TRIBUNNEWS.COM - Amerika Serikat (AS) kembali meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran lewat gelombang baru sanksi yang disebut “Operation Economic Outcast” atau Operasi Economic D-Day.
Kebijakan tersebut menargetkan hampir 60 entitas, individu, dan kapal yang dianggap terkait dengan jaringan ekonomi Iran.
Sanksi terbaru juga memperluas tekanan terhadap sejumlah sektor penting, mulai dari pelayaran, emas, penerbangan, teknologi, hingga aset digital.
Pemerintah AS menyebut langkah tersebut sebagai salah satu serangan finansial terbesar yang pernah dilakukan untuk menekan Iran.
Washington berharap tekanan ekonomi itu dapat mengurangi kemampuan Iran memperoleh pendapatan dan pada akhirnya membantu mengakhiri perang yang sedang berlangsung.
Namun, efektivitas kebijakan tersebut masih menjadi pertanyaan. Iran telah menghadapi sanksi Amerika Serikat selama puluhan tahun. Sejak Revolusi Islam 1979, Teheran berulang kali menjadi sasaran pembatasan ekonomi dari Washington.
Tekanan panjang tersebut membuat Iran membangun jaringan perdagangan dengan sejumlah negara yang tetap mempertahankan hubungan ekonomi dengan Teheran.
Karena itu, Iran mengaku siap menghadapi sanksi terbaru AS. Sejumlah ekonom juga menilai dampak langsung Operasi Economic D-Day terhadap perekonomian Iran kemungkinan tidak sebesar yang diharapkan Washington.
Baca juga: Presiden Iran Pezeshkian: Keamanan Satu Negara Tak Boleh Rugikan Negara Tetangga
Lantas, negara mana saja yang menjadi mitra dagang penting Iran dan berpotensi terkena dampak tekanan ekonomi AS?
1. China
China menjadi salah satu mitra dagang paling penting bagi Iran. Berdasarkan data International Trade Centre (ITC), China menyerap sekitar 26,9 persen ekspor Iran pada 2025.
Hubungan perdagangan kedua negara terutama berkaitan dengan energi dan komoditas. China menjadi pasar penting bagi produk Iran, termasuk minyak.
Namun, angka perdagangan tersebut perlu dilihat dengan hati-hati. Data ITC menggunakan informasi perdagangan yang dilaporkan oleh negara-negara mitra Iran. Hal ini dilakukan karena data ekspor Iran tidak selalu tersedia secara lengkap dan terbaru.
Selain itu, sejumlah ekonom memperkirakan volume penjualan minyak Iran ke China sebenarnya lebih besar daripada yang tercatat secara resmi.
Meski demikian, besarnya hubungan ekonomi Iran-China terlihat dari respons Beijing terhadap sanksi terbaru AS.
Pemerintah China mengecam apa yang disebutnya sebagai sanksi sepihak dan ilegal.
Beijing juga menegaskan bahwa tekanan ekonomi bukan cara yang efektif untuk menyelesaikan konflik dan menyatakan akan melindungi kepentingan ekonominya sendiri.
Posisi China menjadi penting karena Beijing merupakan salah satu negara yang memiliki kapasitas ekonomi besar untuk tetap melakukan perdagangan dengan Iran meski menghadapi tekanan Washington.
2. Turki
Turki juga menjadi salah satu mitra dagang utama Iran.
Namun, posisi Ankara berbeda dengan Beijing. Turki merupakan anggota NATO dan memiliki hubungan strategis dengan Amerika Serikat.
Di sisi lain, negara tersebut berbatasan langsung dengan Iran dan memiliki kepentingan ekonomi yang kuat dengan Teheran.
Kondisi tersebut membuat Turki harus menjaga keseimbangan antara hubungan dengan AS dan kepentingan ekonominya sendiri.
Tekanan Washington dapat membuat perusahaan-perusahaan Turki menghadapi risiko sanksi sekunder jika tetap melakukan transaksi tertentu dengan Iran.
Namun, menghentikan seluruh perdagangan dengan Iran juga dapat memberikan dampak terhadap perekonomian Turki.
Turki sendiri sedang menghadapi persoalan ekonomi domestik, termasuk inflasi yang tinggi.
Karena itu, Ankara berada dalam posisi sulit. Turki harus mempertahankan hubungan dengan salah satu sekutu utamanya di NATO, tetapi pada saat yang sama tidak dapat dengan mudah mengabaikan hubungan ekonomi dengan negara tetangganya.
3. Pakistan
Pakistan menjadi negara lain yang memiliki hubungan perdagangan dengan Iran.
Kedua negara berbagi perbatasan dan memiliki hubungan ekonomi serta sosial yang sudah berlangsung lama.
Pakistan juga termasuk salah satu mitra ekspor penting Iran. Namun, Islamabad menghadapi dilema karena Amerika Serikat merupakan salah satu pasar ekspor utama Pakistan.
Artinya, jika perusahaan Pakistan terkena sanksi sekunder AS akibat melakukan transaksi tertentu dengan Iran, dampaknya dapat menjalar ke perekonomian Pakistan.
Persoalan tersebut semakin rumit karena tidak seluruh aktivitas perdagangan di sepanjang perbatasan Iran-Pakistan berada dalam kendali penuh pemerintah.
Salah satu contohnya adalah perdagangan bahan bakar lintas perbatasan. Aktivitas penyelundupan bahan bakar dari Iran ke Pakistan telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Wilayah perbatasan kedua negara yang membentang sekitar 900 kilometer juga membuat pengawasan menjadi tantangan tersendiri.
Kondisi tersebut membuat Pakistan harus menghadapi dilema antara memenuhi tekanan AS dan menjaga aktivitas ekonomi masyarakat di wilayah perbatasan.
4. Armenia
Armenia juga termasuk mitra dagang Iran yang penting. Hubungan ekonomi Armenia dengan Iran menjadi semakin menarik karena Armenia memiliki hubungan perdagangan yang kuat dengan Rusia.
Pada 2025, Rusia menyumbang sekitar 34,9 persen dari total ekspor Armenia.
Rusia sendiri telah menghadapi berbagai sanksi dari AS dan negara-negara Barat sejak invasi besar-besaran ke Ukraina pada 2022.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Armenia sudah memiliki pengalaman berhadapan dengan lingkungan perdagangan yang dipengaruhi sanksi internasional.
Karena itu, Armenia berpotensi tetap mempertahankan hubungan perdagangan dengan Iran meskipun tekanan dari Washington meningkat.
Namun, langkah tersebut tetap memiliki risiko bagi perusahaan dan lembaga keuangan Armenia apabila AS memperluas penerapan sanksi sekunder.
5. Uni Eropa
Selain negara-negara yang berbatasan atau memiliki hubungan khusus dengan Iran, negara-negara Eropa juga memiliki kepentingan terhadap hubungan ekonomi dengan Teheran.
Uni Eropa memiliki posisi yang berbeda dibanding China, Turki, Pakistan, maupun Armenia.
Di satu sisi, negara-negara Eropa merupakan sekutu Amerika Serikat.
Di sisi lain, sejumlah negara Eropa juga memiliki kepentingan untuk menjaga jalur diplomasi dengan Iran.
Uni Eropa bahkan memiliki peran dalam upaya mediasi antara Iran dan AS.
Karena itu, tekanan ekonomi yang terlalu besar terhadap Iran berpotensi menjadi tantangan bagi upaya diplomatik.
Jika hubungan ekonomi semakin dibatasi, ruang komunikasi antara Iran dan negara-negara Barat juga dapat ikut menyempit.
Meski sanksi AS berpotensi memperketat tekanan terhadap Iran dan memblokir sumber pendapatan yang dapat digunakan Teheran.
Namun Firma penasihat Oxford Economics memperkirakan dampak langsung terhadap pendapatan Iran kemungkinan relatif terbatas.
Analisis tersebut berkaitan dengan fakta bahwa banyak sektor ekonomi Iran telah lama berada di bawah sanksi.
Ali Vaez dari International Crisis Group menilai hampir seluruh aktivitas ekonomi Iran sudah menghadapi berbagai lapisan sanksi.
Menurutnya, persoalan utama sekarang bukan sekadar apakah Iran dapat dikenai sanksi baru, tetapi apakah AS memiliki kemampuan untuk benar-benar menegakkan sanksi tersebut terhadap negara-negara yang masih berdagang dengan Iran.
Hal tersebut menjadi tantangan karena negara-negara seperti China memiliki kepentingan ekonomi besar dan tidak selalu bersedia mengikuti seluruh kebijakan Washington.
Karena itu, efektivitas sanksi menjadi persoalan yang lebih kompleks daripada sekadar menghitung berapa banyak perusahaan atau kapal yang masuk daftar hitam.
Kebijakan tersebut juga menjadi ujian bagi kemampuan Washington menggunakan kekuatan finansialnya untuk memengaruhi negara lain.
(Tribunnews.com / Namira)