TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Dari Goa Jepang peninggalan Perang Dunia II hingga Candi Abang abad ke-9, potensi sejarah dan geologi di sekitar kawasan Geosite Lava Bantal, di Kapanewon Berbah, Kabupaten Sleman kini mulai dihubungkan dalam satu garis rute wisata.
Pemda DIY bersama para pemangku kepentingan, pada Kamis (27/8/2026) turun langsung menguji kelayakan jalur tersebut untuk memastikan aspek keamanan, kenyamanan, serta keterlibatan aktif masyarakat dalam pengembangan wisata berkelanjutan berbasis geopark untuk mendongkrak perekonomian masyarakat lokal.
Kegiatan Uji Coba Geotrail di kawasan Geosite Lava Bantal yang diinisiasi Biro Pengembangan Infrastruktur Wilayah dan Pembiayaan Pembangunan (PIWP2) Setda DIY ini meupakan langkah strategis sebagai bagian dari penyusunan Rencana Tapak untuk mengarahkan pengembangan kawasan secara terpadu.
Kepala Biro PIWP2 Setda DIY, Agnes Dhiany Indria Sari, S.E., M.M., menjelaskan, kegiatan uji coba ini dilakukan untuk mengidentifikasi dan menguji potensi rute yang menghubungkan daya tarik geologi, sejarah serta budaya. Kegiatan ini sekaligus untuk memperoleh masukan dari pengelola, masyarakat, dan pemangku kepentingan di wilayah mengenai keterhubungan rute, kenyamanan, keamanan, serta potensi interpretasi geosite.
"Sehingga pengembangan kawasan dapat dilakukan secara terpadu dengan tetap mendukung aspek konservasi, edukasi dan pariwisata," ujar Agnes.
Rangkaian uji coba geotrail ini dimulai dari Goa Jepang Sentonorejo. Di goa berpintu empat yang dipahat di tebing batu cadas formasi semilir setinggi 8 meter ini para peserta berkumpul. Didampingi Pamong Budaya Madya Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) DIY, Wikanto Harimurti, peserta menyimak sejarah goa yang diperkirakan dibuat sejak tahun 1942 - 1944 oleh tentara Jepang dan difungsikan sebagai tempat penyimpanan amunisi. Meksipun Goa dipahat manual di tebing batuan namun terbukti memiliki ketahanan gempa yang sangat kuat.
"Jadi, pada waktu gempa berkali-kali, ini enggak apa-apa, tetap begini terus bentuknya. Masih otentik seperti aslinya," kata dia.
Perjalanan berlanjut ke Candi Abang yang berada di area perbukitan Kalurahan Jogotirto. Candi berbahan batu bata ini tercatat dalam register cagar budaya Rapport van den Ouden - R.O.D. dan sempat ditemukan prasasti bertuliskan angka tahun 794 Saka atau 872 Masehi, yang jika itu benar sebagai masa berdirinya maka pendiriannya Candi Abang ini diperkirakan sezaman dengan Candi Barong.
"Candi ini dinamakan Candi Abang karena materialnya itu dari batu bata," ujar Hari.
Candi Abang memiliki potensi yang bisa dikembangkan menjadi destinasi wisata. Lokasinya yang berada di perbukitan, memungkinkan mata memandang hamparan kawasan Berbah dengan udara yang sejuk. Namun sayang, akses menuju lokasi candi, pengunjung harus berjuang dengan batuan sepanjang 300an meter.
Titik berikutnya adalah Goa Sentono di Dusun Blambangan. Di goa berlubang tiga ini, peserta melihat langsung keindahan struktur Goa yang dipahat di batuan cadas formasi semilir. Batuan dari abu vulkanik yang mengalami pengerasan ini diyakini serupa dengan batuan di Goa Jepang. Di dalam Goa Sentono, pengunjung bisa melihat batu lingga yoni serta relief arca seperti Durga Mahisasurawardhini hingga arca Agastya. Penjelajahan kemudian ditutup dengan mengunjungi situs warisan geologi (geoheritage) Watuadeg berupa singkapan lava bantal purba, sebelum akhirnya tiba di Geosite Lava Bantal Berbah seluas kurang lebih 79,826 hektar di bantaran Sungai Opak.
Penelaah Teknis Kebijakan PIWP2 Setda DIY, Adhitya Rifta Indrajaya mengatakan, kegiatan ini menjadi wadah edukasi sekaligus meningkatkan kapasitas pengelola geopark. Ia berharap setelah uji coba ini dari pengelola ada inovasi maupun usulan terkait pengembangan wisata di kawasan geosite Lava Bantal. Ia menilai kawasan ini sangat penting karena memuat situs budaya dan sejarah kolonialisme yang dapat dikemas dalam narasi wisata berkelanjutan.
"Ini sangat-sangat penting, karena di sini ada situs budaya juga, ada situs keterkaitannya sejarah kolonialisme dan itu bisa mendukung Lava Bantal ini untuk jadi sesuatu lah, tidak hanya wisata selfie, karena kan itu tidak berkelanjutan. Kalau kita kemas dalam satu narasi yang baik, pasti akan menjadi wisata berkelanjutan. Dan ujung-ujungnya nanti akan menjadi pemberdayaan masyarakat dan perekonomian yang lebih maju," ujar Adit.
Sementara itu, Lurah Jogotirto, Berbah, Mitha Mayasari menyambut positif pengembangan jalur jelajah geotrail Lava Bantal ini. Menurutnya, situs-situs bersejarah di wilayahnya sangat potensial dikemas menjadi wisata edukasi bagi generasi muda. Terutama pada pendekatan sejarah, budaya dan narasi ceritanya. Karena itu, ia berharap ke depan ada satu panduan narasi cerita yang seragam untuk menyampaikan ini kepada wisatawan yang mengikuti geotrail.
"Ini bisa menjadikan satu wisata edukasi juga, karena kan di sini juga ada sejarahnya yang bisa menjadi edukasi untuk anak-anak generasi sekarang yang di mana ternyata di Jogokarto ini ada bagian-bagian dari sejarah masa Jepang, kerajaan, seperti itu dan ini nanti menjadi wisata yang menarik juga. Yang suka berjelajah, ini menjadi salah satu destinasi wisata yang nanti bisa menjadi salah satu pilihan,"kata dia.(*)