Menyulap Jaring Hantu dari Laut Menjadi Material Bangunan Kelas Atas
Siti Fatimah August 27, 2026 11:11 PM

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Parongpong RAW Lab sukses mengembangkan model ekonomi sirkular dengan mengolah jaring ikan bekas  menjadi material bernilai tambah tinggi.

Langkah inovatif ini mendapat dukungan penuh dari DBS Foundation melalui kucuran dana hibah, program pendampingan, hingga membuka akses jejaring bisnis yang luas.

Sinergi berkelanjutan ini telah mencatatkan dampak lingkungan dan sosial nyata yang signifikan bagi masyarakat.

Kolaborasi ini berhasil mengumpulkan 4.500 kg jaring ikan dari laut, yang sekaligus memenuhi 46 persen target tahunan pengumpulan limbah jaring ikan oleh Parongpong.

Inisiatif lingkungan ini turut memberdayakan 179 mitra nelayan di kawasan Cilincing (Jakarta) dan Muncar (Banyuwangi). 

COO Parongpong RAW Lab Amiroh Husna Utami menjelaskan jenis limbah yang diolah antara lain jaring nelayan bekas atau ghost net hingga puntung rokok serta sampah kemasan sachet dan multilayer.

Limbah-limbah ini kemudian diolah lalu digunakan untuk berbagai produk mulai dari furnitur dan material bangunan kelas atas.

Ubah Limbah Jaring Hantu (Ghost Net) Jadi Produk Bernilai Ekonomi

Husna, panggilan akrab Amiroh Husna Utami mengatakan jaring hantu atau ghost net adalah jaring yang hilang, tertinggal, atau dibuang di laut tetap menjerat ikan dan biota laut lainnya, meskipun sudah tidak ada pemiliknya.

"Disebut jaring hantu karena meskipun sudah tidak digunakan oleh nelayan, jaring tersebut tetap "bekerja sendiri" menangkap berbagai biota laut. Pemilik jaring ini sendiri tidak ada, jadi dibiarkan begitu saja, dan tentu ini akan berdampak buruk tidak hanya bagi kehidupan nelayan tapi juga berdampak bagi lingkungan," kata Husna di Parongpong RAW Lab Jalan Dakota, Bandung.

Dampak lain dari jaring hantu ini juga bisa merusak ekosistem laut, terumbu karang dan habitat biota laut.

Selain itu, bisa menjerat serta membunuh berbagai biota laut seperti ikan, penyu, dan mamalia laut lainnya

Bagi nelayan, keberadaan jaring hantu yang dibiarkan begitu saja dapat megurangi hasil tangkapan sehingga berdampak pada produktifitas perikanan yang berujung bisa menurunkan pendapatan nelayan.

Melihat kondisi tersebut, salah satu program yang dilakukan oleh Parongpong RAW Lab adalah mengolah jaring hantu atau ghost net ini menjadi bernilai tambah sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat pesisir.

Dengan menggunakan teknologi khusus, Paropong RAW Lab mengolah limbah jaring hantu ini tanpa pembakaran langsung yang mengubahnya menjadi material sebagai bahan panel estetik dan berperforma tinggi.

Menurut Husna, untuk pengolahannya juga disesuaikan dengan karakteristik masing-masing jenis limbah.

"Jadi melalui pengolahan ini, sesuai tujuan program yakni mengintegrasikan jaring-jaring bekas tersebut ke dalam rantai nilai ekonomi sirkular," katanya. 

Ia mencontohkan produk dari hasil daur ulang jaring hantu antara lain panel dinding, meja, bangku atau kursi, hingga karya lainnya seperti kotak tisu, vas bunga, lampu, hingga jam dinding.

DBS Foundation Dukung Social Enterprises Ciptakan Dampak Berkelanjutan 

Krisis lingkungan dan kesenjangan ekonomi yang kian mendesak membutuhkan solusi bisnis yang dapat menjaga bumi sekaligus mengangkat taraf hidup masyarakat rentan.

Melihat tantangan ini, Bank DBS Indonesia melalui DBS Foundation terus memperkuat ekosistem social enterprises berbasis ekonomi sirkular melalui DBS Foundation Grant.

Program ini memberikan pendanaan, pendampingan, akses jejaring, hingga peluang kolaborasi bagi para pelaku usaha berdampak agar dapat memperbesar skala bisnisnya. 

Salah satu yang menjadi perhatian adalah isu pengelolaan limbah yang turut berdampak pada keberlanjutan ekonomi komunitas agraris dan pesisir.

Data Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup mencatat 21,85 persen dari 56,63 juta ton sampah tahunan Indonesia belum terkelola dengan maksimal.

Di saat bersamaan, Indonesia memiliki 17,25 juta petani gurem1 (Sensus Pertanian BPS) dan lebih dari 90 persen nelayan skala kecil (Kementerian Kelautan dan Perikanan) yang berada dalam kondisi rentan secara ekonomi.

Melihat tantangan ini, dua DBS Foundation Grantees Parongpong RAW Lab dan MYCL, membuktikan bahwa bisnis dapat memberikan solusi ganda.

Keduanya berhasil mengurangi limbah sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru untuk memperkuat penghidupan masyarakat sekitar. 

“Kami percaya bahwa bisnis dapat menjadi kekuatan untuk kebaikan. Melalui DBS Foundation Grant Program, kami ingin membantu social enterprises memperkuat fondasi bisnisnya, mengakses jejaring yang relevan, serta memperbesar dampak bagi komunitas yang membutuhkan. Parongpong RAW Lab dan MYCL menunjukkan bagaimana inovasi lokal dapat menjawab isu lingkungan, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi nelayan, petani, dan masyarakat yang selama ini berada di rantai nilai yang rentan,” ujar Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia Mona Monika. 

Sejak 2015, DBS Foundation telah menyalurkan lebih dari SGD21,5 juta dalam bentuk hibah kepada lebih dari 160 social enterprises di Asia.

Di Indonesia, DBS Foundation telah mengalokasikan lebih dari SGD4 juta dalam bentuk hibah kepada lebih dari 20 social enterprises dan bisnis berdampak yang inovatif.

Dukungan ini menjadi bagian dari komitmen DBS Foundation untuk meningkatkan kualitas hidup dan mata pencaharian komunitas rentan, baik melalui pemenuhan kebutuhan dasar, peningkatan inklusi keuangan dan digital, maupun penguatan usaha berdampak yang mampu menghadirkan solusi berkelanjutan.

Komitmen ini ditegaskan oleh Head of DBS Foundation Karen Ngui.

“Mendukung social enterprises seperti Parongpong RAW Lab dan MYCL merupakan bagian dari upaya berkelanjutan kami untuk mendorong pertumbuhan purpose driven businesses dan memungkinkan mereka memperbesar skala bisnis sekaligus memperluas dampaknya. Keduanya menunjukkan bagaimana business-led solutions dapat berperan penting dalam membangun ketahanan sosial dan ekonomi di komunitas mereka. Saya sangat senang melihat bagaimana para social enterprises muda di Indonesia berkomitmen membawa perubahan, menjalankan bisnis dengan memberikan dampak positif,” ujar Karen 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.