TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, MEMPAWAH - Kepungan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, mendorong umat Buddha dan Konghucu menggelar ritual sembahyang memohon hujan.
Doa tersebut dipanjatkan di tengah kondisi kemarau dan kabut asap yang semakin mengganggu aktivitas masyarakat.
Ritual sembahyang digelar di Vihara Tjhie San Thong, Jalan Daeng Manambon, Kelurahan Tengah, Kecamatan Mempawah Hilir, Sabtu, 29 Agustus 2026, sekitar pukul 07.00 WIB.
Rangkaian sembahyang dipimpin oleh Chin Sun Chien, atau yang akrab disapa Achien.
Sejumlah umat Buddha dan Konghucu tampak mengenakan pakaian rapi dan mengikuti seluruh prosesi dengan khusyuk.
Baca juga: Berikut Kelengkapan Layanan Kesehatan Anak dan Obgyn di RSUD dr Rubini Mempawah
Kabupaten Mempawah memiliki batasan langsung dengan wilayah Kota Pontianak. Namun untuk menempuh pusat kota antar Kota Pontianak dan Mempawah memerlukan waktu yang cukup lama.
Memiliki jarak kurang lebih 70-80 Kilometer perjalanan darat menggunakan kendaraan pribadi bisa ditempuh dengan waktu 1,5 jam.
Prosesi diawali di dalam vihara, kemudian dilanjutkan di halaman vihara.
Berbagai persembahan disiapkan sebagai bagian dari rangkaian ritual sesuai dengan keyakinan dan tradisi umat yang mengikuti kegiatan tersebut.
Selain sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, ritual tersebut menjadi sarana memanjatkan doa dan harapan agar masyarakat mendapat perlindungan serta kondisi kemarau dan kabut asap di Mempawah segera berakhir.
Ketua Yayasan Tjhie San Thong, Djap Kuang Tang, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk ikhtiar spiritual di tengah kondisi kabut asap yang semakin pekat.
"Kami berdoa dan berharap segera turun hujan," kata Djap Kuang Tang seusai kegiatan.
Pria yang akrab disapa Pak Atang itu mengatakan, hujan sangat dibutuhkan untuk membantu mengatasi kondisi yang terjadi akibat kemarau dan kebakaran hutan dan lahan.
Menurut Djap Kuang Tang, kondisi kabut asap di Kabupaten Mempawah saat ini cukup mengkhawatirkan.
Asap tidak hanya mengganggu jarak pandang dan aktivitas masyarakat, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran terhadap dampaknya bagi kesehatan.
Kelompok rentan seperti balita, anak-anak dan lanjut usia menjadi pihak yang perlu mendapat perhatian lebih ketika kualitas udara memburuk akibat kabut asap.
"Kami sangat berharap hujan untuk Provinsi Kalimantan Barat dan Mempawah khususnya. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa segera menurunkan hujan sehingga kemarau dan karhutla berkepanjangan ini bisa segera berakhir," harapnya.
Ia berharap hujan segera turun sehingga kabut asap dapat berkurang dan titik-titik kebakaran yang masih muncul di sejumlah wilayah dapat lebih mudah ditangani.
Turunnya hujan dinilai sangat dibutuhkan di tengah kondisi lahan yang kering.
Selain membantu meningkatkan kelembapan lahan, hujan juga diharapkan dapat membantu meredam titik-titik api yang masih muncul serta mengurangi kepulan asap yang berdampak terhadap masyarakat.
Namun, upaya penanganan karhutla tidak hanya mengandalkan faktor cuaca.
Berbagai pihak tetap melakukan pemantauan, pencegahan dan pemadaman di lokasi-lokasi yang terdampak kebakaran.
Masyarakat juga diimbau meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran, terutama di tengah kondisi lahan yang kering.
Ritual sembahyang yang digelar umat Buddha dan Konghucu di Vihara Tjhie San Thong menjadi salah satu bentuk ikhtiar spiritual masyarakat menghadapi kondisi kabut asap.
Di sisi lain, upaya penanganan karhutla terus dilakukan melalui pengerahan petugas dan koordinasi berbagai pihak di lapangan.
Kedua ikhtiar tersebut berjalan beriringan. Masyarakat berharap penanganan kebakaran dapat terus dilakukan secara maksimal, sementara hujan segera turun untuk membantu mengakhiri kondisi kemarau dan kabut asap.
Dengan berbagai upaya tersebut, masyarakat Mempawah berharap langit kembali cerah, udara menjadi lebih bersih dan aktivitas warga dapat kembali berjalan normal.
Hujan yang dinanti bukan hanya diharapkan membawa kesejukan, tetapi juga menjadi harapan untuk membantu mengakhiri kepungan kabut asap akibat karhutla yang terjadi di Kalimantan Barat.
Djap Kuang Tang lebih akrab disapa Pak Atang saat menjabat sebagai Ketua Pengurus Yayasan Tjhie San Thong Mempawah.
Yayasan ini mengelola Vihara Tjhie San Thong yang terletak di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.
Rekam Jejak
Memimpin jajaran kepengurusan Yayasan Tjhie San Thong bersama wakilnya Zee Khouw.
Sekretaris Cen Po Hin
Bendahara Chang Ngie Hien