Penanganan HIV AIDS di Belu Butuh Keterlibatan Lintas Sektor, Pastikan ODHIV Dapat Pengobatan Rutin
OMDSMY Novemy Leo August 28, 2026 01:19 PM

 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Agustinus Tanggur

POS-KUPANG.COM, ATAMBUA Untuk mendukung pengendalian HIV/AIDS, Dinkes Belu melakukan penyuluhan kepada masyarakat, pendampingan terhadap ODHIV yang putus obat, distribusi reagen dan obat HIV, serta peningkatan kapasitas tenaga kesehatan melalui pelatihan.

Dinkes juga melibatkan kader HIV, Kelompok Dukungan Sebaya dan Warga Peduli AIDS dengan dukungan lembaga swadaya masyarakat.

"Penanganan HIV/AIDS membutuhkan keterlibatan lintas sektor, terutama untuk mempercepat penemuan kasus dan memastikan ODHIV mendapatkan pengobatan secara berkelanjutan. Kalau kita ingin menemukan kasus lebih banyak dan memastikan mereka masuk pengobatan, tidak bisa hanya Dinas Kesehatan. Semua sektor harus terlibat,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Belu, dr. Bathseba Elena Corputty, MARS.

Hal ini dikatakan Bathseba Elena Corputty, dalam pertemuan koordinasi upaya pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS wilayah perbatasan Belu-Timor-Leste, kolaborasi antara Pemda Belu, CD Bethesda Yakkum dan INCSIDA Timor Leste, di aula Hotel Nusantara 1 Atambua. Jumat (28/8/2026).

Pertemuan ini dibuka secara resmi oleh Asisten 1 Setda Belu, Drs. Nikolaus Umbu K. Birri yang dihadiri juga Presiden INCSIDA Timor Leste Daniel Marcal, serta Koordinator CD Bethesda Area Belu Almada Lasi, serta intansi terkait.

Stigma dan diskriminasi terhadap ODHIV juga masih ditemukan di masyarakat. “Stigma dan diskriminasi ini masih ada sampai sekarang,” kata Bathseba Elena Corputty.

Saat ini, pelayanan HIV tersedia di 17 Puskesmas dan dua rumah sakit, sedangkan layanan perawatan, dukungan dan pengobatan (PDP) tersedia di lima Puskesmas dan dua rumah sakit.

Dinkes berencana menambah layanan PDP di Puskesmas agar akses pasien terhadap pengobatan semakin dekat.

“Ke depan kita akan tambah klinik PDP supaya pasien yang mengambil obat tidak harus jauh-jauh turun ke kota,” ujar Bathseba Elena Corputty.

Selain pelayanan di fasilitas kesehatan, Dinkes melakukan mobile visit, konseling dan tes HIV dengan menyasar desa, kelurahan dan kelompok berisiko.

Pemeriksaan juga dilakukan di sejumlah lokasi, termasuk lembaga pemasyarakatan, tempat hiburan, restoran dan karaoke serta salon.

Dinkes juga melakukan pemeriksaan HIV terhadap ibu hamil sebagai upaya mencegah penularan HIV dari ibu kepada anak.

Lebih lanjut Bathseba Elena Corputty menjelaskan terkait data HIV/AIDS di Belu. Dinas Kesehatan Kabupaten Belu mencatat 31 kasus baru HIV/AIDS sepanjang Januari hingga Juli 2026.

Kasus tersebut ditemukan pada sejumlah kelompok usia dan kelompok risiko, dengan sebaran kasus HIV yang telah menjangkau seluruh kecamatan di Kabupaten Belu.

“Dari Januari sampai Juli 2026, ada 31 kasus baru yang kita temukan. Kasus ini tersebar pada beberapa kelompok usia,” kata Bathseba Elena Corputty.

Berdasarkan data Dinkes, kelompok usia 25-49 tahun menjadi penyumbang kasus terbanyak dengan 16 kasus. Kemudian usia di atas 50 tahun sebanyak sembilan kasus, usia 20-24 tahun lima kasus, dan usia 5-19 tahun satu kasus.

“Dari data ini, kasus paling banyak berada pada usia produktif, yaitu 25 sampai 49 tahun,” ujar Bathseba Elena Corputty.

Selain kasus baru, Dinkes Belu juga mencatat sebanyak 450 Orang dengan HIV (ODHIV) yang masih hidup dan telah mengetahui status HIV mereka.

Bathseba Elena Corputty mengatakan, ODHIV tersebut tersebar di seluruh 12 kecamatan di Kabupaten Belu.

“Semua kecamatan ada. Jadi ODHIV ini sudah tersebar di seluruh kecamatan,” kata Bathseba Elena Corputty.

Atambua Barat menjadi wilayah dengan jumlah ODHIV terbanyak, yakni 78 orang. Kemudian Atambua Selatan sebanyak 67 orang dan Kota Atambua 65 orang.

Selanjutnya Kakuluk Mesak sebanyak 52 orang, Tasifeto Timur 43 orang, Tasifeto Barat 42 orang, Raihat 38 orang, Lamaknen 17 orang, Nanaet Duabesi 14 orang, Raimanuk 13 orang, Lamaknen Selatan 11 orang, dan Lasiolat 10 orang.

“Yang paling banyak itu di Atambua Barat. Kemudian Atambua Selatan dan Kota Atambua,” jelas Bathseba Elena Corputty.

Secara kumulatif, Dinkes Belu mencatat 571 kasus HIV telah ditemukan sejak pemeriksaan HIV dilakukan.

Dari jumlah tersebut, 119 orang telah meninggal dunia, sementara 450 orang masih hidup dan sudah mengetahui status HIV.

Dari 450 ODHIV tersebut, sebanyak 442 orang telah mendapatkan terapi ARV, sedangkan delapan orang masih dalam proses penelusuran untuk memastikan mereka kembali mendapatkan pengobatan.

“Dari 450 orang yang hidup dan sudah tahu statusnya, 442 sudah mendapatkan pengobatan. Delapan orang masih kita cari supaya bisa kembali mengikuti pengobatan,” kata Bathseba Elena Corputty.

Untuk pemeriksaan viral load, sebanyak 419 orang telah memenuhi syarat dan menjalani pemeriksaan.

Bathseba Elena Corputty juga menjelaskan, terapi ARV bertujuan menekan jumlah virus HIV di dalam tubuh.

RAKOR HIV AIDS DI BELU 4
RAKOR HIV AIDS - Suasana pertemuan koordinasi upaya pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS wilayah perbatasan Belu-Timor-Leste, kolaborasi antara Pemda Belu, CD Bethesda Yakkum dan INCSIDA Timor Leste, di aula Hotel Nusantara 1 Atambua. Jumat (28/8/2026).

“Kalau minum ARV secara teratur, virusnya bisa ditekan. Bahkan bisa sampai tidak terdeteksi,” ujar Bathseba Elena Corputty.

Dinkes Belu juga melakukan pemetaan berdasarkan kelompok risiko. Pasangan berisiko tercatat sebagai kelompok dengan jumlah kasus tertinggi, yakni 12 kasus.

Kemudian pelanggan pekerja seks sebanyak delapan kasus, LSL enam kasus, TGC dua kasus, ibu hamil satu kasus, anak satu kasus, dan WPS satu kasus. Sementara kelompok waria tercatat nol kasus.

Lebih lanjut, Bathseba Elena Corputty mengatakan, pengendalian HIV/AIDS di Belu masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah masih adanya ODHIV yang putus minum obat.

“Putus obat masih ada. Salah satu kendalanya karena akses untuk mendapatkan pelayanan dan obat cukup jauh,” jelas Bathseba Elena Corputty.

Selain itu, masih ada kelompok berisiko yang belum melakukan pemeriksaan HIV. Dinkes juga menyoroti keterbatasan tenaga penjangkau dan pendamping komunitas yang belum tersedia secara merata di seluruh desa dan kelurahan. (gus) 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.