Muktamar Ke-35 NU, Gus Yahya Tegaskan Kembali Maju Ketum PBNU dan Bantah Intervensi Prabowo
Sudarma Adi August 28, 2026 06:32 PM

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Anggit Pujie Widodo

TRIBUNJATIM.COM, JOMBANG - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf menegaskan dirinya tetap optimistis menghadapi Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, 27-31 Agustus 2026.

Pernyataan itu disampaikan Gus Yahya, sapaan KH Yahya Cholil Staquf, seusai mendampingi Presiden RI Prabowo Subianto dalam rangkaian pembukaan Muktamar Ke-35 NU, Kamis (27/8/2026) kemarin.

Gus Yahya juga memastikan dirinya tetap maju dalam kontestasi pemilihan Ketua Umum PBNU. Ketika ditanya mengenai alasan dirinya kembali mencalonkan diri, ia memberikan jawaban singkat.

"Allahu Robbuna. Niatku ora kliru," ucap Gus Yahya dalam keterangan yang diterima Tribunjatim.com, Jumat (28/8/2026).

Menurut Gus Yahya, keputusannya untuk tetap maju merupakan bagian dari tanggung jawab dalam menjalankan khidmah kepada NU.

Bantah Ada Intervensi Presiden

Gus Yahya turut merespons isu mengenai dugaan keterlibatan Presiden Prabowo dalam dinamika internal Muktamar, termasuk kabar bahwa Presiden tidak menghendaki dirinya kembali memimpin PBNU.

Baca juga: Jadwal Lengkap Muktamar NU ke-35 di Tambakberas Jombang 27-30 Agustus 2026, Ada Pemilihan Ketua Umum

Ia menilai anggapan tersebut tidak memiliki dasar yang rasional. Menurutnya, situasi politik saat ini berbeda dengan relasi kekuasaan pada era Presiden Soeharto, khususnya dalam konteks hubungan dengan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

"Informasi tidak masuk akal. Prabowo tidak dalam posisi seperti Soeharto, lingkungan politik juga tidak sama," ujarnya.

Gus Yahya mengatakan, tidak ada kepentingan politik yang masuk akal bagi Presiden Prabowo untuk melakukan intervensi terhadap proses internal NU.

"Mengintervensi NU akan sangat membahayakan posisi politik Prabowo," katanya.

Ia juga membandingkan relasinya dengan Prabowo dengan hubungan Gus Dur dan Soeharto yang memiliki konteks berbeda.

"Posisi saya terhadap Prabowo juga tidak sama dengan posisi Gus Dur terhadap Soeharto. Saya kooperatif, bahkan supportif. Gus Dur kritis sesuai kebutuhan konteks sosial politik saat itu," tuturnya.

Atas dasar itu, Gus Yahya menilai tidak terdapat alasan yang rasional bagi Presiden Prabowo untuk menolak dirinya kembali memimpin PBNU.

"Tidak ada alasan yang masuk akal bagi Prabowo untuk menolak saya," tegasnya.

Singgung Dugaan Pencatutan Nama Presiden

Gus Yahya juga mengungkap adanya informasi mengenai pihak tertentu dari lingkungan pemerintahan yang disebut mengumpulkan pengurus NU dari sejumlah daerah, untuk meminta dukungan agar tidak memilih dirinya.

Dalam aktivitas tersebut, menurut informasi yang diterimanya, juga disebut terdapat dugaan pemberian uang.

Namun, ia menegaskan tindakan individu tersebut tidak serta-merta dapat dianggap sebagai sikap resmi Presiden Prabowo.

Menurut Gus Yahya, apabila benar terdapat pihak di lingkungan pemerintahan yang melakukan manuver politik dengan membawa nama Presiden, tindakan itu justru berpotensi merugikan Presiden.

"Kalau ada anak buah Prabowo bermanuver mencatut Prabowo, semestinya Prabowo menegur, bila perlu memberi sanksi," ungkapnya.

Ia menilai pihak-pihak tersebut justru dapat mengorbankan Presiden demi kepentingan mereka sendiri.

"Mereka mengorbankan Prabowo untuk agenda mereka sendiri," katanya melanjutkan.

Gus Yahya juga berpandangan bahwa apabila tindakan tersebut dilakukan secara terbuka, teguran maupun sanksi terhadap pihak yang bersangkutan semestinya juga disampaikan secara terbuka.

Yakin PWNU dan PCNU Pegang Integritas

Di tengah munculnya isu politik uang menjelang Muktamar, Gus Yahya mengaku tetap percaya terhadap integritas Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU).

Ia menilai para pengurus di tingkat wilayah dan cabang merupakan kader organisasi yang memiliki tanggung jawab moral dalam menentukan masa depan NU.

"PW dan PC adalah kader-kader. Bukan pedagang, apalagi maling," bebernya.

Gus Yahya meyakini para pengurus tersebut memiliki nurani dan loyalitas terhadap organisasi sehingga tidak mudah dipengaruhi oleh kepentingan material.

"Mereka punya nurani dan kesetiaan terhadap organisasi. Mereka akan melindungi komitmen moral mereka dari ancaman apa pun, apalagi sekadar uang," jelasnya.

Saat ditanya apakah dirinya tetap yakin PWNU dan PCNU akan menggunakan haknya berdasarkan kepentingan organisasi, Gus Yahya menjawab tegas.

"Ya. Haqqul yaqin," imbuhnya.

Sebut Islah dengan Syuriyah Telah Tuntas

Gus Yahya juga memastikan hubungan antara dirinya dengan Rais Aam PBNU beserta jajaran Syuriyah telah kembali selesai setelah sebelumnya terjadi dinamika internal organisasi.

"Tuntas. Buktinya sepakat Muktamar," katanya.

Menurutnya, kesepakatan untuk melaksanakan Muktamar menunjukkan bahwa persoalan internal telah dikembalikan pada mekanisme organisasi.

Muktamar menjadi forum permusyawaratan tertinggi NU yang tidak hanya membahas persoalan organisasi, tetapi juga menentukan kepemimpinan serta arah perjalanan jam’iyah untuk periode berikutnya.

Menjelang proses pemilihan kepemimpinan, Gus Yahya mengingatkan seluruh peserta Muktamar agar menjaga niat dan disiplin organisasi.

Ia meminta seluruh pihak tidak melakukan tindakan yang dapat mencederai kehormatan NU.

"Tata niat yang benar dan disiplin. Jangan sampai bertindak mencederai martabat NU," bebernya.

Menurut Gus Yahya, seluruh rangkaian Muktamar harus dijalankan dengan mengedepankan kepentingan organisasi dan menjaga kehormatan jam’iyah.

Ia juga mengingatkan agar aktivitas individu yang berada di sekitar lingkaran kekuasaan tidak serta-merta dianggap sebagai representasi sikap Presiden.

Jika terdapat pihak yang menggunakan atau mencatut nama Presiden untuk memengaruhi pilihan peserta Muktamar, Gus Yahya menilai tindakan tersebut harus menjadi tanggung jawab pihak yang melakukannya.

Pada akhirnya, ia menegaskan keyakinannya bahwa Muktamar Ke-35 NU harus menjadi momentum untuk menjaga marwah organisasi, memperkuat disiplin jam’iyah, serta memastikan proses pemilihan kepemimpinan berlangsung sesuai mekanisme organisasi. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.