Film Ibadah & Cinta Diperkenalkan Disela Muktamar Jombang , Angkat Kisah Cinta Lintas Budaya
Samsul Arifin August 29, 2026 01:14 PM

 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Anggit Puji Widodo

TRIBUNJATIM.COM, JOMBANG - Kisah cinta yang mempertemukan kehidupan pesantren Indonesia dengan kultur masyarakat Australia dihadirkan melalui film drama religi Ibadah & Cinta.

Film tersebut diperkenalkan kepada masyarakat Jombang melalui kegiatan bedah film dan novel di Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif, Asrama Al-Bisri, Denanyar, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang, Jumat (28/8/2026) sore.

Film produksi Sinemata Buana Kreasindo itu dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 24 September 2026. Ibadah & Cinta disutradarai Jastis Arimba dengan skenario yang ditulis Ifan Adriansyah Ismail.

Film ini tidak hanya menyajikan kisah romantis. Ibadah & Cinta memadukan drama keluarga dengan persoalan kehilangan, perbedaan budaya, pencarian makna kehidupan, hingga proses belajar mengikhlaskan.

Baca juga: Hasil Mubes Warga NU 2026 Tolak Politik Uang, Dorong Perempuan Isi 30 Persen Struktur NU

Kisah Cinta Dua Kultur

Sutradara Jastis Arimba mengatakan, film tersebut mencoba menghadirkan cerita tentang bagaimana seseorang memahami arti cinta ketika dihadapkan pada perbedaan latar belakang dan persoalan kehidupan.

"Film Ibadah dan Cinta ini adalah film drama keluarga bernilai religi yang bercerita tentang bagaimana kita memaknai arti cinta, kehilangan, dan mengikhlaskan," ucap Jastis dalam keterangan yang diterima Tribunjatim.com, Sabtu (29/8/2026).

Cerita berpusat pada Rico, pemuda asal Australia yang digambarkan sebagai sosok agnostik dan masih mempertanyakan berbagai hal mengenai agama serta nilai-nilai ketuhanan.

Dalam perjalanan hidupnya, Rico bertemu dengan Santun, ustazah muda yang berasal dari keluarga pesantren. Santun digambarkan sebagai perempuan cerdas, anggun, serta memiliki prinsip kuat karena tumbuh di lingkungan keluarga kiai.

Pertemuan keduanya kemudian berkembang menjadi hubungan yang menghadapi berbagai tantangan. Perbedaan keyakinan, kultur, serta latar kehidupan menjadi bagian dari konflik yang harus mereka lalui.

Jastis menyebut pertemuan Rico dan Santun menjadi gambaran perjumpaan dua lingkungan yang kontras, yakni kehidupan pesantren di Indonesia dan kehidupan masyarakat Australia yang modern.

"Bagaimana dua keragaman budaya, dua karakter potret kehidupan yang berbeda, bisa disatukan oleh cinta itu sendiri," ujarnya.

Untuk memperkuat gambaran tersebut, proses produksi Ibadah & Cinta dilakukan di dua negara, yakni Indonesia dan Australia.

Sejumlah latar pesantren dipadukan dengan suasana kehidupan di Australia untuk membangun cerita tentang perbedaan budaya yang menjadi salah satu kekuatan film.

Dikemas sebagai Film Keluarga

Meski mengangkat tema serius, Jastis memastikan Ibadah & Cinta tetap dikemas sebagai tontonan keluarga. Unsur drama dan religi dipadukan dengan romantisme serta komedi agar cerita tidak terasa berat.

Ia berharap penonton tidak hanya memperoleh hiburan, tetapi juga dapat merasakan emosi sekaligus mengambil pesan dari perjalanan para tokohnya.

"Ini film keluarga yang sangat menggugah jiwa, sangat emosional. Film keluarga yang sangat layak ditonton bersama keluarga-keluarga Indonesia," katanya.

Jastis bahkan menyebut sejumlah bagian film berpotensi membuat penonton terbawa suasana.

"Banyak bawa tisu, karena memang film ini sangat menguras emosi," ungkapnya.

Berkaitan dengan Fatayat NU

Film Ibadah & Cinta juga memiliki keterkaitan dengan Fatayat NU. Organisasi tersebut disebut turut memberikan dukungan sejak proses produksi film.

Almarhumah Margaret Aliyatul Maimunah, yang pernah menjabat Ketua Umum PP Fatayat NU, juga terlibat sebagai salah satu pemeran dalam film tersebut.

Pj Ketua Umum PP Fatayat NU Dewi Winarti menilai karakter perempuan dalam film menjadi salah satu pesan penting yang dapat dipetik penonton.

Tokoh Santun, misalnya, digambarkan sebagai perempuan dari keluarga pesantren yang berprofesi sebagai guru ngaji, taat menjalankan nilai agama, dan memiliki prinsip kuat.

Namun, kehidupannya berubah ketika ia menghadapi persoalan cinta dengan laki-laki yang memiliki latar kultur berbeda.

Menurut Dewi, karakter tersebut menunjukkan bahwa perempuan tetap perlu mempertahankan prinsip yang diyakini benar meskipun berhadapan dengan perbedaan budaya.

"Hal yang prinsip itu tetap harus kita perjuangkan jika itu benar, ketika itu berhadapan dan bertentangan dengan sebuah kultur atau budaya," kata Dewi.

Keterlibatan almarhumah Margaret dalam film tersebut juga dinilai memberikan makna khusus bagi keluarga besar Fatayat NU.

Pesan mengenai cinta, kehilangan, dan keikhlasan dianggap memiliki relevansi dengan perjalanan organisasi.

"Cinta itu tumbuh karena dirawat. Fatayat NU ini akan kita rawat dengan cinta," ungkapnya.

Berliana Lovell Ungkap Tantangan Perankan Muslimah

Sementara itu, aktris Berliana Lovell yang memerankan karakter Nissa mengaku mendapat pengalaman baru selama menjalani proses produksi film tersebut.

Salah satu tantangan yang dirasakannya adalah ketika harus mengenakan kerudung. Berliana mengaku sebelumnya belum terbiasa dengan pakaian tersebut.

"Yang paling challenging adalah pakai kerudung. Karena kan enggak biasa," bebernya.

Sebagai seorang mualaf, Berliana juga harus mempelajari karakter sekaligus memahami nilai-nilai Islam yang berkaitan dengan perannya. Meski menjadi pengalaman baru, ia justru merasa nyaman selama menjalani proses tersebut.

"Awalnya benar-benar baru belajar. Tapi ternyata nyaman, terus jadinya lebih betah aja pakai kerudung," katanya.

Dalam film, Berliana memerankan Nissa sebagai perempuan Muslimah yang ceria, lucu, dan memiliki sisi centil. Tantangan baginya adalah menjaga karakter tersebut tetap hidup tanpa menghilangkan identitasnya sebagai seorang Muslimah.

"Gimana caranya si centil ini enggak melewati batas ke-Islamannya. Aku kan pakai kerudung tapi harus berperan sedikit centil, tapi gimana caranya centilnya jadi tidak murah," tuturnya.

Berliana mengaku tidak membutuhkan waktu lama ketika mendapat tawaran untuk bermain dalam film tersebut.

"Langsung gas aku," jelasnya.

Dengan menggabungkan kisah cinta, keluarga, nilai religi, serta perjumpaan dua kultur, Ibadah & Cinta diharapkan menjadi film yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajak penonton merefleksikan makna cinta, kehilangan, perbedaan, dan keikhlasan.

Film tersebut dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia pada 24 September 2026.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.