Kisah Aryanto Misel Kembali Viral, Penemu APAR Kulit Singkong yang Jual Hak Paten ke Jepang
Hendrik Budiman August 27, 2026 09:53 PM

 

TRIBUNBENGKULU.COM - Nama Aryanto Misel kembali menjadi sorotan setelah Presiden Prabowo Subianto menyinggung inovasi "Ubi Bombing" sebagai salah satu alternatif untuk membantu mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Gagasan tersebut disampaikan Prabowo saat memimpin rapat penanganan karhutla di Palembang, Sumatera Selatan, Senin (24/8/2026).

Dalam rapat tersebut, Prabowo meminta jajarannya mencari alternatif bahan yang dinilai lebih efektif untuk membantu memadamkan api, tidak hanya mengandalkan air.

Baca juga: Mengenal ‘Ubi Bombing’ Prabowo Klaim Bisa Padamkan Karhutla, Benarkah Efektif?

Prabowo juga meminta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengecek kemungkinan pengembangan maupun pengadaan bahan pemadam berbasis zat kimia.

Pernyataan tersebut kemudian kembali mengingatkan publik pada sosok Aryanto Misel, inventor asal Indonesia yang sebelumnya telah mengembangkan teknologi pemadam api berbahan dasar singkong.

Tak hanya membuat inovasi tersebut, Aryanto mengaku hak paten pemadam api berbahan kulit singkong hasil temuannya telah dijual ke Jepang.

Pemadam Api dari Kulit Singkong

Kisah inovasi Aryanto Misel kembali ramai setelah cuplikan wawancaranya dalam program Kompas TV beredar di media sosial.

Dalam tayangan yang diunggah kembali akun Instagram zonamahasiswa.id, Aryanto menjelaskan alat pemadam api yang dikembangkannya menggunakan bahan organik dari kulit singkong.

Saat itu, presenter Aiman bertanya mengenai alat yang berada di hadapan Aryanto.

"Ini apa, Pak?" tanya Aiman dalam tayangan tersebut.

Aryanto kemudian menunjukkan alat pemadam api temuannya sekaligus menjelaskan bahan yang digunakan.

Menurutnya, alat tersebut tidak menggunakan campuran bahan kimia.

"Alat pemadam kebakaran organik semua," ujar Aryanto.

Aiman kemudian mempertanyakan alasan kulit singkong digunakan sebagai bahan pemadam api.

Aryanto menjelaskan, kulit singkong mengandung potasium sitrat yang menurutnya dapat membantu memutus rantai pembakaran.

"Di dalam kulit singkong ada kandungan potasium sitrat. Ini bisa melawan api. Bukan menutup oksigen. Tapi memutus mata rantai pembakaran," jelasnya.

Aryanto juga mengembangkan serbuk singkong tersebut menjadi beberapa bentuk alat pemadam kebakaran.

Salah satunya dibuat dalam bentuk bola yang dapat digunakan dengan cara dilemparkan ke sumber api.

Hak Paten Dijual ke Jepang Rp350 Juta

Dalam wawancara tersebut, Aryanto mengungkapkan bahwa hak paten atas inovasi pemadam api berbahan kulit singkong tersebut telah dijual ke Jepang.

Ia menyebut paten tersebut dijual pada 2017 dengan nilai sekitar Rp350 juta.

"Kenapa dijual ke Jepang, Indonesia nggak ada yang menerima," ujar Aryanto.

Ia juga mengungkapkan alasan mengapa inovasi tersebut sulit diterima di Indonesia.

"Karena barang murah itu kan nggak mau pemerintah kita," katanya.

Menurut Aryanto, produk pemadam api yang dikembangkannya memiliki harga sekitar Rp200 ribu.

Ia menyebut Jepang membeli hak paten tersebut karena khawatir penggunaan teknologi tersebut tanpa izin dapat menimbulkan persoalan hukum dengan dirinya sebagai pemegang hak atas temuan tersebut.

Cuplikan wawancara itu kemudian kembali viral dan memunculkan beragam komentar dari warganet.

Sebagian warganet menyoroti perjalanan Aryanto sebagai inventor serta berharap inovasinya mendapat perhatian lebih di Indonesia.

Siapa Sosok Aryanto Misel?

Aryanto Misel dikenal sebagai inventor yang telah menghasilkan berbagai inovasi.

Dalam wawancara yang beredar tersebut, Aryanto menyebut dirinya telah menghasilkan sekitar 120 temuan. Sejumlah inovasinya bahkan disebut telah dipasarkan atau dijual ke luar negeri.

Salah satu temuannya yang paling dikenal publik adalah Nikuba, alat yang diklaim dapat mengolah air menjadi bahan bakar untuk kendaraan bermotor.

"Sudah ada 120 alat yang sudah saya temukan termasuk Nikuba. Dan 8 di antaranya sudah saya jual ke Jepang dan Hongkong. Semenjak SMP saya suka ilmu fisika. Buat saya mempelajari ilmu fisika memberi kenikmatan tersendiri bagi diri saya," ujar Aryanto.

Ketertarikannya terhadap fisika disebut telah muncul sejak duduk di bangku SMP.

Pada 1987, Aryanto mulai mengembangkan inovasi pertamanya berupa avtur untuk bahan bakar pesawat aeromodelling.

Kemudian pada 2005, ia membuat biodiesel berbahan minyak jelantah.

Inovasi tersebut dikembangkan ketika harga bahan bakar minyak (BBM) mengalami kenaikan dan berdampak terhadap aktivitas para nelayan.

"Pada tahun 2005 harga BBM kan pernah naik sampai 100 persen. Dari Rp2.200 per liter mencapai Rp4.500 per liter. Dan itu membuat para nelayan banyak yang tidak pergi melaut. Kemudian saya mencoba membuat Bio Diesel yang terbuat dari minyak jelantah," tuturnya.

Kembangkan Beragam Inovasi

Perjalanan inovasi Aryanto berlanjut dengan menciptakan alat pemadam api berbahan kulit singkong pada 2010.

Temuan tersebut dikembangkan dalam dua model, yakni berbentuk bola dan alat pemadam api ringan (APAR).

Inovasi lainnya berupa rompi antipeluru berbahan organik.

Rompi tersebut dibuat menggunakan serabut kelapa dan serat tebu. Aryanto menyebut inovasi itu memiliki nilai sekitar Rp800 juta dan mendapat peminat dari Hong Kong.

Ia juga mengklaim rompi antipeluru berbahan organik tersebut telah diproduksi secara massal di Hong Kong.

Kini, nama Aryanto Misel kembali menjadi perhatian setelah istilah "Ubi Bombing" yang disinggung Prabowo dalam rapat penanganan karhutla mengingatkan publik pada inovasi berbahan dasar singkong yang sebelumnya telah dikembangkan Aryanto.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.