Di Balik Seragam Batik Bapenda Nunukan, Hasil Sentuhan Tangan Siswa SLB hingga Penjahit Disabilitas
Cornel Dimas Satrio August 28, 2026 04:14 PM

 

TRIBUNKALTARA.COM, NUNUKAN - Ada cerita berbeda di balik seragam batik terbaru yang kini dikenakan pegawai Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara).

Bukan diproduksi industri besar, kain batik tersebut justru lahir dari tangan siswa-siswi Sekolah Luar Biasa (SLB) Nunukan.

Tak berhenti di proses membatik, kain itu kemudian dipercayakan kepada Winda Fashion, usaha milik Winda, seorang penjahit lokal yang juga penyandang disabilitas.

Kolaborasi tersebut membuat seragam batik Bapenda Nunukan memiliki nilai lebih dari sekadar pakaian kantor.

Motif lokal khas Nunukan menjadi bagian utama dalam kain tersebut. Motif itu kemudian dipadukan dengan lambang KORPRI yang merepresentasikan identitas dan pengabdian aparatur sipil negara.

Kepala Bapenda Nunukan, Sabri, mengatakan pihaknya sengaja memberikan ruang kepada penyandang disabilitas untuk menunjukkan kemampuan mereka.

"Kami bangga dapat mengenakan hasil karya dari saudara-saudara kita di SLB Nunukan dan Winda Fashion," ujar Sabri, Jumat (28/8/2026).

Ia bahkan mengapresiasi kualitas batik dan hasil jahitan yang dinilainya sangat baik.

"Hasil jahitan dan kualitas cetak batiknya luar biasa rapi, tidak kalah dengan produk komersial lainnya," katanya.

Baca juga: Ketua TP PKK Nunukan Dorong UMKM Naik Kelas, Sebut Batik Lulantatibu Berpotensi Jadi Ikon Daerah

Dari Karya Anak SLB ke Seragam Kantoran

Proses pembuatan seragam tersebut dimulai dari keterlibatan siswa-siswi SLB Nunukan dalam mencetak kain.

Mereka diberikan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan melalui proses pembuatan batik dengan mengangkat motif khas daerah.

Setiap goresan pada kain menjadi bagian dari karya yang kemudian digunakan sebagai bahan utama seragam pegawai Bapenda.

Setelah kain rampung, pekerjaan berlanjut ke Winda Fashion. Winda mengolah kain tersebut menjadi pakaian batik kantor yang siap dikenakan.

Kolaborasi dua kelompok penyandang disabilitas tersebut kemudian dipadukan dengan dukungan Bapenda Nunukan sebagai pengguna produk.

Bagi Bapenda Nunukan, pola kerja tersebut sekaligus menjadi bentuk pemberdayaan yang memberikan dampak ekonomi secara langsung.

Bukan Soal Keterbatasan

Program ini juga menjadi cara Bapenda Nunukan untuk mengubah pandangan masyarakat terhadap penyandang disabilitas.

Keterbatasan fisik tidak seharusnya menjadi alasan seseorang kehilangan kesempatan untuk bekerja, berkarya maupun mendapatkan penghasilan.

Melalui program tersebut, siswa SLB tidak hanya belajar keterampilan, tetapi juga mendapatkan pengalaman bahwa karya mereka dapat digunakan dan dihargai oleh masyarakat.

Sementara bagi Winda Fashion, keterlibatan dalam pembuatan seragam menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa pelaku usaha penyandang disabilitas juga mampu menghasilkan produk berkualitas.

Bapenda Nunukan berharap model kolaborasi seperti ini dapat ditiru instansi maupun lembaga lainnya.

Semakin banyak pihak yang memberikan ruang, semakin besar pula kesempatan penyandang disabilitas untuk berkembang secara mandiri.

Pada akhirnya, seragam batik Bapenda Nunukan bukan hanya membawa motif khas daerah.

Di baliknya terdapat cerita tentang kesempatan, kemandirian, dan pembuktian bahwa karya tidak mengenal keterbatasan.

(*)

Penulis: Fatimah Majid

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.