Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Perjuangan gigih tim pemadam Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) akhirnya membuahkan hasil manis, melalui skema gempur yang terintegrasi.
Baca juga: Karhutla 912 Hektare di TNWK Padam Total, OMC Berhasil Turunkan Hujan di Lampung Timur
Kombinasi taktis antara taktik penyemaian hujan alami serta gempuran bom air dari udara terbukti ampuh melumpuhkan sebaran titik api yang mengancam kawasan konservasi tersebut.
Pasukan gabungan dari unsur TNI, Polri, BPBD, hingga petugas taman nasional terus bersiaga penuh di lapangan guna mengawal keberhasilan penanganan darat.
Kerja keras tanpa kenal lelah ini berhasil melenyapkan seluruh titik panas berkepercayaan tinggi hingga menyentuh angka nihil pada hari ini.
Keberhasilan menurunkan ancaman api ini menjadi cerminan sinergi nyata seluruh personel dalam menyelamatkan ekosistem hutan dan satwa terlindungi di Lampung.
Perkembangan positif dalam upaya penanggulangan karhutla di Lampung Timur ini disampaikan langsung oleh Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Meteorologi Radin Inten II Lampung, Rudi Harianto.
"Kalau ditanya efektivitasnya, dua-duanya efektif karena memiliki skema penanganan yang berbeda," ujar Rudi menjelaskan dua metode utama yang diterjunkan atas arahan langsung Presiden melalui BNPB.
Rudi memaparkan bahwa Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) berfokus memicu hujan dari udara melalui penyemaian garam pada awan-awan potensial.
Sejak digulirkan pada 26 Agustus hingga 30 Agustus mendatang, armada OMC tercatat sudah merampungkan lima kali penerbangan dengan menyebar total 4 ton garam.
Di sisi lain, helikopter pengebom air (water bombing) bekerja secara presisi menyasar lokasi lahan yang sedang membara.
Helikopter mengambil pasokan air dari sungai atau waduk terdekat dan memuntahkannya tepat di atas obyek kebakaran.
Integrasi kedua skema ini terbukti efektif menekan luasan kebakaran dan melenyapkan titik panas (hotspot).
"Pantauan per hari ini jumlahnya sudah berkurang dibanding kemarin. Untuk hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi, kalau kemarin masih terpantau ada 4 titik, hari ini sudah tidak ada (nihil)," terang Rudi.
Meski pemantauan satelit BMKG menunjukkan tren positif, tim gabungan di lapangan tidak lantas melonggarkan pengawasan.
Petugas tetap diterjunkan untuk melakukan pemeriksaan langsung (groundcheck) di jalur darat demi memastikan tidak ada sisa bara api yang berpotensi memicu kebakaran susulan.
(Tribunlampung.co.id/Bayu Saputra)