Singapura (ANTARA) - Sektor teknologi keuangan (fintech) Singapura menarik investasi lebih dari 499 juta dolar AS (1 dolar AS = Rp17.762) dalam 53 kesepakatan pada paruh pertama (H1) 2026, turun dari sekitar 1,45 miliar dolar AS dalam 97 kesepakatan pada periode yang sama setahun sebelumnya, menurut laporan yang dirilis pada Kamis (27/8), sebagaimana warta Xinhua.
Menurut laporan Pulse of Fintech H1 2026 dari KPMG, organisasi global yang terdiri dari firma jasa profesional independen yang menyediakan layanan Audit, Pajak, dan Konsultasi, angka tersebut menandai "paruh pertama paling lesu yang dialami negara itu dalam hampir satu dekade."
Pembayaran lintas perbatasan, salah satu area investasi utama negara tersebut, mencatat tiga kesepakatan dengan total 332 juta dolar AS.
Aset digital dan mata uang kripto tetap menjadi segmen terbesar berdasarkan jumlah kesepakatan, meskipun skala kesepakatan individual relatif kecil.
Kecerdasan buatan (AI) dan pembelajaran mesin merupakan segmen fintech yang paling aktif, tercatat dalam 18 dari 53 kesepakatan dan menyumbang investasi yang nilainya diungkapkan sebesar 365,9 juta dolar AS.
"Apa yang kita lihat di Singapura mencerminkan pasar global, yakni investor menjadi jauh lebih selektif, mengonsolidasikan modal pada sejumlah kecil platform berskala besar yang sangat mereka yakini, alih-alih perilaku pendanaan seperti yang kita lihat pada tahun-tahun sebelumnya," ujar Antony Ruddenklau, mitra sekaligus kepala jasa keuangan KPMG di Singapura.
Dia mengatakan lingkungan regulasi tepercaya, konektivitas lintas perbatasan, serta kekuatan dalam pembayaran dan aset digital yang dimiliki Singapura terus mendukung posisi negara itu sebagai pusat fintech strategis.





