Duka Kericuhan Pejompongan Usai Demo: Pedagang Cermin Meninggal, Pelajar Diseret, Balita Diungsikan
Tsaniyah Faidah August 29, 2026 12:07 AM

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Rentetan kericuhan yang pecah di kawasan Pejompongan, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, usai demonstrasi di sekitar Gedung DPR RI pada Kamis (27/8/2026) malam menyisakan duka mendalam bagi warga setempat.

Bambang Setiawan (60), seorang pedagang cermin yang sehari-hari berjualan di pinggir Jalan Pejompongan Raya, meninggal dunia usai ditemukan tak sadarkan diri di lokasi kejadian.

Selain itu, seorang pelajar bernama Faturohman (18) mengaku diseret dan dipukuli, sementara warga terpaksa mengungsikan kelompok rentan seperti lansia dan balita.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto membenarkan adanya warga yang meninggal dunia dalam peristiwa tersebut.

Korban sempat dilarikan ke Rumah Sakit Mintohardjo, Bendungan Hilir, sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia.

"Di rumah sakit yang bersangkutan meninggal dunia," ujar Budi dalam konferensi pers di Mapolda Metro Jaya, Jumat (28/8/2026).

Jenazah Bambang kemudian dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk identifikasi.

Namun, karena pihak keluarga menolak proses autopsi, penyebab pasti kematian korban belum dapat dipastikan.

Bambang telah dimakamkan oleh pihak keluarga di TPU Kemanggisan.

Istri korban, Sudarsih (56), menceritakan bahwa suaminya sempat menutup lapak dagangannya sekitar pukul 16.30 WIB atas permintaannya karena situasi massa mulai ramai.

Bambang kemudian membantu mengantar tetangganya yang sakit ke RS Pelni dan kembali ke rumah sekitar pukul 20.30 WIB.

Saat situasi sempat melandai, Bambang kembali keluar rumah untuk melihat kondisi sekitar. Namun, hingga pukul 01.30 WIB, korban tak kunjung pulang.

Keluarga baru mengetahui kondisi Bambang sekitar pukul 02.30 WIB melalui rekaman video kericuhan yang beredar di media sosial.

Anak korban mengenali ayahnya dalam video tersebut. Berdasarkan keterangan tetangga yang merekam kejadian, Bambang diduga diseret dan dianiaya oleh sekelompok orang.

Pelajar Mengaku Mengalami Intimidasi dan Penganiayaan

Korban lain dalam kericuhan tersebut, Faturohman (18), mengaku diseret dari depan gang rumahnya oleh sekelompok orang, dipukuli, lalu dibawa ke kawasan Gedung DPR/MPR RI hingga ke Mapolda Metro Jaya.

"Di dalam ada intimidasi, ada pemaksaan untuk ngaku sebagai provokator. Selain dipukul pakai tangan kosong, dada, punggung, dan kepala saya juga dipukul pakai alat tipis seperti penggaris besi atau pisau," tutur Faturohman usai kembali ke rumahnya, Jumat siang.

Balita dan Lansia Diungsikan

Dampak kericuhan juga memaksa pengurus lingkungan mengambil langkah penyelamatan bagi warga rentan.

Ketua RT 002/06 Pejompongan, Aban Sobandi, mengonfirmasi bahwa warga lansia dan anak balita diungsikan ke lokasi yang lebih aman.

Aban menjelaskan, kericuhan terjadi setelah massa Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) selesai menggelar aksi demonstrasi dan audiensi dengan pimpinan DPR RI terkait RUU Perampasan Aset.

Setelahnya, sekelompok orang tidak dikenal yang diduga bukan bagian dari massa aksi masuk ke pemukiman warga.

Menanggapi keterlibatan pihak lain atau ormas dalam kericuhan tersebut, Polda Metro Jaya menegaskan masih melakukan penyelidikan mendalam berdasarkan data terverifikasi.

Polisi juga mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi oleh informasi simpang siur dan hoaks yang beredar di media sosial.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.