BANGKAPOS.COM--Kericuhan yang terjadi di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, Kamis (27/8/2026) malam, menelan korban jiwa.
Seorang pedagang cermin bernama Bambang Setiyawan (59) meninggal dunia setelah ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri di tengah kericuhan.
Bambang diketahui merupakan warga Jalan Pejompongan Raya, Kelurahan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat.
Sehari-hari, ia mencari nafkah dengan berjualan cermin di pinggir jalan kawasan tersebut.
Ketua RT 002/06 Jalan Pejompongan, Aban Sobandi, membenarkan Bambang merupakan warganya yang menjadi korban dalam peristiwa tersebut.
Kericuhan terjadi setelah massa Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) menyelesaikan aksi demonstrasi di depan Gedung DPR RI dan membubarkan diri.
Dalam demonstrasi tersebut, massa menyuarakan sejumlah tuntutan, di antaranya pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset serta hukuman mati bagi pelaku tindak pidana korupsi.
Menurut Aban, situasi kemudian berubah menjadi ricuh ketika massa masuk ke kawasan permukiman Pejompongan dan terjadi bentrokan dengan warga.
“Memakan korban jiwa, satu orang,” kata Aban.
Bambang disebut tidak tergabung dalam massa aksi dan bukan merupakan peserta demonstrasi.
Kabar meninggalnya Bambang kemudian meninggalkan duka mendalam bagi keluarga. Putranya, Yoga Noval (29), mengaku memilih menerima kepergian sang ayah dengan ikhlas.
Yoga mengatakan dirinya tidak ingin menyimpan dendam kepada siapa pun dan menyerahkan proses hukum kepada pihak berwenang.
“Saya sudah ikhlas saja, udah pasrah. Ya udah, buat cerita saya saja sama keluarga. Pokoknya udah enggak ada dendam sama siapa-siapa,” ujar Yoga.
Bagi Yoga, kepergian sang ayah merupakan kehilangan besar. Namun, ia berusaha tetap tegar dan melanjutkan kehidupan bersama keluarga.
Baca juga: Jadwal Lengkap Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026, Singapura Jadi Ujian Pertama
Rumah duka Bambang turut didatangi sejumlah anggota DPR RI pada Jumat (28/8/2026).
Yoga menyebut anggota Komisi XIII DPR RI Rieke Diah Pitaloka dan Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade datang menyampaikan belasungkawa.
Andre Rosiade disebut datang mewakili Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad yang berhalangan hadir secara langsung.
Menurut Yoga, Andre menyampaikan pesan agar kasus yang menimpa ayahnya dapat diusut hingga tuntas.
“Pak Andre itu jadi perwakilan Pak Dasco. Harusnya Pak Dasco mau ke sini tapi diwakilkan sama Pak Andre,” kata Yoga.
“Beliau turut belasungkawa dan prihatin juga. Kalau dia tadi sih ngomong ya harus dicari pelakunya, diusut tuntas,” imbuhnya.
Di tengah kesedihan, Yoga masih mengingat sejumlah nasihat yang pernah disampaikan ayahnya.
Ia mengaku tidak memiliki firasat sebelum kejadian tersebut. Menurut Yoga, justru ibunya yang sempat merasakan firasat.
“Kalau untuk firasat, ibu yang ngerasain. Kalau saya enggak ada,” ujarnya.
Salah satu pesan Bambang yang terus diingat Yoga adalah agar selalu berbuat baik dan membantu orang lain yang membutuhkan.
Sang ayah juga mengajarkan pentingnya berbagi apabila memiliki rezeki lebih.
“Baik sama orang, bantuin orang kalau orang butuh bantuan. Terus sering beramal kalau punya uang lebih,” kata Yoga.
Nasihat tersebut kini menjadi kenangan yang akan terus dibawa Yoga setelah kepergian ayahnya.
Baca juga: 5 Caketum PBNU Kompak Dorong AHWA, Pemilihan Ketum di Muktamar NU Ke-35 Masih Buntu
Bambang selama ini mengandalkan usaha menjual kaca dan cermin untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Setelah sang ayah meninggal dunia, Yoga mengatakan usaha tersebut kemungkinan akan dilanjutkan oleh dirinya atau sang ibu.
“Kemungkinan saya atau ibu yang melanjutkan. Mau tidak mau harus diurus,” ujar Yoga.
Keputusan tersebut menjadi salah satu cara keluarga untuk mempertahankan usaha yang selama ini menjadi sumber penghidupan Bambang.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto membenarkan adanya korban jiwa dalam kericuhan di Pejompongan.
Saat ditemukan, Bambang dalam kondisi tidak sadarkan diri. Aparat kemudian memanggil petugas Dokkes Polda Metro Jaya untuk melakukan pemeriksaan.
Korban selanjutnya dibawa ke RS Mintoharjo Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, untuk mendapatkan penanganan medis.
Namun, nyawa Bambang tidak tertolong. Ia dinyatakan meninggal dunia di rumah sakit.
“Di rumah sakit yang bersangkutan meninggal dunia, kami sampaikan belasungkawa, warga kita berpulang,” kata Budi dalam konferensi pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Jumat (28/8/2026).
Jenazah Bambang kemudian dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi.
Polisi juga sempat mengajukan permintaan agar dilakukan autopsi untuk mengetahui penyebab kematian secara lebih jelas.
Namun, pihak keluarga menolak autopsi tersebut dan telah membuat surat pernyataan.
“Dibawa ke RS Polri diidentifikasi, dan kami tadi pagi bertemu anak almarhum yang bersangkutan tak bersedia autopsi, kami ajukan autopsi untuk mengetahui penyebab kematian tapi ditolak dan sudah keluarkan surat pernyataan,” jelas Budi.
Kasus meninggalnya Bambang menjadi perhatian di tengah penyelidikan aparat terhadap rangkaian kericuhan yang terjadi setelah aksi demonstrasi di kawasan Gedung DPR RI dan sejumlah titik di Jakarta Pusat.
(Tribunnews.com/Nuryanti/Rahmat Fajar Nugraha)