Jelang Super League, PSIM Yogyakarta Sowan ke Sri Sultan HB X hingga Ziarah ke Makam Raja Mataram
Muhammad Fatoni August 27, 2026 09:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sejumlah agenda dilakukan PSIM Yogyakarta jelang berlaga di Super League 2026/2027.

Selain menggelar latihan hingga laga uji coba pramusim, jajaran manajemen hingga pemain Laskar Mataram juga melakukan beberapa agenda lain.

Di antaranya sowan ke Gubernur DIY sekaligus Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X, serta ziarah ke makam Raja-Raja Mataram di Kotagede dan Imogiri.

Khusus untuk ziarah ke Makam Raja-Raja Mataram, memang seolah telah menjadi ritual atau tradisi PSIM Yogyakarta sejak beberapa tahun lalu, sebelum mengarungi kompetisi.

Kegiatan tersebut diikuti oleh jajaran manajemen, staf pelatih dan para pemain serta ofisial PSIM Yogyakarta.

Sowan ke Sri Sultan HB X 

Pada Kamis (27/8/2026), jajaran manajemen PSIM Yogyakarta sowan ke Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X.

Pertemuan tersebut berlangsung di Gedhong Wilis, Kompleks Kepatihan, Kantor Gubernur DIY. 

Sejumlah petinggi PSIM Yogtakarta hadir dalam kesempatan itu.

Di antaranya Direktur Utama PSIM Yogyakarta, Yuliana Tasno, pelatih kepala PSIM Yogyakarta Jean-Paul van Gastel, Manajer Tim Iksan Mahar, serta Manajer Operasional Wendy Umar.

Dalam pertemuan tersebut, Sri Sultan HB X tidak hanya memberikan perhatian terhadap persiapan teknis tim, tetapi juga menyoroti aspek manajerial hingga kepemimpinan di tubuh PSIM Yogyakarta.

SOWAN - Dirut PSIM Yogyakarta, Yuliana Tasno saat memberikan keterangan usai menemui Sri Sultan Hamengku Buwono X, Kamis (27/8/2026).
SOWAN - Dirut PSIM Yogyakarta, Yuliana Tasno saat memberikan keterangan usai menemui Sri Sultan Hamengku Buwono X, Kamis (27/8/2026). (Tribun Jogja/Almurfi Syofyan)

Yuliana Tasno mengungkapkan, Sri Sultan HB X memberikan sejumlah wejangan yang dinilainya penting untuk menjaga performa dan kedisiplinan pemain sepanjang kompetisi.

Salah satunya terkait pola hidup para pemain.

Sri Sultan mengingatkan agar kedisiplinan pemain tidak hanya diawasi saat berada di lapangan, tetapi juga dalam keseharian.

Ngarsa Dalem tadi banyak ya, tidak hanya dari satu sisi teknis, tapi juga dari sisi manajerial. Dari kepemimpinan saya juga diberi wejangan,” ujar Yuliana Tasno.

Baca juga: Njaga Marwah, Ngrumat Sejarah Jadi Tema Besar Peluncuran Tim PSIM Yogyakarta Sabtu 29 Agustus 2026

Ia kemudian menceritakan pesan Sri Sultan HB X mengenai kedisiplinan pemain.

“Contoh pas ngomongin performa, Ngarsa Dalem bilang, itu dilihatin ya anak-anak jangan makan gorengan. Nanti di belakang juga diam-diam dia makan gorengan,” kata Yuliana menirukan pesan Sultan.

Menurut Yuliana, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa pengelolaan tim tidak berhenti pada urusan pertandingan. Integritas dan kedisiplinan pemain juga harus terus dipantau.

“Ditekankan bahwa kedisiplinan harus terus dipantau. Integritas pemain juga harus dipantau. Hati-hati dalam memenej kesebelasan PSIM,” tuturnya.

Selain urusan teknis dan kedisiplinan, Sri Sultan HB X juga mendorong PSIM Yogyakarta untuk lebih kreatif dalam mengembangkan sumber pendapatan klub.

Yuliana menyebut Sultan mempertanyakan kemungkinan PSIM mencari tambahan investasi melalui pengembangan revenue, sehingga klub tidak sepenuhnya bergantung pada pengusaha atau pemilik modal.

“Dari sisi manajerial, beliau bertanya, bisa nggak kamu cari investasi tambahan dari revenue?Supaya PSIM ini tidak bergantung kepada pengusaha saja, tapi bagaimana kita bisa mencari revenue tambahan,” ujarnya.

Menurut Yuliana, perhatian Sultan terhadap pengelolaan klub membuat dirinya semakin bersyukur memimpin PSIM. Ia menilai pemahaman Sultan terhadap olahraga, khususnya sepak bola, membuat pembicaraan berjalan cair dan nyambung.

“Beliau betul-betul paham. Saya sebagai Presiden Direktur PSIM sangat bersyukur karena menjadi Presdir klub sepak bola di Yogyakarta, yang dipimpin seorang Gubernur sekaligus Sultan yang sangat cinta olahraga,” katanya.

Ziarah Makam Raja-Raja Mataram

Sebelumnya, seluruh elemen PSIM Yogyakarta juga menjalani salah satu agenda pra-musim dengan berziarah ke makam raja-raja Mataram di Kotagede dan Imogiri, Rabu (26/8/2026).

Rombongan yang terdiri dari pemain, jajaran pelatih, serta perwakilan manajemen berangkat bersama dari Wisma PSIM Yogyakarta sekitar pukul 14.00 WIB.

Kegiatan tersebut menjadi agenda tahunan PSIM Yogyakarta menjelang kompetisi resmi.

Tak sekadar menjadi kegiatan spiritual, ziarah ini juga menjadi momentum bagi seluruh elemen tim untuk kembali mengenal dan memperkuat ikatan dengan akar budaya di Bumi Mataram dan Kota Yogyakarta.

Suasana khidmat terasa sepanjang kunjungan ke dua tempat bersejarah tersebut.

Para pemain dan ofisial memberikan penghormatan kepada para leluhur yang memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah Mataram Islam.

Pemain PSIM Yogyakarta, Savio Sheva Maresca, menilai kegiatan tersebut memiliki makna penting bagi para penggawa Laskar Mataram.

Menurutnya, memahami sejarah dan budaya menjadi bagian dari proses membangun karakter sebuah tim.

“Ziarah ini cara kami merawat ingatan terhadap sejarah panjang dan nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu. Berada di sini membuat kami sadar bahwa lambang di dada yang kami bela bukan sekadar identitas di atas lapangan, melainkan bagian dari warisan budaya yang memiliki tanggung jawab besar,” ujar Savio.

Punggawa PSIM Yogyakarta berfoto bersama seusai berziarah ke makam Raja-raja Mataram di Kotagede dan Imogiri, Bantul, Rabu (26/8/2026).
Punggawa PSIM Yogyakarta berfoto bersama seusai berziarah ke makam Raja-raja Mataram di Kotagede dan Imogiri, Bantul, Rabu (26/8/2026). (Dok PSIM Yogyakarta)

Menurutnya, identitas PSIM tidak hanya melekat pada pertandingan dan kompetisi.

Ada nilai sejarah serta budaya yang ikut melekat di balik nama Laskar Mataram.

Hal senada disampaikan Khairul Fikri Maarif.

Meski ziarah tersebut bukan kali pertama diikutinya, kunjungan ke situs bersejarah di Kotagede dan Imogiri tetap memberikan pengalaman tersendiri.

Ia merasa kegiatan tersebut membuat para pemain semakin dekat dengan kultur masyarakat lokal sekaligus memahami akar identitas yang melekat pada PSIM Yogyakarta.

“Datang ke tempat bersejarah ini memberi saya pemahaman yang lebih dalam tentang akar dan identitas tim,” kata Fikri.

Pemahaman tersebut juga menjadi motivasi bagi Fikri untuk membawa semangat perjuangan generasi terdahulu ke dalam perjalanan PSIM menghadapi musim 2026/2027. 

PSIM berharap agenda tersebut tidak hanya memperkuat ikatan seluruh elemen tim dengan akar budaya Yogyakarta, tetapi juga menjadi tambahan motivasi bagi para pemain untuk memberikan perjuangan terbaik saat kompetisi Super League 2026/2027 bergulir. (*/mur)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.