Krisis Makin Parah, Masyarakat Pulau Ay Mesti Merogoh Kocek Jutaan tuk Penuhi Kebutuhan Air Bersih
Fandi Wattimena August 29, 2026 01:52 PM

‎Laporan Jurnalis TribunAmbon.com, Silmi Sirati Suailo 

‎MALTENG,TRIBUNAMBON.COM - Krisis air bersih begitu dirasakan masyarakat  Pulau Ay, Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah.

‎Gejolak El Nino mengakibatkan curah hujan begitu minim, alhasil stok air hujan semakin menipis pada bak penampung air milik warga. 

‎Akibatnya, warga terpaksa merogok kocek lebih untuk memenuhi kebutuhan air minum juga air untuk keperluan sanitasi di rumah.

‎Salah satunya dirasakan keluarga Muliani  Rasman, masyarakat Pulau Ay, Kepulauan Banda.

‎Selama dua bulan terakhir, untuk mendapatkan air minum keluarga Muliani Rasman harus mengeluarkan uang sebesar Rp 20 ribu per satu galon, dengan kebutuhan dua galon per bulan. 

Baca juga: Istri Penyanyi Vicky Salamor Disomasi atas Dugaan Pencemaran Nama Baik di Medsos

Baca juga: Atasi Krisis, Polres Malteng Salurkan Air Bersih tuk Masyarakat Pulau Ay dan Pulau Rhun 

‎Air tersebut dipesan dari Banda Neira, yang diantar dengan speed boat atau kapal Banda menuju pulau. 

‎Sedangkan kebutuhan MCK, Mulyadi harus membeli air sebanyak 200 liter dengan harga Rp 1.050.000  yang juga dibeli dari Banda Naira.

‎Ia mengatakan, embung membran milik masyarakat sudah dibangun, namun mengalami kebocoran, alhasil air yang ditampung makin lama makin menipis. 

‎"Bayangkan bila ini berlangsung selama beberapa bulan ke depan," ujar Muliani, Sabtu (29/8/2026).

‎Muliani Rahman mengatakan, masyarakat tidak hanya membutuhkan bantuan air dalam jangka pendek.

Mereka juga berharap pemerintah membangun bak penampungan air berkapasitas besar yang dapat digunakan untuk menghadapi musim kemarau.

‎Menurutnya, salah satu kebutuhan mendesak adalah pembangunan bak bersakala besar di tingkat RT. 

‎Ditambahkan, penampungan dengan ukuran sekitar 3 meter lebar dan 4 meter dalam, dengan perkiraan biaya sekitar Rp. 20 juta sudah dibangun oleh warga pulau Ay di rumah masing -masing.

‎"Otomatis warga tidak punya kemampuan dan akses untuk penampungan yang lebih besar," tukasnya.

‎Olehnya itu, dengan permintaan dibangunnya bak penampungan lebih besar, maka diharapkan dapat menjadi cadangan air bagi masyarakat ketika musim kemarau berlangsung panjang.

‎“Harapan masyarakat, ada bak penampung besar. Jadi kalau hujan, air bisa ditampung sebanyak-banyaknya untuk persediaan saat musim panas,” ujar Mulyadi.

‎Persoalan ini semakin penting karena masyarakat Pulau Ay memang selama bertahun-tahun mengandalkan air hujan. 

‎Kajian dan laporan sebelumnya juga mencatat bahwa Pulau Ay tidak memiliki sumber mata air yang memadai sehingga masyarakat sangat bergantung pada penampungan air hujan. 

‎Bahkan, laporan pada Agustus 2026 menyebutkan sejumlah bak penampungan warga mulai mengering dan sebagian warga terpaksa mencari sumber air alternatif. 

‎Dengan krisis tersebut masyarakat membutuhkan solusi permanen.
‎Pembangunan bak penampungan berkapasitas besar, sistem pemanenan air hujan, serta distribusi air bersih secara berkala dinilai penting agar masyarakat Pulau Ay tidak terus-menerus menghadapi krisis setiap musim kemarau.

‎Bagi masyarakat Pulau Ay, air bukan lagi sekadar kebutuhan, air adalah persoalan bertahan hidup. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.