TRIBUNJATENG.COM - Keterbatasan akses es batu dan fasilitas penyimpanan dingin tak lagi jadi penghalang bagi nelayan Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, untuk mempertahankan kesegaran hasil tangkapannya.
Melalui Program Pengabdian Masyarakat Kolaborasi Indonesia (PMKI) 2026, tim ahli gabungan dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, dan Universitas Airlangga (Unaid) turun tangan memperkenalkan teknologi cold storage box berbasis Phase Change Material (PCM) dan hydrogel pack guna menekan risiko pembusukan ikan pascapanen.
Baca juga: Lima Tuntutan Mahasiswa Undip Semarang Singgung Presiden Blunder, AMPB Pati Hingga Karhutla
Kegiatan tersebut dilaksanakan melalui Program Pengabdian Masyarakat Kolaborasi Indonesia (PMKI) 2026 pada 11–12 Agustus 2026 di Muara Sikabaluan dan Dusun Labuan Bajau, Desa Sigapokna.
Program bertajuk “Pemberdayaan Usaha Perikanan Skala Kecil melalui Inovasi Cold Storage Box dan Hydrogel Pack untuk Peningkatan Masa Simpan dan Daya Saing Produk” ini diikuti sekitar 60 nelayan dari dua lokasi.
Tim pelaksana dipimpin oleh Dr. Damar Rastri Adhika, S.T., M.Sc. dari ITB, bersama Nor Basid Adiwibawa Prasetya, S.Si., M.Sc., Ph.D. dari UNDIP dan Dr. Suhailah, S.Si., M.Si. dari UNAIR, serta mahasiswa dari ketiga perguruan tinggi.
Salah satu persoalan yang dihadapi masyarakat nelayan di Kepulauan Mentawai adalah terbatasnya akses terhadap sistem rantai dingin atau cold chain.
Kondisi tersebut membuat penanganan ikan setelah ditangkap menjadi penting karena perubahan suhu selama penyimpanan dapat memengaruhi mutu hasil perikanan.
Nor Basid menjelaskan kegiatan diawali dengan edukasi mengenai penanganan hasil perikanan pascapanen sebelum nelayan diajak mengikuti praktik pembuatan komponen pendingin.
“Pelatihan diawali dengan sosialisasi mengenai pentingnya penanganan hasil perikanan pascapanen. Setelah itu kami melakukan demonstrasi dan praktik bersama nelayan, sehingga masyarakat tidak hanya menerima teknologi, tetapi juga memahami cara membuat dan menggunakannya,” ujar Nor Basid.
Manfaatkan PCM dan Hydrogel Pack
Teknologi yang diperkenalkan memanfaatkan PCM dan hydrogel pack sebagai media penyimpan energi termal.
Material tersebut digunakan untuk membantu mempertahankan suhu di dalam cold storage box agar kondisi dingin dapat bertahan lebih lama.
Penggunaan sistem tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi ketergantungan nelayan terhadap penggunaan es batu secara konvensional, terutama ketika hasil tangkapan harus disimpan atau dibawa dalam perjalanan sebelum sampai ke konsumen.
Dengan kondisi penyimpanan yang lebih terjaga, mutu ikan diharapkan dapat dipertahankan lebih lama sehingga potensi kerugian pascapanen dapat ditekan.
Dalam jangka lebih lanjut, kualitas hasil tangkapan yang lebih baik juga berpotensi mendukung peningkatan nilai ekonomi produk perikanan.
Namun, program ini tidak hanya berfokus pada penggunaan cold storage box sebagai produk jadi. Nelayan juga diperkenalkan pada bahan dan proses pembuatan komponen pendinginnya.
Peserta mengikuti demonstrasi, kemudian mempraktikkan secara langsung pembuatan panel PCM dan hydrogel pack dengan pendampingan dari tim dosen dan mahasiswa.
Dorong Nelayan Mampu Membuat Sendiri
Ketua tim pelaksana PMKI 2026, Damar Rastri Adhika, mengatakan bahwa kemampuan masyarakat untuk melanjutkan pemanfaatan teknologi setelah program selesai menjadi salah satu perhatian tim.
“Mahasiswa membantu melatih pembuatan cold storage box dan hydrogel pack. Kami juga memilih perwakilan warga untuk mendapatkan pendampingan khusus agar keterampilan ini dapat terus dikembangkan setelah tim kembali,” kata Damar.
Pendekatan tersebut dilakukan agar program tidak berhenti pada penyerahan alat.
Perwakilan masyarakat yang memperoleh pendampingan diharapkan dapat meneruskan pengetahuan kepada nelayan lainnya.
Antusiasme masyarakat terlihat selama pelatihan.
Nelayan aktif berdiskusi dan mencoba langsung proses pembuatan panel PCM maupun hydrogel pack, termasuk membahas penggunaannya dalam aktivitas penangkapan dan penyimpanan ikan sehari-hari.
Mahasiswa Tiga Kampus Turun Langsung
PMKI 2026 juga melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu, antara lain Teknologi Nano ITB, Kimia UNDIP, dan Rekayasa Nanoteknologi UNAIR.
Keterlibatan mahasiswa lintas disiplin menjadi bagian dari proses transfer pengetahuan sekaligus memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk melihat penerapan ilmu yang dipelajari di kampus dalam kondisi nyata di masyarakat.
Sebagai bagian dari keberlanjutan kegiatan, tim menyerahkan empat unit cold storage box beserta bahan dan perlengkapan pendukung kepada perwakilan masyarakat di lokasi kegiatan.
Baca juga: Durian Padel Buka di Semarang Atas, Lapangan Panoramic Ada di Dalam Gang Dekat Undip
Perangkat tersebut diharapkan dapat terus dimanfaatkan oleh kelompok nelayan sekaligus menjadi sarana untuk menerapkan kembali keterampilan pembuatan komponen pendingin yang telah diperoleh selama pelatihan.
Melalui kolaborasi ITB, UNDIP, dan UNAIR, PMKI 2026 mempertemukan pengetahuan dari perguruan tinggi dengan persoalan yang dihadapi masyarakat pesisir.
Teknologi pendinginan yang diperkenalkan diharapkan dapat membantu nelayan Mentawai menjaga mutu hasil tangkapan sekaligus memperkuat pengelolaan hasil perikanan skala kecil di wilayah kepulauan. (*)