Rekam Jejak Ibu-ibu yang Orasi Depan Pimpinan DPR Terkuak, Ternyata Istri Botok Panglima Pati
khairunnisa August 28, 2026 04:07 PM

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Terungkap sosok ibu-ibu berjilbab yang lantang orasi di depan para pimpinan DPR RI di Gedung Parlemen saat aksi demonstrasi, Kamis, (27/8/2026).

Ternyata wanita tersebut bernama Anik Sriningsih.

Dia adalah salah satu aktivis Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) asal Kabupaten Pati, Jawa Tengah, yang menyampaikan tuntutan kepada DPR.

“Saya jauh-jauh datang dari Pati ke sini dengan dua tuntutan, Pak. Satu, perampasan aset koruptor. Dua, hukum mati koruptor,” katanya dengan tegas.

Lewat pernyataan dalam bahasa Indonesia yang bercampur dengan bahasa Jawa, dia membandingkan hukuman koruptor dengan hukuman pengedar narkoba.

“Kenapa pengedar narkoba langsung dihukum mati, Pak? Kenapa koruptor tidak dihukum mati, Pak?” tanya Anik kepada Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad.  

Anik mengaku tidak percaya terhadap penanganan kasus korupsi jika koruptor hanya dirampas asetnya. 

Dia tegas meminta koruptor dihukum mati.

“Kalian ini ingin rakyat sejahtera apa tidak? Kalau ingin, hukum mati koruptornya,” ucap Anik yang kemudian mendapat tepuk tangan.

Kemudian, dia membandingkan hukuman yang diterima koruptor dengan nasib seorang pencuri di Bali yang tewas dianiaya massa hingga kasusnya sempat viral.

“Orang yang mencuri ayam di Bali itu dipukuli. Hanya merugikan satu orang. Koruptor merugikan bangsa. Bagaimana jika dipukuli oleh seluruh bangsa? Kalau tidak, dihukum mati. Mau tidak, Pak?” ujarnya.

Baca juga: Profesi Melva Pardede Ojol Wanita yang Semport Botok Cs di Demo 27 Agustus, Terbukti di Akun Medsos

Sosok Anik Sriningsih

Anik Sriningsih berasal dari Kabupaten Pati. Kepada anggota DPR, Anik mengaku sebagai seorang ibu rumah tangga.

Usut punya usut, Anik adalah istri Supriyono atau Botok, Koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu yang ikut serta dalam aksi di Gedung DPR.

Dia dikenal sering menyampaikan aspirasi antikorupsi dalam sejumlah aksi. 

Di samping itu, dia aktif mengawal isu-isu kebijakan daerah.

Dalam aksi demonstrasi bulan kemarin, Anik mengaku pernah menjadi korban pemerasan oleh oknum jaksa.

"Saya ke sini mencari keadilan. Saya sendiri mengalami pemerasan yang dilakukan oleh oknum jaksa dari Kejaksaan Negeri Pati. Di saat itu suami saya kena masalah, saya dimintai uang sebesar Rp50 juta oleh seorang jaksa," ujar Anik saat berunjuk rasa bersama AMPB di Kejari Pati, Rabu, (29/7/2026), dikutip dari Tribun Jateng.

Adapun suami Anik atau Botok pernah terkena masalah yang berkaitan dengan pilkades pada tahun 2021.

Menurut Anik, jaksa itu meminta sejumlah uang kepadanya untuk memuluskan proses hukum dan agar tuntutan terhadap Botok tidak terlalu berat.

Anik mengklaim pungutan liar itu sudah ada sejak perkara suaminya diproses di tingkat kepolisian.

Kata Anik, sebelum dimintai uang oleh pihak kejaksaan, dia sempat mendatangi kantor kepolisian untuk mengurus penangguhan penahanan suaminya.

"Di sana saya ditanya bawa uang berapa. Katanya saya perlu sediakan Rp150 juta. Rp75 juta untuk jaksa dan Rp75 juta untuk hakim. Itu sebelum prosesnya sampai Kejaksaan. Sebelum jaksa minta uang Rp50 juta," katanya.

Dia menyebut akhirnya menyerahkan uang Rp100 juta untuk penangguhan penahanan dan Rp50 juta yang diserahkan kepada pihak oknum jaksa.

Namun, Anik mengaku dibohongi karena hukuman suaminya ternyata tidak diringankan sesuai dengan kesepakatan awal.

Anik mengatakan tidak memiliki bukti tentang dugaan pemerasan itu lantaran saat itu dia adalah korban yang terdesak dan awam hukum. Meski demikian, dia bersumpah telah menjadi korban pemerasan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.