Oleh: Dolin Ladon
Kala gempa menghempas hebat
Satu per satu mendadak patah, runtuh
Jatuh berkeping-kemping
Yang lain tertinggal puing
Lainya lagi menghilang.
Lantas, Tuhan itu siapa disapa?
Adakah di mana?
Ataukah ke mana?
“ Siapa tidak bersalah hendaklah ia menjawab”
Sebab di antara reruntuhan
Ada doa yang belum usai dirapal
Ada nama yang belum sempat diingat
Ada pulang yang tak pernah sampai.
Bumi kembali diam
Tetapi manusia tak pernah benar-benar sama.
Bila nanti saatnya datang lagi
Dan taat kala kami kembali bertanya
Di mana Engkau?
Jawab-Mu semoga
“ke mana-mana, Aku ada di mana-mana”
Flores, 25 Agustus 2026
Baca juga: Puisi: Damailah di Perkemahan Langit
MIMPI SIALAN
Saban hari seorang anak membawa pergi mimpi orangtuanya
Terburu-buru ia meninggalkan rumah menemui maut
Dililitnya dengan tali
Digantungnya pada kayu
Ditutupnya rapat-rapat
Lalu dikuburnya dalam-dalam
Selesailah sudah, orangtuanya kehilangan mimpi menjadi orang hebat.
ULANGTAHUNKU
Kira siapa ini perayaan istimewa
Biasa saja.
Seperti ini, diulang-ulang pun tetap sama
Setelah ibu berdoa
Ayah meniup lilin
Dan aku hidup lagi
JAGA JARAK
Sesaat saja menatap
Sekilas saja memandang
Sebab cantik kerap menjelma jerat
Yang memikat lalu menyayat
Yang semerbak serentak merebak
Ia tak salah jadi cahaya,
Kita saja yang terlalu mendekat tanpa jaga
Semoga kita (1)
Semoga kita tak kunjung satu
Supaya rindu terus menggebu
Semoga kita (2)
Semoga kita tak selalu sejalan
Supaya sesat terasa wajar
Semoga kita (3)
Semoga kita selalu berbeda
Supaya kata selamanya merangkai kita.
Semoga kita (4)
Semoga kita tak lekas sampai
Supaya pulang tak kehilangan jalan
*) Dolin Ladon adalah Mahasiswa IFTK Ledalero Maumere, Flores - Nusa Tenggara Timur.