Laporan Jurnalis TribunAmbon.com, Silmi Sirati Suailo
MALTENG,TRIBUNAMBON.COM - Krisis air bersih begitu dirasakan masyarakat Pulau Ay, Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah.
Gejolak El Nino mengakibatkan curah hujan begitu minim, alhasil stok air hujan semakin menipis pada bak penampung air milik warga.
Akibatnya, warga terpaksa merogok kocek lebih untuk memenuhi kebutuhan air minum juga air untuk keperluan sanitasi di rumah.
Salah satunya dirasakan keluarga Muliani Rasman, masyarakat Pulau Ay, Kepulauan Banda.
Selama dua bulan terakhir, untuk mendapatkan air minum keluarga Muliani Rasman harus mengeluarkan uang sebesar Rp 20 ribu per satu galon, dengan kebutuhan dua galon per bulan.
Baca juga: Istri Penyanyi Vicky Salamor Disomasi atas Dugaan Pencemaran Nama Baik di Medsos
Baca juga: Atasi Krisis, Polres Malteng Salurkan Air Bersih tuk Masyarakat Pulau Ay dan Pulau Rhun
Air tersebut dipesan dari Banda Neira, yang diantar dengan speed boat atau kapal Banda menuju pulau.
Sedangkan kebutuhan MCK, Mulyadi harus membeli air sebanyak 200 liter dengan harga Rp 1.050.000 yang juga dibeli dari Banda Naira.
Ia mengatakan, embung membran milik masyarakat sudah dibangun, namun mengalami kebocoran, alhasil air yang ditampung makin lama makin menipis.
"Bayangkan bila ini berlangsung selama beberapa bulan ke depan," ujar Muliani, Sabtu (29/8/2026).
Muliani Rahman mengatakan, masyarakat tidak hanya membutuhkan bantuan air dalam jangka pendek.
Mereka juga berharap pemerintah membangun bak penampungan air berkapasitas besar yang dapat digunakan untuk menghadapi musim kemarau.
Menurutnya, salah satu kebutuhan mendesak adalah pembangunan bak bersakala besar di tingkat RT.
Ditambahkan, penampungan dengan ukuran sekitar 3 meter lebar dan 4 meter dalam, dengan perkiraan biaya sekitar Rp. 20 juta sudah dibangun oleh warga pulau Ay di rumah masing -masing.
"Otomatis warga tidak punya kemampuan dan akses untuk penampungan yang lebih besar," tukasnya.
Olehnya itu, dengan permintaan dibangunnya bak penampungan lebih besar, maka diharapkan dapat menjadi cadangan air bagi masyarakat ketika musim kemarau berlangsung panjang.
“Harapan masyarakat, ada bak penampung besar. Jadi kalau hujan, air bisa ditampung sebanyak-banyaknya untuk persediaan saat musim panas,” ujar Mulyadi.
Persoalan ini semakin penting karena masyarakat Pulau Ay memang selama bertahun-tahun mengandalkan air hujan.
Kajian dan laporan sebelumnya juga mencatat bahwa Pulau Ay tidak memiliki sumber mata air yang memadai sehingga masyarakat sangat bergantung pada penampungan air hujan.
Bahkan, laporan pada Agustus 2026 menyebutkan sejumlah bak penampungan warga mulai mengering dan sebagian warga terpaksa mencari sumber air alternatif.
Dengan krisis tersebut masyarakat membutuhkan solusi permanen.
Pembangunan bak penampungan berkapasitas besar, sistem pemanenan air hujan, serta distribusi air bersih secara berkala dinilai penting agar masyarakat Pulau Ay tidak terus-menerus menghadapi krisis setiap musim kemarau.
Bagi masyarakat Pulau Ay, air bukan lagi sekadar kebutuhan, air adalah persoalan bertahan hidup. (*)