TRIBUNFLORES.COM, WAE KAJONG - Tenaga kesehatan Puskesmas (PKM) Wae Kajong di Kecamatan Reok Barat, Kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur, tetap memberikan pelayanan kepada masyarakat di tengah situasi darurat pasca gempa mengguncang Flores, Sabtu (15/8/2026) lalu.
PKM Wae Kajong merupakan salah satu PKM di Manggarai yang terdampak gempa Flores dengan kekuatan M 7,7. Jarak dari Kota Ruteng ke PKM Wae Kajong sekitar 80-90 Kilo Meter.
Dalam rangka memperlancar pelayanan pasca gempa, pihak Puksesmas mendirikan dua posko di halaman rumah dinas PKM Wae Kajong, Desa Kajong, Kecamatan Reok Barat.
Disana ada dua jenis pelayanan, yaitu rawat jalan dan KIA persalinan.
Baca juga: Perjuangan Moat Ambo Jatuh ke Laut Peluk Tiang Dermaga 1 Jam, Selamatkan Penumpang saat Gempa Flores
Jumat (28/8/2026) sekitar pukul 08.30 WITA, Nakes PKM Wae Kajong melayani proses persalinan seorang ibu di posko darurat pelayanan kesehatan.
Ibu hamil tersebut adalah Efleni Y.L. Yusman, warga Desa Lante, Kecamatan Reok Barat.
Efleni berhasil melahirkan seorang bayi laki-laki. Bayi dari pasangan Petrus W. Handa dan Efleni Y.L. Yusman itu lahir dengan berat badan 2.900 gram dan panjang badan 48 sentimeter.
Berdasarkan data pelayanan, bayi tersebut dalam kondisi sehat dengan lingkar kepala 31 sentimeter. Kondisi ibu juga dilaporkan baik setelah proses persalinan.
Petrus W. Handa mengaku bersyukur dan bangga karena persalinan berlangsung aman dan lancar di tengah berbagai keterbatasan.
Ia mengaku posko pelayanan masih menggunakan tenda darurat dengan fasilitas seadanya.
Selain itu, kondisi listrik padam dan tenaga kesehatan maupun masyarakat masih menghadapi trauma akibat kemungkinan terjadinya gempa susulan.
Baca juga: Tenda Darurat Jadi Ruang Belajar, Mahasiswa PGSD Unika Ruteng Dampingi Anak SDK Pahar Pascagempa
"Meski ada keterbatasan tersebut tidak menyurutkan semangat tenaga kesehatan untuk memberikan pelayanan,"ujar penuh haru.
Proses persalinan ditangani oleh bidan Yuliana Fransiska Murni.
Bidan Yuliana mengaku tetap merasakan ketakutan saat menjalankan tugas di tengah situasi bencana.
"Sebagai bidan, tentu ada rasa takut. Jantung berdebar, tubuh lelah, dan pikiran terus waspada. Namun di hadapan seorang ibu yang membutuhkan pertolongan, rasa takut harus dikesampingkan,''ungkap Yuliana.
Menurut Yuliana, rasa takut tersebut seakan hilang ketika akhirnya terdengar tangisan pertama sang bayi.
Tangisan bayi tersebut menghadirkan rasa lega, haru, dan syukur bagi tenaga kesehatan yang membantu proses persalinan.
"Di tengah bencana, sebuah kehidupan berhasil diselamatkan. Di tengah gelapnya listrik yang padam, lahir cahaya harapan baru,"ujarnya.
Sementara itu Kepala UPTD PKM Wae Kajong, Bonefasius Ceisman, mengapresiasi kerja keras Tim Gerak Cepat (TGC) KIA PKM Wae Kajong dalam memberikan pelayanan persalinan di tengah kondisi darurat.
"Puji Tuhan, TGC KIA PKM Wae Kajong hari ini melayani proses persalinan dengan baik, walaupun fasilitas yang kurang memadai di posko. Proses persalinannya tidak lama. Keadaan ibu baik, bayi sehat,” kata pria yang akrab disapa Beni ini.
Beni menilai keberhasilan tersebut tidak terlepas dari kerja keras para bidan yang tetap menjalankan tugas meski berada dalam situasi penuh keterbatasan.
Beni juga menyampaikan pihak keluarga mengaku puas terhadap pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan PKM Wae Kajong.
"Dalam motto KIA, datang satu pulang dua,"ujarnya.
Beni mengatakan kelahiran bayi tersebut menjadi salah satu momen yang memberi harapan di tengah situasi bencana.
Ia mengatakan di tengah ketakutan, keterbatasan fasilitas, listrik yang padam, dan trauma gempa susulan, pelayanan kesehatan tetap berjalan untuk memastikan keselamatan ibu dan bayi.
Ia berharap semoga Pulau Flores cepat pulih dan gempa susulan tidak terjadi lagi sehingga masyarakat bisa beraktivitas seperti biasa. (Penulis: Agustinus Acer, Nakes PKM Wae Kajong/kgg).