Tribunlampung.co.id, Lampung Timur - Musim kemarau panjang memukul sektor pertanian di Kabupaten Lampung Timur.
Baca Juga: Potensi Kekeringan Bendungan di Lampung Akibat Kemarau Panjang
Puluhan hektare lahan sawah di Desa Braja Yekti, Kecamatan Braja Selebah, terancam mengalami gagal panen akibat krisis air yang berkepanjangan.
Kondisi ini memaksa sejumlah petani memanen tanaman padi mereka lebih awal untuk dijadikan pakan ternak demi menekan kerugian.
Berdasarkan pantauan di lokasi, area persawahan tampak mengering dengan tanah retak-retak dan saluran irigasi yang kehilangan pasokan air.
Sebagian besar tanaman padi tumbuh tidak maksimal dan tidak berisi (gabug).
Padahal, bulir padi tersebut rata-rata ditanam sejak bulan Mei lalu.
Salah seorang petani terdampak, Nursaid, menuturkan bahwa dari total 1,25 hektare lahan miliknya, sekitar 0,25 hektare terpaksa dipanen dini.
Padi yang dipotong lebih awal tersebut tidak dapat dijual sebagai beras, melainkan dimanfaatkan untuk pakan ternak sapi.
"Dalam kondisi normal, lahan seperempat hektare bisa menghasilkan sekitar dua ton padi berkualitas baik. Namun tahun ini hasil panen dipastikan anjlok total, padahal modal awal untuk membajak lahan dan membeli pupuk sudah keluar," ujar Nursaid, Sabtu (29/8/2026).
Kondisi serupa dialami oleh Yanto, petani yang mengelola lahan seluas 2,5 hektare.
Dari total lahan tersebut, satu hektare di antaranya terdampak kekeringan parah dan terancam dipanen dini untuk pakan ternak.
Sementara itu, 1,5 hektare sisanya masih diupayakan untuk diselamatkan dengan mengandalkan irigasi sumur bor milik petani lain.
Meski demikian, upaya penyelamatan tersebut membutuhkan biaya operasional yang tidak sedikit.
Untuk mengairi lahan seluas 1,5 hektare, Yanto harus menyedot air selama 3 hari 3 malam nonstop dan menghabiskan sekitar 60 liter bahan bakar bensin atau setara Rp720.000,00.
Fenomena kekeringan ini diperkirakan melanda hampir separuh dari total 100 hektare area pertanian di kawasan tersebut.
Tanpa adanya intervensi pasokan air mendesak, para petani di Desa Braja Yekti terancam menderita kerugian finansial yang jauh lebih besar pada musim tanam kali ini.
"Saya bahkan harus menginap dan bermalam di sawah untuk memastikan aliran air dari sumur bor tetap mengarah ke lahan sendiri dan tidak berbelok ke sawah orang lain," kata Yanto.
(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/Fajar Ihwani Sidiq)