TRIBUNJOGJA.COM - Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Mangkubumi mendorong pemanfaatan tanah Kasultanan untuk kegiatan produktif yang dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Di antaranya melalui pengembangan tanaman tebu di Kebun Depok, Kalurahan Parangtritis, Kapanewon Kretek, Kabupaten Bantul.
GKR Mangkubumi hadir dalam tanam perdana tebu Musim Tanam 2026/2027 di lahan seluas 2,51 hektare tersebut, Kamis (27/8/2026).
GKR Mangkubumi yang juga merupakan Komisaris Utama PT Madubaru sekaligus Penghageng Kawedanan Hageng Punakawan (KHP) Datu Dana Suyasa Keraton Yogyakarta mengatakan, pemanfaatan tanah Kasultanan tersebut merupakan bagian dari upaya menghadirkan manfaat ekonomi dan kesejahteraan bagi masyarakat.
Baca juga: GKR Mangkubumi Serahkan Serat Palilah di Bantul, Harap Warga Tertib Administrasi
Menurut dia, langkah tersebut juga menjadi bentuk dukungan Kasultanan terhadap berbagai program pemerintah, khususnya dalam memperkuat ketahanan pangan dan mewujudkan swasembada pangan.
Ia menegaskan, tanah Kasultanan tidak hanya dipandang sebagai aset, tetapi dapat dimanfaatkan untuk pertanian maupun kegiatan ekonomi lain yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
"Sesuai dengan perintah dan undang-undang keistimewaan, tanah Kasultanan untuk kesejahteraan, baik untuk pertanian, ataupun untuk sektor ekonomi yang lain, yang ada di wilayah masing-masing. Ini juga menjadi bagian dari dukungan Kasultanan terhadap program pemerintah dalam ketahanan pangan," kata GKR Mangkubumi.
Menurut dia, pengembangan lahan pertanian menjadi salah satu bentuk konkret bagaimana tanah Kasultanan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus mendukung agenda pembangunan pemerintah.
Lahan di Parangtritis sebelumnya merupakan wedi kengser yang belum dimanfaatkan secara optimal. Pengembangan tanaman tebu dilakukan melalui kolaborasi pemanfaatan tanah Kasultanan dengan tanah pelungguh lurah serta lahan milik warga.
"Di lokasi ini adalah pengembangan, dan ini kan adalah wedi kengser yang tidak digunakan oleh masyarakat, kita kolaborasi dengan tanah Sultan Ground yang ada kemudian bersama-sama dengan pelungguh Pak Lurah dan lokasi-lokasi warga setempat," ujarnya.
Pengembangan Tebu akan Diperluas
GKR Mangkubumi mengatakan pengembangan tanaman tebu akan terus dilakukan di lokasi lain yang memiliki potensi. Setelah Parangtritis, pengembangan akan diarahkan ke Selopamioro, Bantul.
"Setelah ini Selopamioro (Bantul), tapi kita ya terus akan memfungsikan tanah-tanah yang memang bisa ditanami tebu," katanya.
Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari dukungan terhadap program pemerintah menuju swasembada gula nasional. Dengan bertambahnya lahan produktif, produksi bahan baku gula diharapkan meningkat sekaligus membuka peluang ekonomi bagi petani dan masyarakat.
Bagi GKR Mangkubumi, pemanfaatan tanah Kasultanan untuk pertanian bukan hanya berkaitan dengan peningkatan produksi, tetapi juga bagaimana lahan tersebut mampu memberikan manfaat dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.
Bantul Punya Sejarah sebagai Daerah Penghasil Gula
Bupati Bantul Abdul Halim Muslih mengatakan pengembangan tebu diperlukan untuk memperkecil kesenjangan antara produksi dan kebutuhan gula nasional.
Ia menyebut Indonesia masih mengimpor hampir 4 juta ton gula berdasarkan data BPS 2025.
"Ini menjadi tantangan bagi pemerintah pusat maupun pemerintah daerah supaya kesenjangan terus mengecil," kata Abdul Halim.
Abdul Halim juga menyebut Bantul memiliki sejarah panjang sebagai salah satu daerah penghasil gula. Karena itu, pengembangan tanaman tebu dinilai dapat menghidupkan kembali potensi tersebut sekaligus memberikan kontribusi terhadap target swasembada gula.
Sementara itu, Direktur PT Madubaru Budi Hidayat mengatakan luas lahan produktif tebu pada musim tanam 2026/2027 ditargetkan mencapai 2.400 hektare.
Saat ini, luas lahan yang telah tercapai sekitar 2.168 hektare yang tersebar di wilayah kerja KSO Madubaru di DIY dan Jawa Tengah.
Pengembangan tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat pasokan bahan baku industri gula, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi petani dan masyarakat di sekitar wilayah pengembangan.
Melalui kolaborasi Keraton Yogyakarta, pemerintah daerah, PT Madubaru, PT PG Rajawali I, dan masyarakat, pemanfaatan tanah Kasultanan untuk tanaman tebu diharapkan menjadi langkah konkret untuk menjadikan lahan lebih produktif, memperkuat ketahanan pangan, dan mendukung cita-cita swasembada gula nasional. (*/rls)