Kenapa Nyamuk Semakin Banyak saat Kemarau? Ternyata karena Ini
GH News August 30, 2026 09:07 AM
Jakarta -

Apakah di tempat detikers masih banyak nyamuk? Ternyata keberadaan nyamuk yang banyak saat musim kemarau yang panas adalah hal lumrah. Kenapa?

Pada dasarnya, nyamuk lebih aktif dan berkembang biak pada musim hujan. Terlebih jika banyak air atau genangan yang bisa dijadikan tempat bertelur.

Namun, suhu yang menghangat saat kemarau juga memicu nyamuk keluar dari persembunyian. Saat tidak ada genangan air, nyamuk akan mencari tempat bertelur, termasuk ke rumah-rumah. Ini kenapa, saat kemarau nyamuk justru muncul banyak di rumah.

"Begitu cuaca menghangat, mereka terbang keluar dari area hibernasi mereka dan bertelur di mana pun mereka bisa," kata Rosalind Murray, Asisten Profesor dari Universitas Toronto Mississauga yang mempelajari serangga, dikutip dari UTM Toronto.

Telur Nyamuk Semakin Cepat Menetas pada Suhu Hangat

Murray menjelaskan bahwa telur nyamuk akan semakin menetas saat suhu semakin hangat. Perkembangan nyamuk menuju dewasa juga semakin cepat pada suhu hangat.

Misalnya, pada suhu 10 derajat, nyamuk-nyamuk dapat tumbuh dari telur hingga dewasa dalam waktu sekitar 40 hari, sedangkan pada suhu di atas 25 derajat, hanya dibutuhkan empat hari bagi nyamuk untuk tumbuh hingga dewasa. Di sisi lain, suhu hangat juga menyebabkan metabolisme nyamuk meningkat.

"(Ini) tergantung pada spesiesnya, nyamuk hidup selama beberapa hari atau beberapa minggu," ujarnya.

Maka itu, menghangatnya suhu global karena perubahan iklim bisa memicu peningkatan nyamuk. Murray khawatir, suhu yang menghangat bisa membawa spesies nyamuk yang berbahaya bermigrasi ke wilayah permukiman, terutama nyamuk yang berperan sebagai vektor demam berdarah, virus West Nile, atau virus Zika.

"Kita semakin sering melihat spesies tropis ini bermigrasi ke utara," ungkapnya.

Telur Nyamuk Pembawa Demam Berdarah Bisa Tahan Kondisi Kering

Peneliti entomologi atau ilmu serangga di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Awit Suwito, mengatakan bahwa nyamuk spesies Aedes aegypti (pembawa demam berdarah) bisa tahan terhadap kondisi kering. Meski lebih menyukai air jernih, telur spesies ini tetap bisa bertahan di tempat lembap.

Bahkan, saat mengering, telur bisa bertahan sampai musim hujan tiba.

"Telur nyamuk tahan akan kondisi kering sehingga, bila memasuki awal musim hujan, menciptakan genangan-genangan air yang memungkinkan telur tersebut melanjutkan siklus hidupnya," papar Awit, dikutip dari detikNews.

"Sehingga seolah-olah penambahan populasi nyamuk makin tinggi dan serempak," imbuhnya.

Fahri Zulfikar
Jurnalis detikcom. Bergabung dengan detikcom sejak 2019. Aktif meliput isu-isu pendidikan, iklim, riset & analisis, konten seputar Gen Z serta menyukai dunia sepak bola. Kini jadi penulis buku.
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.