TRIBUNNEWS.COM - Vonis kanker payudara kerap memicu ketakutan besar bagi kaum hawa, terutama kekhawatiran harus kehilangan seluruh jaringan payudara melalui operasi pengangkatan total atau mastektomi.
Padahal, seiring pesatnya perkembangan ilmu kedokteran, ketakutan tersebut tidak sepenuhnya benar karena mayoritas pasien justru memiliki peluang besar untuk mempertahankan bentuk payudara mereka.
Konsultan Senior dan Dokter Bedah Payudara dari Solis Breast Care & Surgery Singapura, dr. Lim Sue Zann, menegaskan bahwa diagnosis kanker payudara tidak otomatis mengharuskan tindakan mastektomi.
Baca juga: Tanda-tanda Tersembunyi Kanker Payudara, Benjolan Payudara Tanpa Sakit Bukan Berarti Aman
"Sekitar 75 persen pasien seharusnya masih bisa menjalani breast conservation (penyelamatan jaringan payudara)," ungkap dr. Lim dalam diskusi media di Jakarta Selatan, Sabtu (29/8/2026).
Pilihan metode operasi sangat ditentukan oleh stadium kanker saat pertama kali terdiagnosis. Semakin awal penyakit ini ditemukan, semakin luas pula opsi tindakan medis yang dapat diambil.
Dr. Lim menjelaskan bahwa penderita kanker payudara stadium 0 memiliki peluang kesembuhan hingga mendekati 100 persen.
Pada stadium 1 dan 2, jaringan payudara umumnya masih sangat memungkinkan untuk dipertahankan. Sebaliknya, penanganan pada stadium 3 menjadi jauh lebih kompleks.
Melalui teknik breast-conserving surgery, dokter bedah hanya akan mengukur dan mengambil bagian jaringan yang mengandung sel kanker dengan batas aman (clear margins), tanpa harus membuang seluruh payudara.
Meski menawarkan harapan tinggi, tindakan breast-conserving surgery memiliki kriteria yang wajib dipenuhi. Dr. Lim menekankan bahwa prosedur ini merupakan satu kesatuan paket medis yang tidak boleh dipisahkan dari terapi lanjutan.
"Pasien yang memilih breast-conserving surgery harus bersedia melanjutkan prosesnya dengan radioterapi. Ini adalah bagian wajib dari rangkaian penanganan untuk memastikan sel kanker tidak tumbuh kembali secara aman," jelasnya.
Selain berfokus pada pengangkatan massa tumor, dunia medis modern juga sangat memperhatikan aspek estetika dan psikologis pasien melalui teknik bedah onkoplastik.
Teknik ini memadukan pembedahan kanker dengan rekayasa estetika untuk meminimalkan bekas luka. Salah satunya dengan membuat sayatan tersembunyi di tepi area puting.
Bahkan, jika kondisi medis mengharuskan mastektomi total, pasien tidak perlu berkecil hati. Metode rekonstruksi payudara kini dapat dilakukan secara langsung dalam satu sesi operasi pembedahan.
"Rekonstruksi dapat menggunakan implan, jaringan otot, atau lemak tubuh pasien sendiri. Artinya, penanganan kanker payudara saat ini tidak lagi memaksa wanita untuk kehilangan bentuk tubuh mereka," pungkas dr. Lim.