Laporan Wartawan Serambi Indonesia Indra Wijaya | Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Jangan menunggu semua keadaan menjadi sempurna untuk bergerak.
Seorang pemimpin justru dituntut berani mengambil keputusan, melakukan terobosan, dan mengubah berbagai keterbatasan menjadi solusi yang manfaatnya dirasakan langsung masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian dalam sambutan tertulis yang dibacakan Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan (Dirjen Bina Adwil) Kemendagri, Safrizal ZA, saat membuka Serambi Award 2026 bertajuk “Gebrakan Sang Pemimpin” di Gedung AAC Dayan Dawood, Banda Aceh, Sabtu (29/8/2026) malam.
“Lebih jauh lagi, kita membutuhkan pemimpin yang tidak menunggu semua keadaan menjadi sempurna untuk bergerak,” kata Safrizal.
Menurutnya kondisi dan tantangan yang dihadapi masyarakat membutuhkan sosok pemimpin yang mampu bergerak cepat serta mengambil keputusan secara tepat.
Namun, kemampuan tersebut harus dibarengi dengan kemauan untuk membangun kerja sama dan kolaborasi.
Baca juga: Gebrakan Sang Pemimpin, Malam Apresiasi Serambi Awards 2026 Dimulai
“Karena itu, kita membutuhkan sosok pemimpin yang mampu bergerak cepat, mengambil keputusan secara tepat, dan yang paling penting mampu bekerja secara kolaboratif,” ujarnya.
Ia menegaskan, keberhasilan seorang pemimpin tidak lahir dari kerja seorang diri.
Kepemimpinan merupakan hasil dari kolaborasi dan kerja berbagai pihak yang secara konstruktif mampu diorkestrasi untuk mencapai tujuan bersama.
Ia juga mengingatkan agar seorang pemimpin tidak hanya tampil ketika keberhasilan diraih, tetapi menghilang atau melempar tanggung jawab ketika terjadi kesalahan.
“Seorang belum layak disebut pemimpin bila saat berprestasi menunjuk dadanya sendiri. Tetapi ketika terdapat kesalahan, ia menunjuk wajah orang lain,” katanya.
Hal itu kata dia, menjadi refleksi penting bahwa kepemimpinan bukanlah variabel tunggal yang berdiri sendiri.
Baca juga: Kadispora Banda Aceh Ucapkan Selamat untuk Talenta Aceh, Reza: Jadi Inspirasi Liga SSB Kolaborasi
Setiap keberhasilan merupakan hasil kristalisasi dari kerja bersama, soliditas tim, serta dukungan berbagai pihak.
Dalam konteks Aceh, ia menyebut situasi bencana yang terjadi telah menjadi tempaan sekaligus ujian bagi para pemimpin.
Kondisi sulit tersebut justru melahirkan berbagai gebrakan yang didukung soliditas tim dan jajaran kerja.
“Situasi bencana telah menjadi satu tempaan, satu gemblengan kawah candradimuka, yang melahirkan berbagai Gebrakan Sang Pemimpin, yang didukung soliditas tim dan kerabat kerjanya,” ujarnya.
Karena itu, para pemimpin didorong tidak menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk tidak bertindak.
Sebaliknya, keterbatasan harus menjadi pemicu untuk melahirkan inovasi dan terobosan.
Baca juga: Kenduri dan Silaturahmi IKAMAS Banda Aceh, Bupati Aceh Selatan Ajak Masyarakat Bersatu Bangun Daerah
“Kita membutuhkan pemimpin yang berani melakukan terobosan dan mengubah keterbatasan menjadi solusi,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa setiap kebijakan pemerintah harus memberikan dampak nyata. Kebijakan tidak boleh berhenti pada angka-angka di atas kertas, tetapi harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
“Kita membutuhkan pemimpin yang menjadikan setiap kebijakan bukan sekadar angka di atas kertas, tetapi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” katanya.
Ia mengatakan semangat tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto dalam proses pemulihan pascabencana.
Pemerintah, menurutnya, tidak sekadar dituntut membangun kembali apa yang rusak, tetapi juga memastikan pembangunan pascabencana menghasilkan kondisi yang lebih baik dan lebih kuat.
“Kita ingin memastikan proses pemulihan bukan sekadar membangun kembali apa yang rusak, tetapi juga membangun kembali dengan lebih baik, build back better,” pungkasnya. (*)