Untag Surabaya Kukuhkan 3.160 Maba, Xaviera Putri Bicara Masa Depan
Titis Jati Permata August 29, 2026 02:32 PM

 

SURYA.co.id, SURABAYA — Empat tahun masa kuliah dinilai bukan sekadar periode untuk mengejar gelar akademik, tetapi juga momentum menentukan arah kehidupan setelah lulus.

Pesan itu disampaikan Xaviera Putri kepada 3.160 mahasiswa baru Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya yang baru saja resmi menjadi bagian dari keluarga besar kampus.

Xaviera, yang dikenal sebagai salah satu peserta Clash of Champions, hadir memberikan motivasi dalam prosesi pengukuhan mahasiswa baru Untag Surabaya di Pelataran Gedung Fakultas Kedokteran Untag Surabaya, Sabtu (29/8/2026).

Prosesi tersebut menandai berakhirnya rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) yang berlangsung selama empat hari sekaligus menjadi awal perjalanan akademik ribuan mahasiswa baru.

Empat Tahun Jadi Momentum

Di hadapan mahasiswa baru, Xaviera mengajak mereka memanfaatkan masa perkuliahan sebaik mungkin.

Menurutnya, pengalaman dan keputusan yang diambil selama kuliah dapat memberikan pengaruh terhadap perjalanan hidup setelah lulus.

“Seluruh hidup kita mungkin pendek, tapi aku melihat kuliah itu sebagai turning point yang bisa membawa hidup kita ke arah yang lebih baik. Kalau kita tidak memanfaatkan empat tahun kuliah ini, menurut aku trajektori hidup kita setelahnya bisa berbeda banget,” ujar Xaviera.

Ia mengaku telah memiliki sejumlah target bahkan sebelum memasuki bangku kuliah.

Karena itu, mahasiswa baru didorong untuk tidak takut mencoba pengalaman baru, terutama pada tahun pertama.

“Kalau lagi maba, ini waktu yang tepat untuk mengambil banyak risiko, mengambil banyak tantangan,” katanya.

Namun, keberanian mencoba berbagai hal, menurut Xaviera, tetap harus disertai kemampuan menentukan prioritas.

Jangan Sekadar Ikut Banyak Kegiatan

Tahun pertama kuliah, kata Xaviera, merupakan fase yang tepat untuk melakukan trial and error.

Mahasiswa bisa mencoba berbagai aktivitas untuk mengetahui bidang yang paling sesuai dengan minat dan kemampuannya.

Meski demikian, berbagai kegiatan tersebut perlu dipetakan agar tidak justru mengganggu kewajiban akademik.

“Kalau aku mau ikut organisasi A, B, C, D, E, aku coba plotting. Semester apa aku kerjain, tahun berapa aku kerjain. Jadi ada arahnya, bukan sekadar dicoba, tapi tiba-tiba tidak ada waktu,” tuturnya.

Kenali Karakter Tiap Mata Kuliah

Xaviera juga menyarankan mahasiswa mengenali karakter setiap mata kuliah.

Kelas teori dan praktik, misalnya, membutuhkan pola pengelolaan waktu yang berbeda.

Menurutnya, mahasiswa juga perlu menghindari terlalu banyak context switching atau berpindah dari satu jenis aktivitas ke aktivitas lain dalam waktu berdekatan.

Pola tersebut dinilai dapat membuat mahasiswa lebih mudah kewalahan.

Di tengah padatnya aktivitas, ia juga mengingatkan mahasiswa tidak mengabaikan kebutuhan dasar seperti tidur cukup, makan teratur, dan memenuhi kebutuhan cairan tubuh.

“Tidur yang cukup, jaga pola makan, cukupin minum air putih, sama cukupin makan. Kelihatannya gampang, tapi percayalah kalau sudah sibuk banget, makan saja suka lupa,” ujarnya.

Untag Dorong Akademik dan Karakter

Rektor Untag Surabaya, Dr. Harjo Seputro, S.T., M.T., mengatakan kehadiran Xaviera diharapkan dapat memberikan gambaran kepada mahasiswa baru bahwa keberhasilan membutuhkan proses panjang.

Menurut Harjo, perjalanan Xaviera hingga mencapai pencapaian saat ini dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa untuk tidak mengharapkan keberhasilan secara instan.

“Biar mereka, Xaviera itu, menginspirasi adik-adik kita mahasiswa baru tentang bagaimana perjuangan sampai Saudara Xaviera bisa seperti sekarang ini. Perjalanannya juga prosesnya panjang, perjuangan yang sangat luar biasa,” ujar Harjo.

Ia berharap mahasiswa memahami bahwa kesuksesan tidak datang secara tiba-tiba.

“Biar menginspirasi adik-adik mahasiswa baru bahwa keberhasilan itu tidak langsung simsalabim, sulap langsung jadi, tapi harus berproses,” katanya.

Menurut Harjo, proses pendidikan di Untag Surabaya juga tidak hanya berorientasi pada kemampuan akademik. Pembentukan karakter mahasiswa turut dilakukan melalui berbagai aktivitas nonakademik.

“Pasti. Salah satu proses pembentukan karakter dengan kegiatan-kegiatan nonakademik. Kalau di kegiatan akademik kan lebih kepada keilmuannya. Jadi pendidikan karakternya pada kegiatan-kegiatan nonakademik,” jelasnya.

Maba Diminta Aktif di Kampus

Harjo meminta mahasiswa baru mengikuti seluruh proses pembelajaran, berani mencoba hal baru, aktif bertanya, serta membangun kemampuan berpikir kritis.

Mahasiswa juga didorong untuk aktif dalam organisasi kemahasiswaan.

“Harus ikuti semua kegiatan pembelajaran yang ada di kampus, harus berani mencoba, berani bertanya, harus berpikir kritis, kemudian ikuti organisasi kemahasiswaan,” tuturnya.

Untag Surabaya menyediakan 28 Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan 35 himpunan mahasiswa jurusan. Mahasiswa juga dapat bergabung dalam kelompok riset yang dikelola dosen sesuai minat masing-masing.

“Mereka memilih sesuai dengan minatnya masing-masing,” kata Harjo.

Pelayanan Jadi Perhatian Kampus
Selain pengembangan akademik dan karakter, Harjo menyebut pelayanan menjadi salah satu perhatian penting Untag Surabaya.

Menurutnya, kekompakan seluruh unsur kampus menjadi kunci agar mahasiswa mendapatkan pelayanan yang optimal.

“Rahasianya adalah kita kompak. Jadi semuanya berperan sesuai dengan fungsinya masing-masing,” ujar Harjo.

Ia menilai pengalaman mahasiswa selama berada di kampus juga berpengaruh terhadap citra perguruan tinggi. Kepuasan mahasiswa dan lulusan diharapkan dapat mendorong mereka merekomendasikan Untag Surabaya kepada keluarga, teman, tetangga, maupun adik kelas.

“Jadi kuncinya adalah di pelayanan,” tegasnya.

PKKMB Kurangi 8.400 Botol Plastik

Sementara itu, PKKMB Untag Surabaya 2026 juga membawa semangat ramah lingkungan melalui konsep eco-campus.

Ketua Pelaksana PKKMB Untag Surabaya 2026, Yusrida Muflihah, S.Kom., M.Kom., mengatakan panitia mengurangi penggunaan air minum kemasan botol selama rangkaian kegiatan.

Mahasiswa baru didorong membawa tumbler pribadi sehingga kebutuhan air minum tidak lagi dipenuhi menggunakan botol plastik sekali pakai.

“PKKMB tahun ini tidak lagi menggunakan air kemasan. Kami mendorong mahasiswa baru membawa tumbler pribadi. Dari acara besar ini, terbukti kami dapat mengurangi penggunaan botol plastik sebanyak 8.400 botol,” jelas Yusrida.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.