Lahir Jumat Wage dalam Wuku Warigagung? Begini Gambaran Karakternya
Joko Widiyarso August 28, 2026 02:03 PM

TRIBUNJOGJA.COM - Dalam tradisi Jawa, hari kelahiran tidak hanya dipandang sebagai penanda waktu seseorang lahir.

Ada pula perhitungan weton dan wuku yang sejak lama digunakan untuk membaca berbagai gambaran mengenai watak, kebiasaan, hingga perjalanan hidup seseorang.

Salah satunya adalah Wuku Warigagung, wuku ke-16 dalam siklus Pawukon.

Disadur dari buku Primbon Pawukon Bayi Lahir, terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta. 

Orang yang lahir pada Jumat Wage dan berada dalam Wuku Warigagung digambarkan memiliki sejumlah karakter yang menarik.

Sosoknya disebut memiliki banyak tutur kata, tetapi di sisi lain justru dikenal sebagai pribadi yang cukup tenang dan pendiam ketika menjalankan pekerjaan.

Ada sisi lain yang membuat karakter ini terasa unik.

Hati-hati sebelum bertindak

orang berpikir
orang berpikir (ohafi.com.tr)

Dalam simbol Wuku Warigagung terdapat burung kepala jatha.

Dalam keterangan buku tersebut, simbol ini menggambarkan pribadi yang terlalu berhati-hati.

Artinya, setiap langkah cenderung dipikirkan terlebih dahulu. 

Tidak terburu-buru mengambil keputusan menjadi salah satu gambaran yang melekat pada kelahiran Wuku Warigagung.

Namun, sifat hati-hati tersebut tidak lantas membuatnya senang menyendiri.

Justru sebaliknya, sosok ini disebut gemar berkumpul dan bergaul dengan banyak orang.

Jadi, meski dalam pekerjaan cenderung tenang dan pendiam, dalam kehidupan sosial ia tetap memiliki sisi yang mudah berbaur.

Baik hati dari dalam maupun luar

Ilustrasi Tolong Menolong
Ilustrasi Tolong Menolong (Kompas.com/(freepik.com/jcomp))

Wuku Warigagung juga memiliki simbol pohon kemuning.

Menurut keterangan dalam Primbon Pawukon Bayi Lahir, pohon tersebut melambangkan orang yang baik hati, baik lahir maupun batin.

Karakter ini juga dipercaya membuatnya mudah mendapatkan kasih sayang atau perhatian dari orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi.

Sementara itu, terdapat simbol dua gedung dengan kondisi pintu yang berbeda, yang dalam uraian primbon dimaknai sebagai gambaran pribadi murah hati.

Dari beberapa simbol tersebut, Wuku Warigagung menggambarkan sosok yang memiliki perpaduan antara kehati-hatian dan kemurahan hati.

Mudah kecewa, tetapi tetap tenang

Wuku Warigagung berada di bawah naungan Dewa Betara Asmara.

Dalam keterangan primbon, pengaruh tersebut dikaitkan dengan pribadi yang mudah kecewa hati, tetapi ketika bekerja justru cenderung tenang dan pendiam.

Karena itu, sosok kelahiran Jumat Wage Wuku Warigagung dapat saja terlihat biasa-biasa saja ketika menghadapi sesuatu.

Namun, di balik sikap tenangnya, ada perasaan yang cukup mudah tersentuh.

Sementara itu, simbol kaki yang berada di kebun dimaknai sebagai gambaran seseorang yang selalu berhati-hati ketika menjalankan pekerjaan.

Bagaimana dengan pekerjaan dan kesehatan?

Kain satin memberikan kesan mewah dan elegan, sehingga sering dipilih untuk piyama dengan desain eksklusif.
Kain satin memberikan kesan mewah dan elegan, sehingga sering dipilih untuk piyama dengan desain eksklusif. (pinterest)

Dalam buku yang sama disebutkan bahwa salah satu bidang pencaharian yang dianggap cocok dan membawa keberhasilan adalah berdagang kain.

Sedangkan keluhan kesehatan yang disebut dalam primbon adalah sakit kepala.

Buku tersebut juga mencantumkan sejumlah keterangan tradisional mengenai penangkal, pakaian, dan ajimat yang berkaitan dengan Wuku Warigagung.

Untuk bagian ini, penting dicatat bahwa keterangan tersebut merupakan warisan kepercayaan dan tradisi dalam primbon Jawa, bukan pedoman medis atau bukti ilmiah.

Dalam uraiannya, Wuku Warigagung juga memiliki keterangan mengenai ringkelan, yakni orang tersebut disebut tidak suka dusta.

Sementara itu, terdapat pula pantangan dan tata cara tradisional tertentu yang dipercaya masyarakat Jawa sebagai bagian dari penangkal.

Wuku Warigagung dan simbol pati

Dalam sistem Pawukon, Wuku Warigagung disebut melambangkan pati.

Istilah tersebut merupakan bagian dari sistem simbolik dalam tradisi Pawukon dan tidak semata-mata harus dimaknai secara harfiah sebagai pertanda kematian.

Justru, rangkaian simbol dalam Wuku Warigagung memperlihatkan gambaran karakter yang cukup kompleks.

Diantaranya, pandai bertutur, suka bergaul, berhati-hati dalam bertindak, murah hati, tetapi juga memiliki hati yang mudah kecewa.

Tribunners, bagi masyarakat yang masih mengenal tradisi weton dan Pawukon, gambaran seperti ini dapat menjadi bagian dari cara memahami warisan budaya Jawa.

Bukan dijadikan sebagai patokan penentu nasib.

Karena nasib seseorang tergantung usaha dari masing-masing individu dalam menentukan pilihan hidupnya.

(MG Natasya Aulia)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.