Tribunlampung.co.id, Lampung Timur - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menerjang kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) Kabupaten Lampung Timur selama sepekan akhirnya resmi dinyatakan padam penuh pada Jumat (28/8/2026) pukul 18.42 WIB.
Baca juga: Modifikasi Cuaca Berhasil Hujan Guyur Lampung Timur, Karhutla Way Kambas Jadi Sasaran
Hal ini menyikapi adanya deteksi dua titik panas (hotspot) baru pada Kamis (27/8/2026) di Resort Rantau Jaya dan Resort Toto Projo.
Kepala Balai TNWK, MHD Zaidi, mengonfirmasi kabar tersebut sekaligus mengapresiasi kerja keras seluruh tim pemadam di lapangan. "Ahamdulillah padam jam 18.42 WIB, itu laporan dari lapangan," ujar Zaidi, Jumat (28/8/2026).
Zaidi mengatakan, laporan resmi dari Balai TNWK mencatat perkiraan total luasan area yang terbakar selama sepekan di wilayah utara, memanjang dari Grid kerja TNWK 21I hingga 21L, mencapai 912,49 hektar.
Dia menyebut, penanganan kebakaran pada dua titik hotspot baru yakni di Resort Rantau Jaya yang terpantau pada pagi hari dan titik api di Resort Toto Projo yang berbatasan dengan Susukan Baru, Resort Rantau Jaya 2 hingga 3 hektar, dan di Resort Toto Projo langsung ditindaklanjuti dengan operasi water bombing dan penanganan kebakaran metode darat oleh tim.
Zaidi mengatakan, karakteristik lokasi yang didominasi tanah mineral dengan tutupan vegetasi alang-alang, semak belukar, serta serasah tebal membuat material bawah sangat kering dan rentan memicu perambatan api cepat.
Meski merusak ekosistem, Zaidi memastikan tidak ada satwa prioritas yang menjadi korban.
"Kebakaran ini mengganggu ekosistem. Namun sejauh ini, tim gabungan di lapangan tidak menemukan adanya satwa yang terbakar secara langsung. Langkah selanjutnya setelah pemadaman tuntas akan kita fokuskan pada pembinaan habitat dan pemulihan ekosistem secara berkesinambungan," tegasnya.
Zaidi mengatakan, penanganan kebakaran ini melibatkan BPBD, BNPB, TNI, Polri, masyarakat lokal, KTH, Karang Taruna, Pramuka, hingga pemerintah daerah.
Selain itu, kata dia, operasi pemadaman diperkuat oleh helikopter water bombing dan program Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) dari BPBD.
Sebelumnya, dukungan taktis juga diterjunkan oleh TNI.
Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) XXI/Radin Inten, Mayjen TNI Kristomei Sianturi, menerjunkan 40 personel Tim Alfa dengan kemampuan freefall dan fast ropping untuk menembus titik-titik api yang terisolasi.
Pengerahan pasukan khusus tersebut didukung oleh pemataan drone thermal untuk mendeteksi bara api di bawah permukaan tanah, serta penggunaan drone semprot berkapasitas 16 hingga 100 liter.
Rangkaian aksi taktis ini berhasil melokalisasi pergerakan api dari akumulasi kebakaran sebelumnya, seperti 673 hektar di Desa Braja Harjosari (21–22 Agustus) serta 123 hektar di Braja Kencana dan Braja Luhur (23–24 Agustus), sehingga tidak menyebar ke habitat inti gajah dan badak sumatra.
"Sesuai instruksi Presiden dan Panglima TNI, kita menerjunkan 40 personel Tim Alfa ke lokasi-lokasi sulit yang masih menyisakan hotspot," jelas Mayjen TNI Kristomei Sianturi. (Tribunlampung.co.id/Fajar Ihwani Sidiq)