TRIBUNJATENG.COM, KENDAL - Sejumlah wilayah di Kabupaten Kendal mulai memasuki musim panen tembakau.
Memasuki musim tersebut, para petani membutuhkan area luas untuk menjemur tembakau hasil panen yang telah dirajang.
Kondisi itu terlihat di Desa Kebonagung, Kecamatan Ngampel, Kabupaten Kendal.
Sejumlah petani memanfaatkan lapangan desa untuk menjemur tembakau rajangan yang diletakkan di atas rigen.
Langkah tersebut dilakukan karena keterbatasan lahan penjemuran di sekitar rumah.
Baca juga: Harga Beras Naik Sejak 3 Bulan, Buruh Tani di Kendal Terpaksa Kerja Ekstra
Petani setempat, Karowi mengatakan, lapangan desa menjadi salah satu lokasi yang kerap digunakan untuk menjemur hasil panen tembakaunya.
Menurutnya, proses penjemuran membutuhkan area yang cukup luas serta paparan sinar matahari langsung.
Untuk menjemur satu keranjang tembakau rajangan, dibutuhkan sekira 80 hingga 90 rigen.
Sementara itu, setiap rigen berukuran sekira 90 x 200 sentimeter.
Dengan kebutuhan tersebut, Karowi memperkirakan area sekira 150 meter persegi diperlukan untuk menjemur hasil panen satu keranjang tembakau.
"Kalau di lapangan tidak mengganggu, kami juga sewa," tutur Karowi kepada Tribunjateng.com, Kamis (27/8/2026).
Hindari Jemur Tembakau di Pinggir Jalan
Karowi mengatakan, dirinya memilih lapangan desa dibandingkan menjemur tembakau di pinggir jalan.
Selain berpotensi mengganggu pengguna jalan, lokasi di tepi jalan juga membuat tembakau lebih mudah terkena debu kendaraan.
Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat menurunkan kualitas tembakau sekaligus berdampak pada harga jual.
"Kalau dijemur di lapangan selain tidak mengganggu, hampir tidak ada debu yang menempel di tembakau."
"Lapangan juga selama musim tembakau tidak digunakan untuk latihan," jelasnya.
Bagi petani, pemanfaatan lapangan desa menjadi solusi untuk mendapatkan lokasi penjemuran yang luas tanpa mengganggu aktivitas masyarakat.
Di sisi lain, pengelola lapangan juga memperoleh pemasukan yang dapat digunakan untuk merawat fasilitas.
• Polres Kendal: Terobos Palang Pintu Kereta Api Bisa Ditilang
Petani Bayar Rp15 Ribu per Keranjang
Koordinator Pengelola Lapangan Sepak Bola setempat, Wakhidun mengatakan, pihaknya menetapkan biaya sewa Rp15 ribu untuk setiap keranjang tembakau yang dijemur.
Uang hasil sewa tersebut digunakan untuk mendukung perawatan lapangan.
Mulai dari pemotongan rumput, perawatan gawang, pengecatan garis lapangan hingga mendatangkan tim untuk latihan bersama.
"Jadi pengelola dapat memperoleh pendapatan lebih dari Rp500 ribu dalam sehari," kata Wakhidun.
Menurutnya, kapasitas lapangan tersebut cukup besar.
Dalam satu waktu, lapangan dapat menampung sekira 3.500 rigen atau setara 35 keranjang tembakau.
Meski diperbolehkan untuk menjemur tembakau selama musim panen, pengelola tetap menerapkan sejumlah aturan.
Salah satunya, lapangan tidak diperbolehkan digunakan untuk aktivitas lain seperti menggembala kambing atau domba.
"Tetapi kami tidak memperbolehkan lapangan digunakan untuk misalnya gembala kambing atau domba," tandasnya. (*)