar.
"Kalau enggak cocok, berapa aja jauh-jauh, pulang-pulang cuma dapat Rp20.000," katanya sambil tertawa.
Martador justru menjawab datar ketika ditanya perasaannya melihat karya seni yang menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk mengukir detail wajah, memahat ekspresi, menata warna, kemudian dibakar habis dalam semalam
"Enggak lah, sudah biasa. Memang harus dibakar," katanya.
Justru menurutnya, penontonlah yang lebih sering terenyuh.
Meskipun sudah berkarya hampir 20 tahun, semangat Martador tidak menipis atau bahkan berkurang.
Ketika ditanya siapa yang akan meneruskan keahliannya, ia berkata anaknya punya bakat melukis.
Tapi ia sendiri belum yakin apakah anaknya akan mengikuti jejaknya sebagai pemahat.
"Enggak tahu, belum sampai waktunya kali," katanya.
Ia juga menambahkan, ada seorang teman yang berpotensi untuk meneruskannya, asalkan berkomitmen dan memiliki niat yang tinggi.
"Mesti sabar kerjaan kayak gini. Enggak bisa emosi-emosi. Biar orang ngomong apa, masa bodo," ujarnya.
Syarat utama menjalani pekerjaan yang menurutnya tidak semua orang sanggup adalah kesabaran, karena menciptakan sesuatu yang megah, sambil tahu betul semuanya akan jadi abu. (*)