Debit Air Baku IPA Kudu Menurun, Pelanggan PDAM di Semarang Diminta Bersiap
rival al manaf August 27, 2026 07:55 PM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Ketersediaan sumber air baku di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Kudu, di Kecamatan Genuk, Kota Semarang disebutkan mulai menurun akibat musim kemarau.

Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi proses produksi dan distribusi air minum kepada pelanggan di sejumlah wilayah pelayanan Semarang Timur.

Perumda Air Minum Tirta Moedal (PDAM) Kota Semarang menyebut saat ini masih berupaya mempertahankan pelayanan dengan memaksimalkan debit air yang tersedia. Di sisi lain, pelanggan diminta bersiap terhadap kemungkinan gangguan, mulai dari aliran mengecil hingga tidak mengalir.

"Kami masih berupaya tetap memberikan layanan kepada warga masyarakat wilayah pelayanan Semarang Timur," kata Kepala Humas PDAM Tirta Moedal Kota Semarang, Mayang Charisma, Kamis (27/8/2026).

Baca juga: Pegawai Jadi Tersangka Korupsi, PDAM Tirtayasa Pekalongan Gerak Cepat Amankan Pelayanan

Baca juga: Kondisi Terkini 2 Balita Korban Kebakaran Rumah di Banyumanik Semarang, Luka Bakar Berat

Mayang mengatakan, sejumlah wilayah telah dipetakan sebagai daerah yang berpotensi terdampak.

Tirta Moedal, kata dia, terlebih dahulu berupaya mengoptimalkan debit yang tersedia, sementara masyarakat diminta tetap siaga karena ketersediaan air sangat bergantung pada kondisi sumber daya alam.

"Kami berupaya untuk memaksimalkan dan mengoptimalkan debit terlebih dahulu. Tapi memang harapan kami, masyarakat juga tetap siaga karena tergantung pada SDA, sumber daya alam," katanya.

"Kondisi sekarang kan cuaca kemarau ekstrem ini unpredictable, sehingga adapun pengumuman dan informasi serta sosialisasi itu kami fungsikan agar masyarakat siaga," terangnya.

Sementara itu, Mayang mengatakan penurunan ketersediaan air baku di IPA Kudu berkaitan dengan pasokan sumber air dari Bendung Klambu.

Mayang mengatakan, kewaspadaan terhadap kondisi tersebut telah dilakukan sejak sekitar sepekan terakhir. Menurutnya, kemarau yang semakin kering membuat dampaknya mulai lebih terasa dibandingkan sekitar dua pekan sebelumnya.

"Kalau dari kapan ini sebetulnya dalam seminggu ini kami sudah siagakan terus, siap sedia terus karena memang makin ke sini kemaraunya semakin kering. Sehingga kemarin dalam sekitar 2 minggu yang lalu masih belum terasa dampaknya," terangnya.

Ia juga menyebut informasi mengenai dampak El Nino berdasarkan keterangan BMKG. Namun, dari sisi operasional Tirta Moedal, kondisi IPA Kudu tetap berkaitan langsung dengan ketersediaan pasokan dari Bendung Klambu.

"Kami memang mengandalkan kalau IPA Kudu, dari pasokan Bendung Klambu," jelasnya.

Sementara itu, lanjut dia, pihaknya tidak hanya mengandalkan pasokan dari IPA Kudu. Jika debit semakin terbatas, pihaknya menyiapkan pengalihan pasokan dari instalasi pengolahan air lainnya.

"Saat ini kami masih berupaya untuk switching dari instalasi pengolahan air yang lain. Dan juga kami menyiagakan untuk bantuan air tangki. Kami punya enam armada, semuanya siap. Namun kembali lagi armada ini terbatas jumlahnya, jadi, kalau untuk meng-cover Semarang Timur, kami rasa lebih realistis lagi ya kami upayanya maksimal," jelasnya.

Salah satu instalasi yang disebut dapat menjadi sumber alternatif adalah IPA Pucang Gading.

Mayang menyebut, pengalihan pasokan tersebut tetap menghadapi persoalan yang sama, yakni ketersediaan sumber daya air.

"Jadi, IPA Pucang Gading. Tapi balik lagi SDA tadi ya, kami upayanya ini sudah maksimal untuk untuk terus maksimalkan debit juga," tuturnya.

Karena keterbatasan armada, bantuan air tangki disiapkan sebagai salah satu langkah penanganan, bukan satu-satunya solusi untuk mencakup seluruh wilayah Semarang Timur.

"Kami masih tetap berupaya untuk maksimalkan dari instalasi pengolahan air lain juga," ujarnya.

Puluhan wilayah berpotensi terdampak

Penurunan ketersediaan air baku IPA Kudu berpotensi berdampak terhadap sejumlah wilayah pelayanan Semarang Timur.

Tirta Moedal meminta pelanggan menggunakan air secara bijak, menyesuaikan pemakaian dengan kebutuhan sehari-hari, serta menampung air secukupnya ketika aliran masih tersedia.

Wilayah yang berpotensi terdampak antara lain Bukit Kencana Jaya, Bukit Sendangmulyo, Rowosari, Meteseh, Kebontaman, Kedungmundu, Sendangguo, Gayamsari Selatan, Kinibalu, Karanggawang, Plamongan Sari, Plamongan Indah, Penggaron, Pedurungan, Majapahit, Fatmawati, Klipang, Ketileng, Jomblang, Tentara Pelajar, Peterongan, Tanah Putih, Wahidin, dan Singotoro.

Selain itu, wilayah Kaligawe, Padi, Kapas, Tenggang, Cilosari, Sendang Indah, Masjid Terboyo, Pengapon, Raden Patah, Industri Kaligawe, Purnosari, Pasar Kobong, Genuk, Trimulyo, Widuri, Dongbiru, Karangroto, Kudu, Syuhada, Woltermonginsidi, Muktiharjo, Tlogosari, Tlogomulyo, Pedurungan Lor, Palebon, Soekarno Hatta, Citarum, Progo, Pelabuhan, Ronggowarsito, Depo Indah, Kebonharjo, Spoorland dan sekitarnya juga masuk dalam daftar wilayah yang berpotensi terdampak.

Tirta Moedal menyebut gangguan yang mungkin dialami pelanggan dapat berupa debit air mengecil hingga aliran tidak mengalir.

Sehingga, warga di wilayah yang masuk daftar tersebut diimbau tidak menunggu sampai aliran berhenti untuk menyiapkan kebutuhan air sehari-hari.

"Kami mengajak masyarakat Kota Semarang bersama-sama menghemat dan menggunakan air secara bijak, khususnya selama musim kemarau, demi menjaga keberlanjutan pelayanan air minum bagi masyarakat," katanya. (idy)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.