Menantang Risiko di Waduk Saguling, Rakit Bambu Jadi Alat Transportasi ke Sekolah
Giri August 29, 2026 12:44 AM

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG BARAT - Rendi, Dian, Imam, dan Fahril gagal sampai ke SD Negeri Budiharja di Desa Budiharja, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB), tempat mereka menuntut ilmu. Alasannya, mereka gagal sampai sisi lain Waduk Saguling setelah menaiki rakit dari bambu.

Empat sekawan yang duduk di kelas 5 dan 6 SD Negeri Budiharja berangkat setelah Agus Sumpena, orang yang biasa menarik rakit dengan tali, tiba di lokasi sekitar pukul 08.00 WIB, Jumat (28/8).

Agus bergegas menuju rakit sembari mengajak Rendi, Dian, Imam, dan Fahril untuk segera naik. Keempatnya pun naik ke atas rakit dan menempati posisi aman agar rakit tetap seimbang saat menyeberang.

Agus segera menarik tali yang telah terpasang agar rakit bisa menyeberangi Waduk Saguling dengan jarak sekitar 200 meter.

"Aku biasanya berangkat jam 6 (pagi), kan masuknya jam 06.30 WIB," kata Imam saat ditemui di Kampung Sadang, Desa Budiharja, kemarin.

Perjalanan dengan rakit berjalan mulus pada awalnya. Namun, rakit tidak bisa menepi ke titik seberang karena terhalang eceng gondok yang cukup padat. Agus pun mencoba menyibak padatnya eceng gondok agar rakit bisa ditarik hingga sampai ke tepi waduk.

Upaya itu tidak membuahkan hasil karena eceng gondok begitu rapat dan padat. Rakit pun terpaksa ditarik lagi ke tempat semula dan misi untuk menyeberangkan Rendi, Dian, Imam, maupun Fahril ke sekolah mengalami kegagalan.

"Kalau jalan kaki muter jauh, 30 menitan," kata Rendi.

Gagal menyeberangi Waduk Saguling, keempat anak tersebut akhirnya mengurungkan niat untuk pergi ke sekolah. Mereka bermain lagi di sekitar Kampung Sadang dengan pakaian sekolah yang masih melekat di tubuh.

Rakit dan perahu menjadi alat transportasi penting di Saguling. Hal itu juga dirasakan Santi Nursetiani. Baginya, rakit menjadi sarana mengantar anaknya pergi ke SD Negeri Budiharja yang terletak di Kampung Gombong, Desa Budiharja, Kecamatan Cililin. Alasannya, dia tidak memiliki sepeda motor untuk mengantar anaknya ke sekolah melalui jalur darat.

Santi merupakan warga RT 05 RW 02 Kampung Sadang, Desa Budiharja. Kampungnya dan sekolah anak dipisahkan Waduk Saguling.

"Setiap hari pakai rakit, nganterin ke sini, biasanya yang narik rakit sama Pak RT. Kalau jalan (darat) jauh, sekitar 30 menit, ya bagaimana lagi, kami tidak punya kendaraan," kata Santi.

Santi sebetulnya kerap khawatir saat anaknya menyeberangi perairan Waduk Saguling sepanjang 200 meter menggunakan rakit. Apalagi, akses untuk menuju tepian waduk kerap licin dan berlumpur.

Sesekali, Santi meminta anaknya berjalan kaki untuk sampai sekolah. Pasalnya, rasa khawatir kerap dirasakan Santi jika anaknya yang duduk di bangku kelas 3 SD menyeberangi waduk dengan rakit.

Jika jalan kaki, Santi meminta anaknya untuk berangkat lebih awal dari biasanya. "Masuk kan jam 06.30 WIB, ya persiapan lebih cepat, karena harus ngeliling, jauh, bisa 30 menit. Kalau pakai rakit paling lima menit nyampe," ujarnya.

Santi berharap, ada kepedulian pemerintah agar warga Kampung Sadang memperoleh akses lebih mudah untuk menyeberangi Waduk Saguling. "Warga sih penginnya ada jembatan atau apa lah, yang penting aman gitu," ucap dia.

Hal berbeda diungkapkan Entang, seorang ibu yang memilih melakukan antar dan jemput sekolah menggunakan sepeda motor. Entang mengaku sangat khawatir jika anaknya harus menyeberangi Waduk Saguling menggunakan rakit.

"Belum pernah, pakai motor saja (antar-jemput). Iya, khawatir (kalau dengan rakit)," kata Entang saat ditemui di SD Negeri Budiharja.

16 Murid yang Menyeberang

Kepala SD Negeri Budiharja, Taufik, mengonfirmasi ada 16 muridnya yang masih mengandalkan rakit dan perahu untuk sampai ke sekolah. Murid kelas 1, 2, 3, 5, dan 6 itu harus menyeberangi Waduk Saguling dari Kampung Sadang ke Kampung Gombong untuk sampai ke sekolah saban hari.

"Jumlah siswa ada sekitar 150-an, yang masih bertahan (menggunakan rakit dan perahu) ada 16 orang. Kelas 1 ada tiga orang, kelas 2 ada empat orang, kelas 3 ada tiga orang, kelas 4 tidak ada, kelas 5 ada 3 orang, kelas 6 ada 3 orang," kata Taufik saat ditemui di SD Negeri Budiharja.

Taufik mengungkapkan, ada sejumlah alasan mengapa para murid tersebut memilih menggunakan rakit atau perahu untuk sampai ke sekolah. Satu di antaranya, jarak tempuh jalur darat lebih lama, sekitar 30 menit dengan berjalan kaki.

"Gara-garanya jauh dari Kampung Sadang, sekitar 4 kilometer, 15 menit dewasa, kalau anak-anak 30 menit. Jadi untuk mempersingkat waktu ke sekolah, nyampelah lima menit (dengan rakit)," ungkapnya.

Taufik menuturkan, menyeberangi Waduk Saguling untuk sampai ke SD Negeri Budiharja memang cukup berisiko. Kondisi penyeberangan semakin tidak aman saat cuaca hujan.

"Tapi alhamdulilah sejauh ini aman. Orang tua juga suka ngantar, bahkan ikut naik rakit," tuturnya.

Penyeberangan dari Kampung Sadang ke Kampung Gombong berjarak sekitar 200 meter. Masyarakat bisa memilih dari dua alternatif, menggunakan rakit atau perahu sampan.

Saat ini, rakit dengan panjang sekitar 6 meter dan lebar 1,5 meter kondisinya sudah tidak prima. Perlu kehati-hatian ekstra agar rakit tidak karam.

Penarik rakit, Agus Sumpena, mengatakan, kapasitas rakit awalnya bisa mencapai 20 orang. Namun, dengan kondisinya yang semakin memburuk, kapasitas penumpang rakit hanya bisa untuk 10 orang.

"Itu juga harus anak-anak, biar aman," kata Agus.

Indikasi Persoalan Perencanaan Pembangunan

Anak pergi ke sekolah dengan rakit untuk menyeberangi Waduk Saguling menjadi indikasi adanya persoalan dalam perencanaan pembangunan daerah. Apalagi kalau akses berbahaya menuju sekolah telah berlangsung lama dan diketahui pemerintah tetapi belum mendapat penanganan yang jelas. 

"Persoalannya bukan lagi sekadar keterbatasan anggaran. Ada persoalan dalam penentuan prioritas pembangunan dan kualitas pengambilan keputusan," ujar pengamat kebijakan publik dari Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Kristian Widya Wicaksono.

Namun, kata dia, kondisi tersebut tidak serta-merta membuktikan semua perencanaan pemerintah daerah buruk. Penilaiannya, harus melihat sejumlah aspek mulai dari apakah pemerintah telah mengetahui persoalan tersebut, apakah sudah masuk dalam dokumen perencanaan, apakah anggaran telah disediakan, hingga bagaimana pelaksanaannya di lapangan.

"Perencanaan yang berkualitas tidak cukup hanya menetapkan target pembangunan sekolah atau peningkatan angka partisipasi pendidikan. Perencanaan juga harus memperhitungkan akses fisik yang aman menuju sekolah," ucapnya.

Kristian menilai, persoalan muncul ketika pemerintah mengukur keberhasilan sektor pendidikan hanya melalui indikator administratif. Misalnya, jumlah sekolah, jumlah peserta didik, angka partisipasi, maupun tingkat kelulusan, tanpa melihat kondisi nyata yang harus dihadapi siswa untuk mencapai sekolah.

"Ini menunjukkan adanya kemungkinan kesenjangan antara perencanaan di atas kertas dan kebutuhan masyarakat di lapangan," katanya.

Pemerintah, kata dia, semestinya menggunakan data yang lebih lengkap dalam menyusun perencanaan pembangunan pendidikan. Data tersebut antara lain lokasi permukiman, persebaran sekolah, kondisi jalan dan jembatan, jarak tempuh siswa, risiko bencana, hingga kemampuan masyarakat mengakses transportasi.

Dalam konteks Jawa Barat, Kristian menyebut persoalan akses pendidikan juga tidak bisa hanya dibebankan kepada dinas pendidikan. Sebab, keamanan dan keterjangkauan akses menuju sekolah berkaitan dengan berbagai sektor, mulai dari jalan, jembatan, transportasi, tata ruang, pemerintahan desa, hingga keselamatan lalu lintas.

Kasus murid SD Negeri Budiharja yang harus menyeberangi Waduk Saguling menggunakan rakit dan perahu, kata dia, perlu dilihat sebagai persoalan lintas sektor. Menurutnya, pemerintah harus memastikan anak-anak dapat mencapai sekolah dengan aman, bukan sekadar memastikan sekolah tersedia.

"Artinya, ukuran keberhasilan pembangunan harus bergeser dari sekadar sekolah tersedia menjadi anak dapat mencapai sekolah secara aman, terjangkau, dan bermartabat," katanya. (rahmat kurniawan/nazmi abdurrahman)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.