Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras Indonesia (Perpadi) Lampung mengusulkan solusi untuk menangani maraknya gabah Lampung dibawa ke luar daerah, Pulau Jawa.
Baca juga: Gabah Lampung Masih Keluar ke Jawa, Perpadi Bongkar Modus Truk Lolos Bakauheni
Solusi yang ditawarkan Perpadi ini untuk menanggulangi praktik gabah dibawa ke luar daerah, yang memicu harga padi melambung tinggi.
Perpadi masih menemukan truk membawa gabah keluar Lampung melalui Pelabuhan Bakauheni menuju Pulau Jawa. Adapun harga gabah yang keluar Lampung disinyalir mencapai Rp8.000 per kilogram.
Ketua DPD Perpadi Lampung Midi Iswanto mengusulkan adanya mekanisme khusus apabila ditemukan oknum atau pelaku yang membawa gabah keluar Lampung.
Menurut Midi, gabah yang hendak dibawa keluar daerah sebaiknya diturunkan dari kendaraan dan tetap dibeli dengan harga sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP).
Usulan tersebut dinilai dapat menjadi salah satu cara untuk mencegah pelaku kembali mencoba membawa gabah keluar Lampung setelah kendaraan diputar balik.
"Kalau ada yang tertangkap membawa gabah, harus diturunkan dan tetap dibeli dengan harga HPP. Itu untuk meminimalisir mereka putar balik lagi," kata Midi dalam rapat anggota Perpadi Lampung, Rabu (26/8/2026) di ruang BPBD BPSB Dinas KPTPH Lampung.
Ia mengatakan usulan tersebut selanjutnya akan dibahas bersama dalam rapat untuk mencari mekanisme pengawasan dan penanganan yang lebih efektif.
Persoalan keluarnya gabah dari Lampung menjadi perhatian karena terjadi bersamaan dengan kenaikan harga gabah dan beras, serta kondisi produksi yang tidak merata di sejumlah wilayah pada MT II.
Perpadi menilai perlu pengawasan yang tidak hanya dilakukan di pintu keluar seperti Pelabuhan Bakauheni, tetapi juga penelusuran terhadap rantai perdagangan gabah sejak tingkat petani hingga pembeli.
Upaya tersebut diharapkan dapat menjaga ketersediaan bahan baku bagi penggilingan padi di Lampung sekaligus mencegah kenaikan harga beras semakin membebani masyarakat.
"Jika harga gabah tinggi, harga beras pasti tinggi, jika harga beras tinggi semua kebutuhan ikut naik dan ancaman inflasi makin nampak, forum ini kita buat untuk menjaga kestabilan harga beras, kita tidak ingin masyarakat terbebani dengan tingginya harga beras," tandasnya.
Pengurus DPD Perpadi Lampung Kompartemen Publikasi dan Informasi, Evi, mengatakan berdasarkan temuan di lapangan masih ada truk yang membawa gabah keluar Lampung melalui Pelabuhan Bakauheni menuju Pulau Jawa.
Menurut Evi, persoalan tersebut tidak berhenti ketika petugas melakukan pemeriksaan. Ia menyebut, truk yang diputar balik karena membawa gabah keluar Lampung dapat kembali mencoba menyeberang setelah situasi di pelabuhan dianggap kondusif.
"Yang jadi soal, ketika dirazia mereka disuruh putar balik. Lalu setelah kondusif, mereka balik lagi, lalu lolos menyeberang. Itu terus berulang," kata Evi dalam rapat tersebut.
Evi menilai tingginya harga gabah di Lampung menjadi salah satu faktor yang mendorong gabah dibawa ke luar daerah.
Ia menyebut, harga gabah di Lampung yang berada di kisaran Rp7.000 lebih per kilogram membuat pembeli dari Pulau Jawa tetap berupaya mendapatkan pasokan dari Lampung.
"Yang di seberang menanyakan kepada calo harga padi berapa. Di Lampung misal mereka beli harga Rp7 ribu. Mereka tawarkan harga lebih sampai Pulau Jawa. Itu kenyataan faktanya," ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut juga dipengaruhi oleh permainan oknum calo gabah yang dinilai ikut mendorong kenaikan harga.
Evi meminta persoalan tersebut justru membuat pelaku usaha penggilingan padi di Lampung saling menyalahkan, saling curiga menaikan harga beli gabah, padahal itu oknum dari luar Lampung.
"Kita jangan saling menuduh antara yang di sebelah sana dan sebelah sini. Gara-gara awal mulanya itu oknum calo yang menentukan harga padi meningkat tinggi," katanya.
Ia mengatakan pengusaha penggilingan padi di Lampung pada dasarnya tetap berupaya mengikuti ketentuan pemerintah, termasuk dalam menjaga harga beras agar tidak menimbulkan persoalan baru.
"Ini serba salah harga gabah tinggi membuat penggilingan mengeluarkan operasional yang tinggi juga sementara harga beras harus tetap sesuai HET. Kalau kami jual beras harganya mahal, kami ditangkap. Sedangkan harga gabah tinggi, bagaimana kami bisa menjual beras sesuai harga yang ditentukan?" ujar Evi.
Sebelumnya, pengawasan distribusi gabah juga dilakukan Satpol PP Provinsi Lampung bersama Satgas Pangan TNI di kawasan Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan, Senin (24/8/2026).
Dalam kegiatan tersebut, petugas menemukan satu unit truk sedang yang mengangkut sekitar 10 ton gabah dan akan dibawa menuju Jawa Barat.
Petugas kemudian melakukan pemeriksaan dan berkoordinasi dengan pengemudi terkait dokumen serta tujuan pengangkutan.
Dari pemeriksaan di lapangan, pemilik gabah diketahui tidak ikut dalam perjalanan tersebut.
Petugas selanjutnya memberikan arahan kepada pengemudi untuk membawa kendaraan beserta muatannya menuju gudang terdekat.
Setelah dilakukan koordinasi, truk dan muatan gabah tersebut akhirnya diarahkan kembali ke daerah asal.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Satpol PP Provinsi Lampung M Firsada mengatakan pemantauan tersebut merupakan langkah preventif pemerintah daerah untuk memastikan mobilitas komoditas pangan tetap terpantau.
"Langkah ini merupakan bagian dari upaya preventif untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan, khususnya gabah. Kami mengedepankan koordinasi dan pendekatan yang humanis dalam setiap pelaksanaan di lapangan," ujar Firsada dalam keterangannya.
Menurutnya, pengawasan terhadap pergerakan komoditas pangan perlu dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan berbagai unsur.
Dengan demikian, distribusi pangan dapat berjalan tertib sekaligus tetap memperhatikan kepentingan masyarakat.
Firsada menambahkan, Satpol PP Provinsi Lampung bersama unsur TNI akan terus melakukan pemantauan secara terukur dengan tetap mengedepankan ketentuan yang berlaku.
"Kami akan terus berkoordinasi dengan seluruh pihak terkait. Prinsipnya, pengawasan dilakukan untuk mendukung ketersediaan pangan dan menjaga kepentingan masyarakat Lampung," katanya.
(Tribunlampung.co.id/Riyo Pratama)