Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak mencatat penurunan mingguan pada Jumat, 28 Agustus 2026. Tekanan harga minyak dunia ini terjadi seiring pelaku pasar menimbang situasi pembicaraan diplomatik Amerika Serikat (AS)-Iran yang ‘macet’ terhadap arus pengiriman minyak mentah yang mulai kembali mengalir melalui Selat Hormuz.
Mengutip CNBC, Sabtu (29/8/2026), harga minyak Brent turun 39 sen dan ditutup di US$ 89,31 per barel. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) susut 13 sen ke posisi US$ 83,40. Dua harga minyak acuan itu mengakhiri pekan ini dengan penurunan yang ditunjukkan harga minyak Brent susut lebih dari 5%. Harga minyak WTI terpangkas 4%.
"Kombinasi antara taktik AS yang beralih ke sanksi ekonomi alih-alih tekanan militer, serta wacana mengenai koridor bersama Oman-Iran telah menyebabkan penurunan premi risiko,” ujar Kepala Riset DBS Bank, Suvro Sarkar.
Awal pekan ini, AS mengumumkan apa yang mereka sebut sebagai "sanksi terberat dalam sejarah" terhadap Iran. Teheran menyatakan bahwa sanksi tersebut merupakan "tindakan tidak manusiawi dan bermusuhan" yang sudah tidak lagi efektif.
Perdana Menteri Qatar bertemu dengan para pemimpin senior Iran di Teheran pada Kamis, menekankan pentingnya kembali ke status pra-perang di mana pelayaran melalui jalur air internasional tersebut berlangsung terbuka.
Namun, pemulihan arus minyak melalui Selat Hormuz, jalur yang dilewati oleh 20% pasokan minyak dunia berlangsung tidak stabil.
Data awal pelayaran pada Jumat menunjukkan tujuh kapal komoditas melintas pada Kamis; angka ini turun dari 17 kapal sehari sebelumnya dan berada di bawah rata-rata 10 hari terakhir yang sebesar 15 kapal.

Di Bab el-Mandeb, titik sempit (chokepoint) maritim utama lainnya, tercatat 17 kapal komoditas melintas, dengan rincian enam kapal masuk dan 11 kapal keluar.
Pada Kamis, Goldman Sachs memperkirakan total ekspor dari kawasan Teluk baru-baru ini berkisar antara 15 juta hingga 16 juta barel per hari; angka ini 7 juta hingga 8 juta barel per hari di bawah tingkat pra-perang, tetapi 5 juta hingga 6 juta barel per hari di atas titik terendah pada Maret.
"Sikap kami adalah bersiap menghadapi segala kemungkinan namun tidak membuat prediksi apa pun," kata Analis di PVM Oil Futures, John Evans.
"Dampaknya terkait siapa yang akan bergabung atau keluar dari OPEC, bagaimana permintaan China terpengaruh, serta apakah masalah kilang global dapat teratasi semuanya sangat bergantung pada situasi perang yang penuh ketidakpastian ini,” ujar dia.
Para pejabat pemerintahan Trump sedang mengupayakan kesepakatan untuk mendapatkan akses jangka panjang terhadap sebagian cadangan minyak mentah Venezuela, menurut sumber-sumber yang mengetahui perundingan tersebut pada hari Kamis; langkah ini pada akhirnya dapat menurunkan biaya impor minyak.

Venezuela juga sedang mempertimbangkan untuk keluar dari kelompok produsen minyak OPEC, demikian dilaporkan Bloomberg.
Secara terpisah, ketegangan geopolitik meningkat setelah Moskow memperingatkan mereka dapat menyerang target militer Inggris baik di dalam maupun di luar Ukraina sebagai tanggapan atas serangan Kyiv terhadap wilayah Rusia menggunakan rudal jelajah jarak jauh pasokan Inggris.
Namun, Trump menyatakan, Presiden Rusia Vladimir Putin tidak akan menyerang negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), dan ia menepis laporan media yang menyebutkan bahwa Direktur CIA John Ratcliffe pekan ini telah memperingatkan para pejabat Rusia agar tidak melakukan serangan semacam itu. Inggris merupakan salah satu negara pendiri NATO.
Militer Ukraina menyerang kilang minyak Rusia di wilayah Yaroslavl pada malam hari, menurut pernyataan Staf Umum Ukraina pada Jumat.