Goyang Lidah Sampai Jerman: Cerita Sate Rembiga dari Dapur Sederhana ke 'Pasar Dunia'
Sirtupillaili August 28, 2026 05:05 PM

Sate Rembiga, kuliner kesohor asal Lombok itu kini mendunia. Pesanan datang dari berbagai penjuru negeri. Transformasi digital memudahkan pelaku UMKM melayani lebih banyak pelanggan.

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Idham Khalid

Asap tipis dan aroma gurih bumbu rempah meliuk-liuk keluar dari dapur pembakaran Sate Rembiga Goyang Lidah, di Jalan Dakota, Kota Mataram, Kecamatan Selaparang, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Setiap kali angin sore berembus, wangi khas daging berbumbu pedas itu menguar hingga ke badan jalan. Cukup ampuh menggoda para pengendara untuk berhenti dan memutar arah.

Di dalam warung, keriuhan kuliner langsung terasa. Para karyawan bergerak sigap menyajikan deretan menu legendaris: dari sate rembiga yang menjadi primadona, ayam pelecingan dan taliwang yang menggugah selera, hingga semangkuk bebalung hangat, serta kesegaran plecing kangkung.

Beberapa pengunjung tampak santai menikmati hidangan di atas berugak lesehan, sementara yang lain memilih riung di meja-meja panjang.

Begitu gigitan pertama mendarat di lidah, rahasia kelezatan itu langsung terkuak. Tekstur daging yang begitu empuk dengan bumbu pedas-manis yang meresap sempurna hingga ke serat terdalam.

Rasa inilah yang membuat banyak orang ketagihan untuk datang ke Mataram untuk mencicip Sate Rembiga. Sebuah pengalaman rasa yang konsisten dirawat turun temurun, dari generasi ke generasi. Cita rasa pedasnya benar-benar bikin nagih.

Nama Sate Rembiga diambil dari nama kampung alias Kelurahan Rembiga, yang merupakan daerah asal sate khas daging sapi ini pertama kali dijual.

Kini kelurahan yang berada di bagian utara Kota Mataram ini menjelma menjadi pusat kuliner sate legendaris, khususnya di Jalan Dr Wahidin dan Jalan Dakota. Dalam satu kawasan, di sini beberapa warung lesehan Sate Rembiga buka setiap hari, dari pagi hingga malam. Rata-rata buka jam 09.00 - 22.00  WITA.

lihat foto
WARUNG - Warung Sate Rembiga Goyang Lidah yang berada di Jalan Dakota, Kelurahan Rembiga, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram, Provinsi NTB, Jumat (24/7/2026).

Dua warung Sate Rembiga yang terkenal di Jalan Dr Wahidin yakni Sate Rembiga Ibu Sinnaseh dan Sate Rembiga Utama Ibu Ririn. 

Sementara di bagian utara, Jalan Dakota ada warung Sate Rembiga Goyang Lidah milik keluarga Muslehudin (49). Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) ini telah berdiri selama puluhan tahun. Sampai saat ini usaha keluarga Muslehudin ini semakin eksis dan berkembang.

Berdiri di atas lahan sekitar 60 are, Sate Rembiga Goyang Lidah kini dilengkapi area parkir luas, tempat bemain anak, serta musala yang nyaman bagi pengunjung.

Dahulu, pelanggan Sate Rembiga harus antre untuk mendapatkan tempat duduk karena area warung di Jalan Dr Wahidin tidak terlalu luas.

Tapi sejak Jalan Dakota dibuka sekitar 2013, Sate Rembiga Goyang Lidah kemudian berdiri dan memberikan suasana berbeda dengan cita rasa khas Sate Rembiga yang tetap dijaga.

Inilah yang membuat pembeli selalu datang lagi. Salah seorang pelanggan, Rahman, guru asal Desa Malaka, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, mengaku menjadi pelanggan tetap karena cita rasa sate rembiga yang konsisten.

"Enak, daging satenya empuk, bumbunya meresap, ada rasa pedas manis yang pekat di lidah," ujarnya sambil bersandar di gazebo.

Selain sate rembiga, Rahman juga mengaku menyukai menu bebalung yang disajikan dengan kuah gurih berisi urat dan tulang sapi.

"Selain rasanya enak, harganya juga terjangkau. Saya cukup sering datang ke sini bersama teman-teman guru saat libur sekolah," katanya.

Harga Sate Rembiga Goyang Lidah berkisar antara Rp20.000 hingga Rp30.000 per prosi. Satu porsi sate berisi 10 tusuk sate.

lihat foto
SATE - Salah seorang pekerja membakar Sate Rembiga Goyang Lidah sebelum disajikan ke pelanggan, di Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Jumat (24/7/2026).

Usaha Warisan Keluarga

Muslehudin merupakan generasi ketiga yang mempertahankan resep warisan keluarga.

Saat ditemui, Muslehudin tampak sibuk di depan laptop. Mengenakan kemeja hitam, pria berkulit putih itu sesekali melempar senyum tipis sambil melayani pesanan yang masuk secara online.

Maklum, selain melayani pelanggan yang datang langsung ke warung, ia juga melayani pesanan dari berbagai daerah.

Bagi pelaku UMKM seperti dirinya, melayani permintaan daring menjadi keniscayaan agar tetap bertahan di era serba digital saat ini.

Ia sebelumnya tidak pernah membayangkan usaha makanan tradisional seperti sate bisa dikirim ke tempat jauh selama berhari-hari.

Karena sejak 53 tahun silam, Sate Rembiga hanya bisa didapatkan di Kelurahan Rembiga, Kota Mataram.

Muslehudin menuturkan, cikal bakal usaha warung Sate Rembiga bermula pada 1973, ketika Hj Nafisah, neneknya menciptakan resep sate berbumbu pedas khas Lombok. Kala itu sang nenek hanya ingin memanfaatkan sisa daging sapi yang tidak terjual dari usaha pengepul dan jagal sapi.

Pada dekade 1990-an, keluarga tersebut mendirikan warung sate pertama di Jalan Dr Wahidin, Rembiga. Seiring waktu, usaha itu berkembang dan dikenal luas sebagai salah satu ikon kuliner Lombok.

Sumber lain menyebut kemampuan warga Rembiga membuat bumbu sate khas ini sudah mengakar secara turun temurun. Ada yang menyebut sudah ada sejak zaman kerajaan, sektar abad ke-16.

Sate Rembiga secara komersial mulai terkenal luas sekitar tahun 1988 - 1990-an, dengan berdirinya warung-warung Sate Rembiga.    
 
Muslehudin mulai terlibat aktif mengembangkan usaha keluarga sejak 2010. Saat itu, ia bersama istrinya menjual sate rembiga pada kegiatan "car free day" tiap hari Minggu, di Jalan Udayana, Mataram, lokasinya sekitar 5 menit dari Rembiga.

“Dulu saya hanya mampu berjualan di car free day. Hanya produksinya 2 kilogram daging sapi,” ujarnya saat ditemui Tribun Lombok.

Melihat tingginya permintaan Sate Rembiga, Muslehudin memberanikan diri membuka warung sendiri di Jalan Dakota.  Dan kini warung yang diberi nama "Sate Rembiga Goyang Lidah" itu terus berkembang.

lihat foto
DIBAKAR - Sate Rembiga saat sedang dibakar sebelum disajikan kepada para pelanggan di Lesehan Goyang Lidah, Kota Mataram, Jumat (24/7/2026). Sate Rembiga kini juga sudah tersedia dalam bentuk kemasan dan bisa dibawa pulang.

Badai Covid-19 dan Tranformasi Digital

Tapi perjalanan membangun usaha hingga memiliki sekitar 30 orang karyawan tidak selalu berjalan mulus.

Salah satu tantangan terberat yang dihadapi Muslehudin yakni saat pandemi Covid-19 melanda. Kala itu, pemerintah membatasi aktivitas masyarakat untuk mengindari penyeberan virus corona.

Akibatnya pedagang UMKM seperti dirinya terkena dampak cukup signifikan. Jumlah pelanggan turun secara drastis.

“Yang paling ngeri itu pas covid, karena kan banyak orang tidak boleh ke mana-mana, ada pembatasan, jadi omzet kami itu turun drastis. Syukur-syukur masih bisa gaji karyawan,” ungkapnya.

Tapi selalu ada hikmah di balik bencana. Dalam tekanan tersebut, Muslehudin tidak menyerah. Ia berusaha bertahan dengan bertransformasi dan mengubah strategi pemasaran. 

Ia mulai memanfaatkan berbagai platform digital untuk memperluas pasar dan mengurangi ketergantungan pada penjualan langsung di lokasi usaha.

“Nah sejak 2019 itu sudah mulai kami membangun sistem. Awalnya pelanggan ke sini, sekarang kami memanfaatkan platform digital ini untuk menjual produk kami,” katanya.

Menurut Muslehudin, hampir seluruh platform digital dimanfaatkan untuk mendukung pemasaran produk, mulai dari marketplace hingga media sosial.

“Alhamdulillah dengan memanfaatkan platform digital ini, masalah saat Covid itu bisa teratasi dan sampai sekarang bisa bermanfaat. Bahkan kami sudah mengirim produk ke luar daerah, yang terbanyak itu ke Pulau Jawa, kota-kota besar,” ujarnya.

Sate Dalam Kemasan

lihat foto
GOYANG LIDAH - Kolase foto Muslehudin (49), pemilik Sate Rembiga Goyang Lidah di Kelurahan Rembiga, Kota Mataram, NTB, Jumat (24/7/2026), dengan produk sate dalam kemasan yang dijualnya sebagai oleh-oleh khas dari Lombok.

Tak disangka-sangka, transformasi digital tersebut menjadi titik balik dalam perkembangan usahanya. Pada 2021, usaha keluarga ini resmi berbadan hukum sebagai Industri Kecil Menengah (IKM) Goyang Lidah dengan fokus memproduksi makanan olahan steril, seperti sate rembiga dan ayam taliwang dalam kemasan.

Produk-produknya kini dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia, terutama ke kota-kota besar di Pulau Jawa, seperti Jakarta. Bahkan beberapa kali dikirim luar negeri seperti Jerman, Arab Saudi, dan Turki.

Jumlah yang dikirim ke luar negeri bisa mencapai 1.000 pcs dalam setahun. Ada pesanan yang dikirimnya sendiri ke luar negeri, ada yang dibawa pengunjung.

Selama ini lebih banyak pesanan dibawa pengunjung. Mereka datang ke Lombok dan membawanya pulang ke luar negeri sebagai oleh-oleh. 

Harga Sate Rembiga kemasan sekitar Rp38.000 jika memesan via aplikasi GoFood. Sementara harga Marketplace seperti Shopee berkisar antara Rp50.000 hingga Rp51.500.   

Muslehudin menjelaskan, proses produksi sate rembiga kemasan tidak dapat dilakukan secara instan. Tahapannya dimulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan bumbu, pemanggangan sate, hingga pengemasan vakum.

Seluruh proses dilakukan oleh karyawan yang menggunakan perlengkapan khusus sesuai standar kebersihan dan keamanan pangan.

Untuk produk kemasan, Sate Rembiga Goyang Lidah memanfaatkan teknologi vakum sehingga produk mampu bertahan hingga enam bulan pada suhu ruang yang disarankan.

Kemasan produk terdiri atas dua lapisan, yakni kemasan primer berbahan retort aluminium dan kemasan sekunder menggunakan retort kertas. 

Sistem pengemasan tersebut dirancang untuk menjaga mutu, cita rasa, serta keamanan produk selama proses distribusi.

"Dengan proses itu, produk dapat bertahan hingga enam bulan,” ujar pria yang akrab disapa Musleh itu.

Setelah melalui proses vakum, produk tidak langsung dipasarkan. Seluruh kemasan terlebih dahulu menjalani masa karantina selama lima hari untuk memastikan tidak terjadi kebocoran sehingga kualitas produk tetap terjaga hingga diterima pelanggan.

"Setelah proses vakum selesai, produk kami karantina selama lima hari. Tahapan ini penting untuk memastikan kemasan benar-benar rapat dan aman sebelum dipasarkan kepada konsumen," kata Musleh.

lihat foto
KEMASAN - Sate Rembiga dalam kemasan dipajang pada etalase pada Lesehan Sate Rembiga Goyang Lidah, di Kota Mataram, Provinsi NTB, Jumat (24/7/2026).

Dengan tranformasi ini, Sate Rembiga kini bisa menjamah pasar lebih luas. Sekaligus menjawab pertanyaan pelanggan selama ini, apakah Sate Rembiga bisa dijadikan oleh-oleh?

Bagi yang tidak sempat mampir ke warung di Kota Mataram, mereka bisa memesan online atau take away sebagai oleh-oleh khas dari Lombok.  

Sampai akhirnya momen manis dirasakan pada event balap MotoGP tahun 2024, yang berlangsung di Sirkuit Pertamina Mandalika. Permintaan Sate Rembiga Goyang Lidah menembus kapasitas produksi. 

Penjualan meningkat hingga sekitar 15.000 kemasan per hari, sementara penjualan daring secara rutin berada pada kisaran 1.000 hingga 1.700 kemasan setiap hari.

"Alhamdulillah," ujar Musleh tersenyum. 

Kiliner Sate Rembiga Goyang Lidah menjadi salah satu tujuan destinasi wisata kuliner di Kota Mataram. 

Berkat upaya pantang menyerah dan adaptif dengan perkembangan zaman, Musleh sukses membuat Sate Rembiga Goyang Lidah tetap eksis melewati badai krisis.  Dari usaha kecilnya ini, ia mencatat omzet rata-rata sekitar Rp50 juta per bulan atau mendekati Rp1 miliar per tahun.

Tidak hanya itu, Musleh telah membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar. Saat ini ia masih bisa memberi pekerjaan bagi 30 orang karyawannya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.