TRIBUNKALTIM.CO - Setelah Kabupaten Berau lebih dulu menerapkan kebijakan serupa, kini giliran Pemerintah Kabupaten Kutai Barat (Pemkab Kubar) yang resmi memberlakukan Belajar dari Rumah (BDR) bagi para siswa.
Kebijakan belajar dari ruimah di Kubar ini berlaku mulai hari ini, Kamis (27/8/2026) hingga 2 September 2026.
Program belajar dari rumah di Kubar ini sebagai bentuk kesiapsiagaan menghadapi status siaga darurat kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memperburuk kualitas udara.
Hingga saat ini, dari 10 kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), baru Kubar dan Berau yang menerapkan kebijakan belajar dari rumah.
Baca juga: Asap Ancam Jam Belajar Siswa, Paser Tetapkan Status Tanggap Darurat Karhutla
Kabupaten Berau berada di wilayah paling utara, sedangkan Kubar berada di kawasan paling barat Kaltim.
Kabupaten Berau berbatasan dengan Kubar di sebelah barat.
Kebijakan Kubar tertuang dalam Surat Edaran (SE) Nomor 300.2/3753/BPBD-TU.P/VIII/2026 tentang Kesiapsiagaan terhadap Siaga Darurat Kekeringan dan Kebakaran Hutan dan Lahan di Kabupaten Kutai Barat Tahun 2026.
Bupati Kutai Barat, Frederick Edwin, menjelaskan langkah ini merupakan antisipasi pemerintah menyusul lonjakan titik panas (hotspot) yang mulai mengganggu aktivitas masyarakat.
Sebagai informasi, Frederick Edwin adalah seorang pengusaha dan politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang dilantik sebagai Bupati Kubar masa jabatan 2025–2030 oleh Presiden Prabowo Subianto pada 20 Februari 2025 lalu.
"Keselamatan dan kesehatan masyarakat menjadi perhatian utama kami.
Karena itu, kita perlu mengambil langkah pencegahan dini dan meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak karhutla," ujar Frederick, Rabu (26/8/2026).
Berdasarkan data sebaran titik panas dari SIPONGI periode 1 hingga 26 Agustus 2026, tercatat ada 801 titik panas di Kubar.
Lima kecamatan dengan hotspot tertinggi meliputi Muara Pahu (213 titik), Bongan (113 titik), Jempang (105 titik), Damai (93 titik), dan Penyinggahan (80 titik).
Kondisi ini memicu kabut asap yang membuat parameter PM2,5 dan PM10 berada di atas ambang batas normal.
Situasi ini dinilai sangat berisiko bagi kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, dan warga sensitif terhadap asap.
Selama masa BDR, program Makanan Bergizi Gratis (MBG) bagi siswa di Kubar tetap berjalan dengan koordinasi ketat antara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Agama setempat.
Selain BDR, Pemkab Kubar mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker saat di luar ruangan, mengurangi mobilitas luar ruangan demi menghindari heatstroke dan paparan asap.
Selain itu, warga juga diimbau memperbanyak konsumsi air putih, menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika ada gangguan pernapasan.
Terkait cuaca, Pemkab Kubar mengonfirmasi hujan pada 24–26 Agustus merupakan hasil dari Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Frederick mengingatkan warga agar tidak terlena mengira musim kemarau usai, mengingat fenomena El Niño membuat pola cuaca sulit diprediksi.
"Artinya, kewaspadaan tetap harus dijaga. Jangan sampai hujan membuat kita lengah karena potensi karhutla masih ada," tambah Frederick.
Sebelum Kubar, Kabupaten Berau lebih dulu menerapkan kebijakan belajar dari rumah.
Bupati Berau Sri Juniarsih Mas langsung mengeluarkan instruksi tegas melalui SE tentang Kesiapsiagaan Terhadap Siaga Darurat Karhutla yang diterbitkan pada Jumat (21/8/2026).
Pemkab Berau mewajibkan seluruh siswa menjalani pembelajaran jarak jauh selama tiga hari, terhitung sejak 24 hingga 26 Agustus 2026.
"Untuk menjaga keselamatan dan kesehatan anak-anak, seluruh siswa-siswi sekolah diwajibkan melaksanakan Belajar Dari Rumah selama 24 sampai 26 Agustus 2026," ujar Sri Juniarsih kepada TribunKaltim.co, Senin (24/8/2026).
Sri Juniarsih menjelaskan kabut asap pekat di Berau dipicu melonjaknya kasus karhutla dalam sebulan terakhir, dengan data mencatat 152 kejadian sejak awal Agustus 2026.
"Paparan kabut asap ini sangat berpotensi mengganggu kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, serta warga yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap asap," jelas politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Sri Juniarsih menjabat sebagai Bupati Berau untuk periode kedua. Ia dilantik sebagai Bupati Berau 15 April 2025 oleh Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim), Rudy Mas'ud.
Sama seperti di Kubar, selama BDR berlangsung, penyesuaian distribusi Program MBG bagi siswa di Berau juga dikoordinasikan secara ketat oleh Dinas Pendidikan bersama Kementerian Agama Kabupaten Berau.
Pemkab Berau juga merilis imbauan yang selaras: wajib menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, membatasi kegiatan di luar rumah guna mencegah heat stroke dan paparan asap ekstrem, meningkatkan konsumsi air putih, konsisten menerapkan PHBS, dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami gangguan pernapasan.
Frederick Edwin dan Sri Juniarsih juga mengimbau warga tidak melakukan aktivitas memicu api dan segera melakukan pemadaman mandiri jika melihat titik api kecil.
Keduanya juga menginstruksikan pengurus rumah ibadah, aparatur kecamatan, kelurahan, kampung, hingga ketua RT untuk aktif mensosialisasikan pencegahan karhutla dan bahaya kabut asap.
"Saya menekankan kepada seluruh pihak untuk memperhatikan dan melaksanakan instruksi dalam SE ini dengan penuh tanggung jawab, demi keselamatan dan kesehatan bersama di Kabupaten Berau," kata Sri Juniarsih.
Baca juga: Potensi Hujan Masih Ada, Raja Juli Dukung OMC Berau Dilanjutkan Tangani Karhutla
(TribunKaltim.co/Febriawan/Sri Juniarsih)