Destry Terpilih Jadi Gubernur BI, Rupiah Ditutup Menguat 51 Poin ke Rp17.693
Choirul Arifin August 28, 2026 06:35 PM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan sore ini, Jumat 28 Agustus 2026.

Pengamat ekonomi dan mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, rupiah ditutup menguat 51 poin ke level Rp17.693 per dolar AS. Sebelumnya, rupiah berada di posisi Rp17.744 per dolar AS. Dalam perdagangan hari ini, rupiah bahkan sempat menguat hingga 55 poin.

"Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup menguat 51 poin, sebelumnya sempat menguat 55 poin di level Rp17.693 dari penutupan sebelumnya di level Rp17.744," kata Ibrahim dalam keterangannya, Jumat.

Untuk perdagangan Senin (31/8/2026), Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah masih fluktuatif. Menurut dia, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.690 hingga Rp17.750 per dolar AS.

Sementara untuk perdagangan sepanjang pekan depan, rupiah diproyeksikan bergerak dalam rentang Rp17.600 hingga Rp17.900 per dolar AS.

Destry Damayanti Jadi Sentimen Positif

Ibrahim menilai, salah satu faktor yang mendapat respons positif dari pasar adalah keputusan Komisi XI DPR RI yang menyetujui Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) periode 2026-2031.

Komisi XI DPR RI menetapkan Destry sebagai Gubernur BI terpilih melalui musyawarah mufakat pada Kamis (27/8/2026), setelah menjalani uji kelayakan dan kepatutan atau fit and proper test.

Baca juga: Ada Demo di DPR, IHSG Ditutup Perkasa dan Rupiah Melemah

Destry sebelumnya menjabat sebagai Pejabat Gubernur Sementara BI setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri dari jabatan Gubernur BI. Kemudian Destry diusulkan Presiden Prabowo Subianto sebagai calon tunggal Gubernur BI.

Menurut Ibrahim, pasar juga masih cenderung berhati-hati dalam mengambil posisi. Pasalnya, pelaku pasar menunggu data inflasi resmi yang dijadwalkan dirilis pada pekan depan.

"Pelaku pasar cenderung menahan diri dari mengambil posisi agresif sebelum melihat angka inflasi resmi yang dijadwalkan rilis pekan depan. Data inflasi ini menjadi indikator krusial bagi Bank Sentral dalam menentukan arah kebijakan moneter dan suku bunga ke depan," ucap Ibrahim.

Baca juga: Rupiah Berakhir Melemah Rp17.744 per Dolar AS, Sempat Menguat 75 Poin Meski Ada Demo di DPR

"Inflasi yang terkendali dapat membuka ruang bagi pelonggaran kebijakan, sementara inflasi yang tinggi akan memaksa suku bunga tetap ketat," sambungnya.

Selain inflasi, pasar juga akan mencermati data perdagangan Indonesia periode Juli. Data tersebut menjadi perhatian karena dapat memberikan gambaran mengenai kondisi pasokan, permintaan, serta biaya distribusi pangan.

"Jika data menunjukkan lonjakan impor pangan, artinya pasokan dalam negeri sedang menipis atau tergantung pada negara lain serta melemahnya mata uang rupiah dalam laporan perdagangan membuat biaya impor pangan menjadi lebih mahal," tegasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.