Sosok Bambang Warga Pejompongan yang Tewas Diamuk Perusuh Usai Demo Ricuh di DPR, Pelaku Terekam
Musahadah August 28, 2026 06:32 PM

 

SURYA.CO.ID I JAKARTA - Ini lah sosok Bambang Setiyawan (59), warga Bendungan Hilir yang tewas dalam kericuhan di Jalan Pejompongan Raya, Jakarta Pusat, Kamis (27/8/2026) malam.

Bambang Setiyawan tewas diduga akibat dianiaya sekelompok orang perusuh yang masuk di wilayah Pejompongan Raya, setelah demonstrasi di gedung DPR RI. 

Seperti diketahui, demo yang awalnya dilakukan massa Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) itu awalnya berlangsung damai.

Bahkan perwakilan AMPB sempat beraudiensi dengan pimpinan DPR terkait dengan pengesahan RUU Perampasan Aset.

Setelah DPR berjanji akan mengesahkan RUU Perampasan Aset paling lambat 15 Desember 2026, massa AMPB lalu membubarkan diri.

Baca juga: Beda dengan Melva Pardede, Dedi Mulyadi Justru Hormat ke Botok saat Demo DPR, Alasan Pulang Terkuak

Hal ini justru memicu kerusuhan sekelompok orang di sekitar gedung DPR RI. 

Sebagian massa kemudian masuk ke kawasan permukiman dan terlibat kericuhan dengan warga.

"Memakan korban jiwa, satu orang. (Akibat penyusup) Berkelakuan seperti binatang," kata Ketua RT 02 RW 06 Benhil, Aban Sobandi kepada Tribunnews, Jumat (28/8/2026).

Aban mengatakan penanganan aksi demonstrasi kali ini berbeda dibandingkan sebelumnya. Ia menyebut ada pihak yang tidak dikenal dan menilai warga seperti diadu domba.

"Memang penanganan demo saat ini berbeda dengan sebelumnya. Jadi, yang turun itu orang-orang (tidak diketahui) seperti (warga) diadu domba," ujarnya.

Menurut Aban, kericuhan terjadi ketika massa yang disebutnya datang seperti anak-anak pelajar memasuki kawasan tersebut.

"Datang kayak anak-anak pelajar, kemudian datang penyusup. Jadi kita berperang antara pendemo dengan warga. Maka timbullah yang jadi korban itu warga, bukan pendemo lagi," jelasnya.

Sebelum kericuhan, Aban mengatakan warga telah mengamankan kelompok rentan.

Lansia dan warga yang memiliki balita diungsikan ke rumah saudara yang berada jauh dari lokasi. Sementara Aban dan warga lainnya tetap berjaga di rumah masing-masing.

"Kalau yang lansia memang saya ungsikan. Lansia atau yang punya balita saya ungsiin ke rumah saudaranya yang jauh," imbuhnya.

Penjual Cermin

Sebelum kejadian itu, Bambang masih berjualan cermin di pinggir Jalan Pejompongan Raya.

Istrinya, Sudarsi (56) mengatakan, sekitar pukul 16.30 WIB ia meminta suaminya menutup dagangan setelah melihat massa mulai ramai.

"Saya lihat massa udah dari sana udah banyak, akhirnya saya bilang sama bapaknya, 'Itu massa udah banyak', saya bilang tutup. Pas dia melihat, 'Oh ya udah, tutup'. Saya bantuinlah," ujar Sudarsi saat ditemui di rumah duka, Jumat (28/8/2026).

Setelah itu, Bambang mengantar seseorang yang sakit ke Rumah Sakit Pelni bersama anaknya. Ia kembali ke rumah sekitar pukul 21.00-21.30 WIB.

Setelah situasi dinilai aman, Bambang kembali keluar menuju tokonya di lokasi kericuhan. Namun, ia tak kunjung pulang.

Sekitar pukul 04.00 WIB, keluarga mengetahui Bambang meninggal setelah anaknya mengenali sang ayah dalam video yang beredar di media sosial.

Bambang Disebut Diseret dan Dipukuli

Dalam video yang diperlihatkan kepada Kompas.com, tampak sejumlah pria membawa kayu. Seorang pria terlihat diseret dan dipukuli sekelompok pria.

Sudarsi mengatakan keluarga tidak melihat langsung kejadian tersebut.

"Justru kita tahunya dari video. Kita enggak ada yang lihat jelas nih posisi mayat ini, posisi dia dipukulin, posisi dia dibawa, kita nggak tahu," tuturnya.

Jenazah Bambang kemudian dibawa ke Rumah Sakit Polri sebelum menuju rumah duka di Bendungan Hilir.

Bambang rencananya dimakamkan di TPU Kemanggisan.

Aban mengaku berada di lokasi saat kericuhan, tetapi tidak melihat langsung kejadian yang dialami Bambang karena pandangannya terhalang kerumunan.

Ia kemudian meminta keterangan dari tetangga Bambang yang merekam video tersebut. Menurut keterangan yang diterimanya, Bambang diseret dan dianiaya sekelompok pria.

"(Bambang) Digeret-geret," ucap Aban.

Seorang Pelajar Babak Belur

Aban menyebut, selain Bambang yang tewas dalam kericuhan itu, pelajar bernama Faturohman (18) babak belur. 

Menurut Aban, para pelaku bukanlah polisi, melainkan kelompok tidak dikenal.

"Yang nanganin demo itu biasanya aparat kepolisian, tapi saat ini yang nanganin dan dikedepankan itu ormas. Tindakannya di luar SOP kepolisian, semaunya sendiri," kata Aban ditemui di rumah duka Bambang, Jumat (28/8/2026). 

Aban memastikan warganya tidak ada yang ikut-ikutan melakukan aksi unjuk rasa. 

Warga yang menjadi korban hanya sedang berada di sekitar lokasi untuk mengamankan wilayah karena kericuhan pecah di kawasan tersebut.

"Main comot aja yang dapat siapa aja. Padahal itu enggak ikutan demo. Warga sini enggak ada yang ikut-ikutan demo. Yang satu lagi main HP langsung dicomot," tegasnya.

Bahkan, tim medis yang hendak memberikan pertolongan pertama kepada korban tewas pun sempat mendapat tindakan intimidatif dari kelompok tersebut.

"Bahkan udah ditolongin, yang satu yang baru ketemu nih di Polda, udah dipegang sama tim medis, mau dibawa tim medis, direbut. Tim medisnya dijorokin," tambah Aban.

Aban menegaskan bahwa warga sangat bisa membedakan mana aparat kepolisian resmi dan mana kelompok tak dikenal yang turut berada di lokasi kericuhan.

Polisi dinilai selalu bertindak sesuai prosedur, sementara kelompok tak dikenal itu disebutnya melakukan penganiayaan layaknya aksi premanisme.

"Kalau kepolisian kan pakai seragam, terus juga tindakannya enggak seperti itu. Biasa polisi nanganin tidak seperti itu, sesuai SOP. Kelakuan begitu, tindakan ini premanisme" jelasnya.

Ia juga mengonfirmasi bahwa kelompok diduga ormas tersebut sempat masuk ke area pemukiman warga. Mereka bergerak dan menyisir lokasi dari arah flyover.

Awalnya, warga tidak memberikan perlawanan saat terjadi penyisiran karena mengira kelompok berpakaian bebas tersebut merupakan anggota polisi berpakaian sipil.

"Warga itu pertama awalan perkiraan itu polisi, jadi enggak berani melawan. Dikiranya 'Oh Intel, Intel'. Tapi warga pada ngumpul menyelamatkan diri. Kalau tahu itu ormas, pasti pada ngelawan lah warga," tuturnya.

Atas kejadian ini, Aban mempertanyakan alasan pelibatan pihak luar yang tidak memiliki kewenangan SOP resmi dalam menangani aksi penyampaian pendapat di ruang publik hingga memicu korban jiwa.

"Mereka bukan massa aksi. Mereka datang dari arah flyover. Jadi anarkis jadinya, di luar SOP menangani demo. Kenapa mereka bisa diberi izin menangani itu? Kurang polisi?" pungkas Aban.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.