Tribunlampung.co.id, Lampung Timur - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur.
Baca juga: Puluhan Tahun Terisolasi, Jembatan Way Pemerihan Pesisir Barat Mulai Dibangun
Balai TNWK mengonfirmasi dua titik panas (hotspot) baru di Resort Rantau Jaya dan Resort Toto Projo.
Penanganan dilakukan oleh tim gabungan melalui pemadaman dari darat dan udara. Operasi water bombing digunakan untuk membantu pemadaman di lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
Sementara itu, Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan di wilayah terdampak.
Kepala Balai TNWK MHD Zaidi mengatakan, dua hotspot tersebut terdeteksi pada waktu berbeda dan langsung ditindaklanjuti oleh tim di lapangan.
"Hari ini kita dari pagi menemukan dua titik hotspot baru. Pertama di Resort Rantau Jaya yang terpantau pada pagi hari dan langsung ditindaklanjuti dengan operasi water bombing. Kemudian siang harinya, kembali terdeteksi titik api di Resort Toto Projo yang berbatasan dengan Susukan Baru," ujar MHD Zaidi, Jumat (28/8/2026).
Zaidi mengatakan, penanganan di Resort Toto Projo dilakukan dengan pemadaman dari udara dan pengerahan tim darat.
Berdasarkan pemantauan udara sementara, area yang terbakar di Resort Rantau Jaya diperkirakan mencapai 2 hingga 3 hektare.
Sementara itu, luas area terbakar di Resort Toto Projo masih dalam proses pemetaan melalui pengecekan lapangan karena pemadaman masih berlangsung.
Menurut Zaidi, lokasi kebakaran merupakan lahan tanah mineral dengan tutupan vegetasi berupa alang-alang, semak belukar, dan serasah.
"Vegetasi di lokasi yang terbakar berupa alang-alang, semak belukar, serta tutupan serasah yang lumayan tebal. Kondisi ini membuat material bawah sangat kering dan mudah terbakar," jelasnya.
Zaidi mengatakan kebakaran tersebut berdampak terhadap ekosistem kawasan TNWK. Namun, hingga kini tim gabungan belum menemukan satwa yang terbakar secara langsung.
"Kebakaran ini dipastikan mengganggu ekosistem. Namun sejauh ini, tim gabungan di lapangan tidak menemukan adanya satwa yang terbakar secara langsung," tegas Zaidi.
Setelah pemadaman selesai, Balai TNWK akan melakukan pembinaan habitat dan pemulihan ekosistem di area yang terdampak.
"Langkah selanjutnya setelah pemadaman tuntas akan kita fokuskan pada pembinaan habitat dan pemulihan ekosistem secara berkesinambungan," tambahnya.
Zaidi mengatakan penanganan karhutla di kawasan TNWK masih menghadapi keterbatasan personel dan sarana prasarana.
Saat ini, Balai TNWK memiliki 44 personel Polisi Kehutanan (Polhut) dan 17 anggota Manggala Agni.
Penanganan karhutla juga melibatkan tim gabungan dari sejumlah unsur.
"Operasi ini berjalan berkat dukungan luar biasa dari BPBD, BNPB, TNI, Polri, masyarakat sekitar kawasan, Kelompok Tani Hutan (KTH), Karang Taruna, Pramuka, Pemerintah Daerah, serta dukungan komando dari Mabes," paparnya.
Selain pengerahan helikopter untuk operasi water bombing, penanganan karhutla juga didukung Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan di wilayah terdampak.
(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/Fajar Ihwani Sidiq)