Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tri Widodo
TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI - Sumur di rumah yang mengering sejak awal Agustus membuat Sukini (65), warga Dukuh Bandung Kulon, Desa Bandung, Kecamatan Wonosamodro, Kabupaten Boyolali, harus mencari sumber air lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Setiap musim kemarau tiba, nenek tersebut mengandalkan air sungai yang berada sekitar 300 meter dari rumahnya.
Bukan sekadar mengambil air dari aliran sungai, Sukini bersama warga harus menggali lubang di dasar sungai untuk mendapatkan rembesan air yang masih tersisa.
Sabtu (29/8/2026) pagi, Sukini terlihat turun ke dasar sungai untuk mencuci pakaian sekaligus mandi.
Setelah selesai, ia membawa pakaian yang telah dicuci dan mulai menapaki jalan setapak menuju rumah.
Langkahnya tampak tertatih-tatih saat mendaki tebing sungai.
Di kepalanya, caping bambu masih terpasang untuk melindungi diri dari terik matahari.
"Rumah saya dekat sini. Di selatan sungai ini, ya kurang lebih 300 meter dari sungai ini," ujar Sukini.
Bagi Sukini, sungai tersebut menjadi salah satu sumber air yang bisa diandalkan ketika kemarau datang.
Kondisi berbeda terjadi pada sumur di rumahnya yang sudah tidak lagi mengeluarkan air.
"Ini sumur yang saya buat. Dulu ada leng (rongga) Yuyu (kepiting), terus saya gali. Alhamdulillah ada airnya," katanya.
Lubang yang dibuat di dasar sungai itu menyerupai sumur sederhana.
Air yang merembes dari dalam tanah kemudian ditampung di lubang tersebut untuk digunakan warga.
Kondisi sungai di lokasi itu sebenarnya cukup memprihatinkan.
Debit air yang mengalir sangat kecil. Air permukaannya tampak keruh dan dipenuhi lumut.
Warga bahkan menggambarkan kondisi air sungai tersebut seperti cendol dawet.
Baca juga: Nenek Sukini Tertatih Naik Jurang Usai Cuci Baju di Sungai, Sumur Rumah Mengering Sejak Awal Agustus
Namun, air yang terkumpul di lubang-lubang dasar sungai relatif lebih jernih dibandingkan air yang mengalir di permukaan.
Air tersebut kemudian digunakan Sukini untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk mencuci pakaian dan mandi.
Untuk membeli air dari PDAM, Sukini mengaku tidak mampu.
Karena itu, sungai menjadi pilihan ketika sumur di rumahnya mengering.
Kondisi tersebut bukan hanya dialami Sukini.
Sejumlah warga di sepanjang aliran sungai juga membuat lubang serupa untuk mencari air saat kemarau.
"Setiap kemarau pasti kami kekurangan air. Di sepanjang aliran sungai ini banyak warga yang buat sumur semacam ini," tuturnya.
Bagi warga, lubang-lubang kecil di dasar sungai tersebut menjadi penyelamat ketika sumur rumah mulai mengering.
Meski air yang diperoleh tidak banyak, mereka tetap memanfaatkannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Alhamdulillah airnya selalu ada. Dan sangat membantu," kata Sukini.
Kondisi itu membuat Sukini harus berulang kali turun ke dasar sungai setiap kali membutuhkan air.
Setelah mencuci atau mandi, ia harus kembali mendaki tebing dengan kondisi tubuh yang sudah tidak muda lagi.
Perjuangan tersebut terus dilakukan setiap kali musim kemarau datang. (*)