Pierre-Emile Hojbjerg Dicopot dari Jabatan Kapten Marseille setelah Menolak Pindah ke Newcastle meski Kesepakatan £15 Juta Sudah Tercapai
Rina Kusumawati August 28, 2026 04:37 AM

"Itu keputusan yang tidak saya setujui" - pelatih Marseille Bruno Genesio angkat bicara soal pencopotan ban kapten Hojbjerg.

Pierre-Emile Hojbjerg langsung menerima tindakan disipliner di Marseille setelah menggagalkan kepulangannya yang menguntungkan ke Liga Primer. Gelandang asal Denmark itu dicopot dari jabatan kapten klub setelah menolak bergabung dengan Newcastle United, meskipun kesepakatan transfer resmi telah dicapai antara kedua tim.

Ban kapten dicabut dari Hojbjerg

Dampak dari keputusan Hojbjerg untuk menolak kepindahan ke Newcastle United berlangsung cepat dan keras di Orange Velodrome. Walau Marseille dan Newcastle sudah mencapai kesepakatan penuh untuk transfer senilai £15 juta, mantan gelandang Tottenham Hotspur itu justru memilih berbalik arah secara mendadak, sebuah langkah yang membuat jajaran petinggi klub Prancis tersebut murka.

Pemain berusia 31 tahun itu sebelumnya menyatakan keinginannya untuk tetap bertahan di selatan Prancis, tetapi penolakannya untuk memuluskan transfer yang sebenarnya bisa sangat membantu kondisi keuangan Marseille berujung pada hilangnya peran kepemimpinan yang ia pegang di dalam skuad.

Bukti penurunannya dari posisi tersebut terlihat jelas dalam laga uji coba hari Jumat melawan Atletico Madrid, ketika daftar susunan pemain mengonfirmasi perubahan kepemimpinan. Hojbjerg tetap masuk dalam susunan starter pilihan pelatih Bruno Genesio, tetapi ban kapten justru diberikan kepada pemain internasional Amerika Serikat, Timothy Weah.

Genesio juga mengungkapkan bahwa keputusan itu dibuat oleh manajemen klub dan mengakui dirinya tidak sepakat. Ia berkata: "Saya akan berbicara terus terang, itu adalah keputusan manajemen yang tidak saya setujui."

Tekanan finansial di OM

Pemilik Marseille, Frank McCourt, dikabarkan sangat marah dengan sikap sang pemain. Laporan di Prancis menyebut pengusaha asal Amerika Serikat itu masih merasa "kesal" dengan situasi tersebut. Klub sedang berada di bawah tekanan besar untuk memangkas tagihan gaji yang sangat tinggi pada musim panas ini karena kesulitan keuangan yang terus berlangsung, dan pemasukan pasti dari The Magpies seharusnya bisa memberi ruang bernapas yang sangat dibutuhkan.

Dengan menghalangi kepergiannya, Hojbjerg menempatkan dirinya dalam posisi yang rumit, ketika loyalitasnya kepada tim justru dipandang sebagai hambatan bagi keberlanjutan jangka panjang klub serta rencana perekrutan mereka.

Gelandang veteran itu awalnya bergabung dengan Marseille dengan status pinjaman dari Spurs pada musim 2024-25, dalam kesepakatan yang mencakup klausul pembelian wajib senilai £17 juta yang resmi diaktifkan pada awal tahun ini. Namun, keinginan klub untuk segera menjualnya hanya beberapa bulan kemudian menegaskan betapa labilnya kondisi ekonomi mereka saat ini.

Musim panas penuh frustrasi Newcastle berlanjut

Bagi Newcastle United, penolakan ini menjadi pukulan lain dalam musim panas yang sudah dipenuhi gejolak besar di St. James' Park. The Magpies menilai Hojbjerg sebagai sosok berpengalaman yang ideal untuk menjadi pengatur dan jangkar lini tengah bagi pelatih kepala baru Matthias Jaissle, tetapi kini mereka harus mencari opsi lain untuk memperkuat tim.

Klub itu sudah lebih dulu mengalami pengurasan talenta besar pada bursa transfer kali ini, setelah menyetujui penjualan bernilai tinggi atas mantan kapten Bruno Guimaraes ke Arsenal, winger andalan Anthony Gordon ke Barcelona, serta Sandro Tonali ke Tottenham.

Kesulitan dalam perekrutan itu mengikuti kepergian mengejutkan Eddie Howe, sosok yang mengakhiri puasa trofi klub dan membawa mereka kembali ke Liga Champions, yang mundur pada 31 Juli.

Apa berikutnya untuk Hojbjerg?

Terlepas dari langkah disipliner internal tersebut, Hojbjerg tetap menjadi pemain yang sangat diminati pada pekan-pekan terakhir bursa transfer Eropa. Walaupun ia telah menyatakan preferensinya untuk bertahan di Marseille, memburuknya hubungan dengan jajaran petinggi klub bisa memaksanya hengkang di akhir jendela transfer ke tujuan lain.

AC Milan disebut terus memantau situasi ini dengan saksama dan dapat memberi pemain Denmark itu jalur alternatif untuk meninggalkan Prancis apabila posisinya di Marseille menjadi tidak lagi memungkinkan setelah kehilangan jabatan kapten.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.