Pedagang Es Ketiban Berkah Karena Embung Wanakaya Cirebon Mengering
Mutiara Suci Erlanti August 29, 2026 11:11 AM

 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto


TRIBUNCIREBON.COM, CIREBON- Kemarau membuat Embung Wanakaya di Kabupaten Cirebon mengering.


Namun, kondisi itu justru menjadi berkah bagi Alim (35), pedagang es yang berjualan di sekitar embung.


Saat air menghilang dan dasar embung berubah menjadi hamparan rumput hijau, warga malah semakin ramai berdatangan setiap sore.


Keramaian tersebut ikut membuat dagangan Alim lebih laris.

Baca juga: Embung Wanakaya Cirebon Mengering, Pemandangannya Malah Bikin Warga Berdatangan Tiap Sore


Ia mengaku pendapatannya bisa meningkat hingga dua kali lipat dibandingkan saat Embung Wanakaya masih dipenuhi air.


"Ya alhamdulillah, iya nambah konon (gitu)," ujar Alim saat ditemui di sekitar Embung Wanakaya, Jumat (28/8/2026) sore.


Alim mengatakan, pada hari biasa ketika embung masih terdapat air, ia bisa memperoleh sekitar Rp 150 ribu dari berjualan es.


Namun, ketika kondisi embung mengering dan pengunjung lebih ramai, pendapatannya bisa mencapai sekitar Rp 300 ribu sehari.


"Iya, misalkan kalau ada airnya tuh ya kadang tuh 150. Kalau kayak gini rame kayak gini tuh kadang lebih gitu, 300," ucapnya.


Menurut Alim, peningkatan pendapatan itu tidak lepas dari perubahan aktivitas warga di Embung Wanakaya.


Ketika embung masih berisi air, banyak pengunjung datang untuk memancing.


"Iya, pirang-pirang wong mancinge sih. Malah lamun akeh banyune, akeh wong mancing (iya, banyak orang mancingnya. Malah kalau banyak airnya, banyak orang mancing)," ucapnya.


Sementara ketika embung mengering, pengunjung yang datang lebih banyak merupakan keluarga.


Ibu-ibu bersama anak-anak terlihat memanfaatkan dasar embung untuk bermain dan menikmati suasana.


"Nah iya, wisatawane iku ari garing mah. Ibu-ibu (nah iya, wisatawannya kalau air kering mah, ibu-ibu)," jelas dia.


Menurut dia, kondisi seperti sekarang sudah berlangsung sekitar satu bulan.


"Iya, wis ana sebulanan garing (iya, sudah ada sebulanan kering)," katanya.


Alim mengaku tetap berjualan di lokasi tersebut, baik ketika embung dipenuhi air maupun saat mengering.


"Tetap dagang," ujarnya.


Namun, ia merasakan perbedaan jumlah pengunjung ketika embung memasuki musim kemarau.


Saat ramai seperti sekarang, penghasilannya bahkan bisa mencapai dua kali lipat.


"Lamun dina biasa ya ping siji, lamun dina rame mekenen ping loro, bisa ping loro (kalau hari biasa yang paling standar, kalau hari ramai kaya gini bisa dia kali lipat)," ucap Alim.


Bagi Alim, kondisi tersebut menjadi berkah tersendiri.

Baca juga: Tak Ada Sumber Air di Dekat Lokasi, Damkar Cirebon Berjibaku Padamkan Api yang Lahap 1 Hektare Lahan


"Nggawa berkah, iya," jelas dia.


Alim bukan pedagang baru di kawasan tersebut.


Warga Desa Wanakaya, Blok Sambung itu mengaku telah berjualan di sekitar Embung Wanakaya selama kurang lebih lima tahun.


Selama berjualan, ia sudah terbiasa melihat perubahan kondisi embung dari waktu ke waktu.


Ia mengetahui kapan embung mulai kering dan kapan kembali dipenuhi air.


"Iya. Iya, lamun banyune kapan," katanya.


Alim mengatakan, Embung Wanakaya biasanya kembali terisi ketika hujan turun.


Air dari kawasan sekitar akan mengalir dan membuat embung kembali penuh.


"Nah kebek! Iya, ari ana udan mah, Pak, kebek. Sengkanae noh meluap noh, manjinge meneh maning (nah penuh! Iya, kalau ada hujan mah, Pak, penuh. Dari sananya noh meluap noh, masuknya ke embung," ujarnya.


Meski kini kering, Alim juga masih mengingat kondisi kawasan tersebut ketika hujan turun.


Ia mengatakan air bahkan pernah meluap hingga menggenangi jalan di sekitar embung.


"Iya, ari udan kan kelem ning kene nih, Pak. Maune kelem," ucap Alim.


"Banjir ngalupir, sengkonon nlubir mene, jalan," sambungnya.

EMBUNG WANAKAYA - Suasana di Embung Wanakaya di Jalan Pahlawan, Desa Wanakaya, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, Jumat (28/8/2026) sore
EMBUNG WANAKAYA - Suasana di Embung Wanakaya di Jalan Pahlawan, Desa Wanakaya, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, Jumat (28/8/2026) sore (Tribun Cirebon/Eki Yulianto)


*Embung Mengering, Warga Malah Berdatangan*


Embung Wanakaya sendiri berada di Jalan Pahlawan, Desa Wanakaya, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon.


Di tengah musim kemarau, embung tersebut kini mengalami perubahan wajah.


Dasar embung yang biasanya terisi air berubah menjadi hamparan rumput hijau.


Kondisi itu justru menarik perhatian warga.


Pantauan Tribun di lokasi, Jumat (28/8/2026) sore, area embung terlihat ramai.


Warga datang bersama keluarga untuk duduk santai, bercengkerama, berswafoto hingga mengajak anak-anak bermain di dasar embung.


Rumput hijau yang tumbuh di area yang sebelumnya tergenang air menjadi pemandangan yang menarik.


Ketika matahari mulai condong ke ufuk barat, cahaya jingga matahari terbenam menyinari hamparan rumput di dasar embung.


Sejumlah warga terlihat mengabadikan suasana tersebut menggunakan kamera ponsel.


Anak-anak juga tampak bermain di sekitar fasilitas perahu yang sudah tidak terpakai dan kini berada di atas daratan embung.


Beberapa pemuda dan keluarga memilih duduk santai di antara rerumputan dan batang-batang kayu kering di tepi embung.


Pemandangan tersebut membuat fungsi kawasan itu seolah berubah sementara.


Ketika masih dipenuhi air, warga umumnya datang untuk nongkrong atau memancing.


Namun, ketika air surut, dasar embung justru menjadi ruang terbuka yang menarik lebih banyak pengunjung.


Pengunjung Penasaran Lihat Embung Kering


Salah seorang pengunjung, Tri (46), mengaku mengetahui kondisi Embung Wanakaya yang mengering dari telepon selulernya.


Informasi mengenai embung yang kering dan ditumbuhi rumput hijau tersebut membuatnya penasaran untuk datang.


"Awalnya dari HP, katanya kering. Terus ini tumbuh rumput hijau. Terus Ibu tertarik ke sini," ujar Tri saat ditemui di lokasi, Jumat (28/8/2026).


Tri datang bersama anaknya.

Baca juga: Tak Ada Sumber Air di Dekat Lokasi, Damkar Cirebon Berjibaku Padamkan Api yang Lahap 1 Hektare Lahan


Ia mengatakan sudah cukup sering mengunjungi Embung yang berlokasi 14 Km dari Kantor Bupati Cirebon itu, ketika tempat tersebut masih dipenuhi air.


"Kalau lagi ada airnya tuh sering ke sini sama anak-anak," katanya.


Namun, menurut Tri, suasana ketika embung mengering terasa jauh berbeda.


Ia melihat jumlah pengunjung justru lebih ramai dibandingkan saat masih terdapat air.


"Iya, lebih banyak. Ramai, Mas. Kalau lagi ada airnya tuh cuma satu dua yang nongkrong di sini," ujarnya.


Para pengunjung, kata Tri, tidak selalu memiliki kegiatan khusus.


Mereka datang untuk menikmati suasana, bermain, duduk-duduk hingga berswafoto.


"Ya cuma swafoto-swafoto, main-main di bawah. Senang kalau yang kering gitu, kan ada rumputnya," ucapnya.


"Bagus tuh," sambung Tri.


Menurut Tri, kondisi embung mengering bukan pertama kali terjadi.


Musim kemarau tahun sebelumnya juga membuat kondisi Embung Wanakaya serupa.


"Iya, kalau kemarau kering. Tahun kemarin kan juga begini, Mas," jelasnya.


Meski demikian, tahun ini baru dirinya datang langsung untuk melihat kondisi embung ketika mengering.


"Tahun kemarin sih enggak ke sini saya. Cuma lagi tahun ini nih, penasaran. Biasanya kan ada airnya penuh kalau ada airnya tuh," katanya.


Tri juga mengatakan, saat embung masih berisi air, kawasan tersebut relatif sepi.


"Enggak ada, enggak ada apa-apa. Kosong, cuma orang nongkrong-nongkrong," ujarnya.


Kini, ketika air surut dan rumput hijau tumbuh, suasana justru berubah.


"Iya, kalau kemarau kalau sore tuh ramai," kata Tri.


Bahkan, menurutnya, keramaian tersebut terjadi hampir setiap hari selama musim kemarau.


"Heeh, setiap hari. Iya, kalau kemarau tuh kalau sore ramai terus, Mas," jelasnya.

 


*Puncak Kemarau*


Fenomena Embung Wanakaya yang mengering terjadi ketika wilayah Cirebon tengah memasuki periode puncak musim kemarau.


Berdasarkan informasi BMKG dalam prediksi musim kemarau 2026, sebagian besar wilayah Jawa Barat diprakirakan mengalami musim kemarau yang lebih kering.


Puncak musim kemarau di Jawa Barat diperkirakan terjadi pada Agustus 2026.


Dalam peringatan dini kekeringan meteorologis Dasarian III Agustus 2026, Kabupaten Cirebon juga masuk wilayah dengan kategori Awas.


Kondisi tersebut sejalan dengan mulai surutnya sejumlah sumber air di tengah musim kemarau.


Meski demikian, kondisi kering di Embung Wanakaya tidak serta-merta dapat disebut sebagai akibat langsung dari peringatan kekeringan BMKG tanpa adanya data khusus mengenai volume air embung.


Di tengah kemarau, warga justru menemukan sisi lain Embung Wanakaya.


Ketika air menghilang, dasar embung terbuka.


Rumput hijau tumbuh dan hamparannya menjadi tempat warga duduk, bermain, berswafoto hingga menikmati matahari terbenam.


Bagi Alim, perubahan suasana tersebut bukan sekadar menghadirkan pemandangan baru.


Keramaian warga juga menjadi tambahan rezeki bagi dirinya.


Dari sekitar Rp 150 ribu saat hari biasa ketika embung masih berisi air, pendapatannya bisa meningkat menjadi sekitar Rp 300 ribu ketika pengunjung ramai.


"Nggawa berkah, iya," kata Alim.


Sementara bagi warga, Embung Wanakaya kini menawarkan pengalaman berbeda.


Bukan lagi hamparan air yang menjadi daya tarik utama, melainkan rumput hijau dan panorama matahari terbenam.


Namun, bagi Alim, perubahan itu memiliki arti lain.


Saat air embung menghilang, justru rezekinya ikut bertambah.

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.